Menakar Diksi Cinta Jangan Selesai

  • Whatsapp

Mari membicarakan persoalan mendasar dalam puisi. Persoalan yang bagi sebagian orang mungkin terasa remeh temeh, tidak menggunakan teori posmo yang berkelindan hingga mungkin terasa tidak kekinian, persoalan sederhana namun merambah wilayah hakikat. Mari membicarakan diksi.

Persoalan diksi atau pilihan kata adalah salah satu persoalan klasik dalam jagat perpuisian. Diksi menjadikan puisi mencapai substansinya sebagai sebuah puisi namun sekaligus menjadikannya eksklusif, membuat tak semua orang bisa membuatnya.

Read More

Hal ini sejalan dengan definisi puisi dalam buku The Literary Theory, Jonathan Culler. Puisi adalah penggunaan bahasa (kias) dalam jumlah berlimpah dan bertujuan kuat untuk melakukan persuasi terhadap pembaca (persuasi baca: mengkomunikasikan ekspresi puitis penulis hingga diselami dengan khusuk oleh pembaca).

Puisi menjadikan diksi sebagai bahan bakar utamanya. Dalam pandangan konvensional (kita mengabaikan hal-hal eksperimental dalam puisi), diksi adalah puisi itu sendiri.

Diksi dalam puisi paling tidak memiliki dua syarat utama, kepadatannya dalam mengartikulasikan ekspresi jiwa penulis, dan kemampuannya menjelma sebagai kata-kata dengan makna tersirat.

Bagian pertama merujuk pada bentuk puisi sebagai ungkapan bahasa yang padat makna. Mario Klerer dalam bukunya An Introduction to Literary Studies, menyatakan bahwa penggunaan bahasa puisi lebih daripada penggunaan situasi naratif yang kompleks.

Itu berarti satu situasi naratif yang kompleks yang dipadatkan dalam puisi mungkin hanya akan direpresentasikan oleh satu dua baris puisi.

Kata hujan dalam puisi tidak serta merta berarti hujan semata, ada runtutan ekspresi terkait peristiwa hujan yang mungkin mengikuti satu kata ini. Runtutan ekspresi yang diwakili oleh hujan ini barangkali jika dituangkan dalam ekspresi naratif akan terungkap dalam satu dua paragraf.

Hujan dalam satu baris puisi dapat berarti kesedihan mendalam dalam hati seorang perempuan yang terluka karena ditinggalkan oleh kekasih pujaan, hujan barangkali adalah lintasan-lintasan kenangan yang tak bisa diusir pergi meskipun telah berulang kali dilarung dalam laut perpisahan. Hujan sebagai puisi adalah kosakata yang padat, masif, dan intens.

Syarat kepadatan kata inilah yang memaksa penyair untuk terus menerus berdialektika dengan puisi yang sedang ditulisnya: adakah kata-kata percuma yang diumbar dalam puisi, adakah kata-kata yang membawa puisi keluar dari ekspresi yang seharusnya, adakah kata-kata yang keliru disampaikan.

Semua akan bermuara pada keinginan untuk meletakkan puisi dalam presisi yang tepat, bahwa satu kata akan mewakili sekian banyak ekspresi, bahwa satu kata secara memadai akan mampu merepresentasikan apa yang ingin disampaikan pada penikmat puisi tersebut.

Bagian kedua adalah rethorical figure atau gaya bahasa. Masih dalam buku Jonathan Culler, Literary Theory, A Very Short Introduction disebