Membangun Karakter Dokter Indonesia, Merajut Kembali Kesejawatan yang Meluntur dengan Nilai Pancasila

  • Whatsapp
Karakter Dokter Indonesia

Seorang dokter mempunyai peran sentral dalam memberikan pelayanan kesehatan. Maka dalam melaksanakan tugas keprofesiannya, seorang dokter harus mempunyai karakter 3 K, yakni Kesantunan, Kesejawatan, dan Kebersamaan. 3 K ini diwujudkan berdasarkan UU nomor 20 tahun 2013  tentang pendidikan kedokteran yang bertujuan menghasilkan dokter berbudi luhur, bermartabat, bermutu dan berkompeten.

Dokter Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dalam sistem pendidikan maupun pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan kata lain dokter adalah salah satu pilar dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang sehat dan sejahtera.

Read More

Tentunya dokter tidaklah sendirian, dalam prakteknya hal ini turut melibatkan tenaga kesehatan lainnya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini di Indonesia, para dokterlah yang menjadi lokomotif pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit, klinik dan puskesmas maupun dalam struktur pemerintahan di bidang kesehatan.

Dalam pasal 4 ayat 1 UU nomor 20 tahun 2013 Pasal 4 bahwa Pendidikan Kedokteran bertujuan:

  1. Menghasilkan Dokter dan Dokter Gigi yang berbudi luhur, bermartabat, bermutu, berkompeten, berbudaya menolong, beretika, berdedikasi tinggi, profesional, berorientasi pada keselamatan pasien, bertanggung jawab, bermoral, humanistis, sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial, dan berjiwa sosial tinggi.
  2. Memenuhi kebutuhan Dokter dan Dokter Gigi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkeadilan; dan
  3. Meningkatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran dan kedokteran gigi.
    Pendidikan Kedokteran merupakan salah satu unsur perwujudan tujuan negara yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui sistem pendidikan nasional yang berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang  Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Untuk menghadapi tantangan dan tuntutan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan globalisasi perlu dilakukan pembaruan Pendidikan Kedokteran secara terencana, terarah, dan berkesinambungan agar mampu menghasilkan Dokter, Dokter Gigi, dokter layanan primer, dokter spesialis-subspesialis, dan dokter gigi spesialis-subspesialis yang bermutu, kompeten, profesional, bertanggung jawab, memiliki etika dan moral dengan memadukan pendekatan humanistik terhadap pasien, dan berjiwa sosial tinggi.

Karakter Kesantunan artinya dokter yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik terhadap pasien, sejawat, dan tenaga kesehatan lainnya yang menjadi mitra kerja. Pada karakter ini dokter juga harus bertutur kata baik, sikap, dan bahasa tubuh yang baik.

Karakter Kesejawatan diartikan dokter yang menjunjung tinggi etika profesi, dan meningkatkan kemampuan serta kompetensi bidang kedokteran. Karakter Kebersamaan artinya interkonektivitas dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Yang penting sekali adalah dengan integritas, kita mau melakukan etos kerja baik yang bersifat gotong royong. Jadi harapan kita dokter Indonesia senantiasa menegakkan integritas profesi, menjadi yang terbaik, mengamalkan sumpah dokter, mematuhi standar etik profesi dokter, penguasaan pengetahuan, dan keterampilan.

Pendidikan Karakter Manusia Indonesia

Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya.  Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.

Pendidikan karakter sebagai usaha manusia secara sadar dan terencana. Menurut John W. Santrock, pendidikan karakter merupakan pendidikan dengan pendekatan langsung pada peserta didik dengan tujuan menanamkan nilai moral sehingga dapat mencegah perilaku yang dilarang.

Pendidikan karakter berhubungan erat dengan psikis individu. Dengan pendidikan karakter, dapat diajarkan pandangan tentang nilai-nilai kehidupan, contohnya kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, hingga keimanan.

Di Indonesia sendiri, dalam nawacita, disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Karenanya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggalakkan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sejak 2016 silam.
PPK mendorong adanya sinergi di antara tiga pusat pendidikan, yaitu:
• Sekolah
• Keluarga
• Komunitas

Nilai yang Diperoleh dari Pendidikan Karakter

Sesuai dengan dasar negara kita, Pancasila, ada lima karakter utama yang merupakan fokus pengembangan gerakan PPK, yaitu:

1. Religius

Karakter pertama yang berhubungan dengan iman kepada Tuhan yang Maha Esa ini diwujudkan dalam pelaksanaan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi toleransi terhadap pelaksanaan ajaran agama dan kepercayaan yang berbeda, juga hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Memiliki sikap anti perundungan, mencintai kedamaian, melindungi yang tersisih, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, membuka diri pada persahabatan, tidak memaksakan kehendak, dan tentu saja, toleransi, berarti karakter religius tertanam dengan baik dalam dirimu.

2. Nasionalis

Karakter kedua menggarisbawahi bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah di atas kepentingan diri dan kelompok semata. Untuk memperoleh pemahaman tersebut, yang harus menjadi perhatian adalah cara berpikir dan bersikap, serta kepedulian.
Seseorang dengan karakter nasionalis akan mengapresiasi kebudayaan bangsanya, kemudian menjaga dan menghormati kekayaan budaya tersebut. Di Indonesia yang beragam budaya, suku, dan agama, karakter ini begitu penting karena mampu menjadikanmu rela berkorban, disiplin, dan taat hukum.

3. Integritas

Karakter ketiga ini adalah nilai yang berdasar pada usaha seseorang memperbaiki dirinya agar dapat menjadi orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaannya. Di samping itu, seseorang dengan karakter ini juga memiliki komitmen serta kesetiaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan juga moral. Menunjukkan karakter integritas dalam dirimu dengan cara menunjukkan tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat kegiatan sosial, menghargai martabat orang lain, dan menunjukkan keteladanan.

4. Mandiri

Karakter keempat menunjukkan sikap tidak bergantung pada orang lain. Ketidaktergantungan ini dimaksudkan dalam mengarahkan tenaga, pikiran, dan waktu sendiri demi mewujudkan cita-cita. Memiliki karakter mandiri, berarti kita memiliki etos kerja yang baik, ketangguhan, daya juang, profesionalitas, kreativitas, dan keberanian.

5. Gotong royong

Karakter terakhir terlihat dari sikap menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu dalam menyelesaikan masalah bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, serta memberi pertolongan bagi orang yang membutuhkan.

Kesejawatan dalam Profesi dokter Indonesia

Sebelum sesorang  menjalankan profesi seorang dokter  wajib disumpah dengan mengucapkan lafal sumpah dokter. Sumpah Dokter Indonesia didasarkan atas Deklarasi Jenewa (1948) yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates.

Lafal Sumpah Dokter Indonesia pertama kali digunakan pada 1960 dan diberikan kedudukan hukum dengan Peraturan Pemerintah No.26 Tahun 1960.

Tentang Lafal Sumpah Dokter Presiden Republik Indonesia di pasal 1 yang berbunyi:

1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
2. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
3. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran.
4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai Dokter;
5. Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
6. Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan Keagamaan, Kebangsaan, Kesukuan, Politik Kepartaian atau Kedudukan Sosial;
7. Saya akan memberikan kepada Guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya; Teman-sejawat saya akan saya perlakukan sebagai saudara kandung;
8. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan; Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan Kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
9. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya

Dalam point ketujuh sumpah dokter ada mengakuan kesejawatan sesama dokter dengan memperlakukan sebagaimana seperti saudara kandung.

Dalam KODEKI ada kewajiban dokter dengan sejawat nya yaitu di pasal 18 dan 19 yang isinya Pasal 18 Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Pasal 19 Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan keduanya  atau berdasarkan prosedur yang etis.

Ciri Kesejawatan sebuah profesi:
• Merupakan ciri sebuah profesi
• Mempunyai kode Etik profesi
• Berbentuk nilai dan norma
• Bersifat kebersamaan, persaudaraan dan tolong menolong
• Apabila terjadi Penyimpangan dan pelanggaran mengakibatkan pengucilan (etik), sanksi hukum (norma)

Permasalahan kesejawatan saat ini:
• Terkikisnya rasa kesejawatan
• Kurang memahami nilai dan norma kesejawatan

Tantangan kesejawatan saat ini:

• Kompetisi tinggi antar sejawat
• Reorientasi pelayanan kesehatan
• Tuntutan manajemen fasilitas kesehatan
• Kekosongan peraturan dalam pelayanan kesehatan

Melunturnya kesejawatan di masa sekarang ini banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain liberisasi dan materilisasi pendidikan kedokteran, niat dan tujuan menjadi dokter, persaingan usaha dan perubahan perilaku dan nilai luhur kepribadian dan nilai pancasila akibat perubahan jaman apalagi di era revolusi industri 4.0.

Apabila dokter dalam menjalankan profesi kedokteran mampu menghayati dan menjalankan secara utuh sumpah kedokteran. Maka dokter tersebut telah menjadikan profesi dokter sebagai profesi mulia (nobile officium),  dan telah juga menjalankan nilai Pancasila.

Sebagai sistem nilai, Pancasila merupakan “base-values” dan sekaligus juga merupakan “goal-values”. Keseluruhan nilai-nilai dalam sistem nilai Pancasila itu dipersatukan oleh prinsip “kesatuan dalam perbedaan” dan “perbedaan dalam kesatuan” yang menjiwai struktur dasar keberadaan manusia dalam kebersamaan itu. Prinsip yang mempersatukan itu dalam lambang negara Republik Indonesia dirumuskan dalam ungkapan “Bhineka Tunggal Ika”.

Dalam profesi dokter ada tiga aturan dasar yang mengatur ruang lingkup dokter, yaitu:
1. Etika kedokteran;
2. Disiplin ilmu kedokteran; dan
3. Hukum (Hukum Pidana, Hukum Perdata, dan Hukum Administrasi

Sementara di sisi lain, menjadi hal penting untuk mengkaji profesi dokter dilihat dari nilai-nilai Pancasila sebagai kaidah dasar negara Indonesia.

Ini penting, dikarenakan selama ini secara garis besar pendidikan tentang Pancasila di negara ini mulai memudar, dan nilai-nilai Pancasila hanya dijadikan sebagai seremonial belaka ketika memperingati hari Pancasila.

Selain itu ketika dokter terkena masalah hukum karena dugaan kesalahan medis dokter (malpraktik dokter), masyarakat, internal dokter, menteri kesehatan, serta penegak hukum hanya sebatas melihat kasus semata, tanpa meneliti lebih jauh apakah dokter Indonesia dalam pendidikan kedokteran telah diberi pendidikan Pancasila, dan telah pula menjiwai nilai-nilai pancasila dalam setiap menjalankan profesi kedokteran.

Pancasila dalam Profesi Dokter

Profesi dokter dengan nilai-nilai Pancasila memiliki hubungan yang erat penulis melihat hubungan erat tersebut dipengaruhi oleh profesi kedokteran yangberkedudukan di wilayah negara Indonesia yang mana menjadikan Pancasila sebagai norma dasar bernegara.

Pancasila itu sendiri merupakan nilai universal yang sebenarnya tidak hanya diberlakukan bagi negara Indonesia saja, namun memiliki nilai universal yang bisa digunakan oleh profesi kedokteran yang ada di negara lain. Ini karena Pancasila memiliki nilai transedental yang dapat diaplikasikan dalam moral dan etika yang harus dimiliki oleh dokter untuk memberi pelayanan medis kepada pasien dengan sikap yang penuh hati nurani.

Namun dalam perjalanan profesi dokter pada saat sekarang nilai-nilai Pancasila terasa jauh dan krisis dari segala kegiatan profesi dokter. Pada dasarnya ini tidak hanya terjadi dalam profesi dokter, namun dalam profesi lain seperti advokat.

Pendidikan khusus profesi advokat sendiri tidak memuat Pancasila sebagai bahan pembelajaran bagi calon advokat. Seharusnya menjadi penting ketika nilai-nilai Pancasila dimasukan dalam pembelajaran profesi dokter pada khususnya, dikarenakan dalam menjalankan profesinya ke depan diwajibkan untuk memberikan pelayanan medis yang penuh hati nurani tanpa membedakan-bedakan,baik dari aspek sosial maupun ekonomi pasien.

Dalam menjalankan profesi dokter, baik secara personal maupuun secara organisasi, tidak bisa melepaskan nilai-nilai Pancasila. Ini karena nilai-nilai Pancasila memiliki kaitan dan pertanggungjawaban secara transedental kepada Allah Swt, serta dengan manusia itu sendiri sebagai wujud dari kemanusiaan yang adil dan beradab, atau dalam Islam dikenal dengan raḥmatan lil ’ālamīn, artinya keadiran manusia di muka bumi harus memberi manfaat bagi orang lain.

Menurut penulis, Pancasila yang merupakan nilai-nilai dasar bernegara harus dibangunkan kembali dari tidur yang panjang. Pancasila pada Orde Baru hanya dimanfaatkan oleh kekuasaan untuk mengamankan kekuasaan, dan bukan untuk tujuan membangun negara dan masyarakat dengan nilai-nilai Pancasila sebagai pijakan dasar bernegara, sehingga dampaknya sekarang nilai-nilai Pancasila terasa asing khususnya bagi profesi dokter itu sendiri.

Melihat usaha yang telah dilakukan oleh internal profesi dokter sendiri untuk menumbuhkan nilai pengabdian dokter kepada masyarakat belum dirasa cukup dikarenakan keuntungan ekonomi yang dijadikan tujuan utama oleh sebagian besar dokter.

Sehingga dengan beragamnya persoalan yang ada, sudah saatnya nilai-nilai Pancasila harus dijadikan sebagai paradigma yang termuat dalam proses pendidikan dokter. Penting kemudian agar Pancasila tidak hanya dijadikan sebagai seremonial belaka dalam setiap memperingati hari lahirnya Pancasila.

Pancasila sudah saatnya dijadikan sebagai sebuah paradigma keilmuan yang mendasar dan utama dalam setiap proses pendidikan dokter. Apabila nilai-nilai Pancasila tidak dimuat dalam pendidikan dokter, maka akan berdampak pada jauhnya nilai pengabdian bagi dokter sebagaimana dalam sumpah kedokteran, sehingga berdampak juga pada berkurangnya nilai etika kedokteran sampai pada ketidakmauan dokter yang mengabdi di daerah terpencil di seluruh wilayah negara kesatuan republik Indonesia.

Sejauh ini terlihat bahwa profesi dokter dalam menjalankan profesinya masih jauh dari nilai Pancasila itu sendiri, terlihat dengan masih banyak dokter yang tidak memiliki keinginan untuk mengabdi penuh hati nurani kepada masyarakat yang kurang mampu khususnya yang berada di daerah terpencil.

Dikarenakan motivasi sejak awal, yang hanya ingin mencari keuntungan ekonomi setelah menjadi dokter, dengan alasan biaya pendidikan dokter yang sangat mahal.

Hal disebabkan dokter dalam akademiknya hanya berfokus pada teori dan praktik medis, tanpa mempelajari dan menjiwai secara komprehensif nilai-nilai Pancasila yang seharusnya menjadi nilai dasar profesi dokter, selain sumpah kedokteran. Selain itu nilai Pancasila hanya dijadikan sebagai serimonial dan hanya untuk memenuhi syarat formil akademik dokter.

Perlunya menyusun kurikulum pendidikan dokter yang tidak hanya disusun berbasis akademik medis dokter dan berbasis nusantara, namun juga harus ditambahkan ataupun memasukan nilai dasar Pancasila dalam kurikulum pendidikan dokter dalam setiap tingkatan pendidikan dokter.

Sehingga di masa mendatang, dokter tidak hanya berwawasan akademik medis dokter dan nusantara saja, namun juga memiliki karakter nilai nilai Pancasila, serta tidak membeda-bedakan, baik dari sisi sosial dan ekonomi, maupun kewilayahan dalam memberikan pelayanan medis kepada masyarakat.

Distribusi Dokter Menentukan Kualitas Pelayanan Kesehatan

Kualitas pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat Indonesia belum terwujud sampai saat ini. Hal ini karena distribusi tenaga kesehatan, yakni dokter dan dokter spesialis, belum merata di seluruh daerah.

Rasio dokter umum itu cukup. Tapi kalau berbicara distribusi belum merata. Hanya 11 provinsi dari 33 provinsi yang memenuhi syarat. Rasio pelayanan kesehatan 11 provinsi itu cukup ideal, yaitu 1:2.500 atau satu dokter melayani 2.500 orang.

Menurutnya layanan kesehatan di daerah perkotaan, seperti Jakarta dan Yogyakarta, sudah baik. Kalau yang kurang ideal itu seperti di Nusa Tenggara dan Kalimantan. Papua juga masih kurang.

Staf Ahli Bidang Hukum Kesehatan Kemenkes RI Kuwat Sri Hudoyo  mengungkapkan distribusi dokter dan dokter spesialis di Indonesia belum merata karena beberapa faktor.

Salah satunya Peraturan Presiden Nomor 4 tahun 2017 mengenai Wajib Kerja Dokter Spesialis tak berlaku lagi. Meski demikian, upaya pemerintah mendistribusikan dokter dan spesialis secara merata terus berlanjut.

Perpres Nomor 31 tahun 2019 mengenai pendayagunaan dokter spesialis diharap bisa menempatkan spesialis ke puskesmas dan rumah sakit di daerah terpencil.

Perlu pemberian insintif tambahan untuk menstimulasi para dokter mau ditempatkan di daerah terpencil dan juga ada perlindungan hukum dan penegakan hukum terutama para dokter yang mendapat beasiswa dari pemerintah.

Demikian pokok pokok pikiran saya semoga bermanfaat

Banjarbaru . 19  September 2020
Penulis
Dokter Ahli Utama/Pembina Utama Madya
RSDI dan KLINIK UTAMA HALIM MEDIKA
Candidat Doktor Ilmu Hukum UNISSULA
Anggota Kongres Advokat Indonesia dan Ikatan Penasihat Hukum Indonesia
Ketua Bidang Advokasi Medikolegal PAPDI Cabang Kalsel.
NPA IDI : 133677

Abd Halim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment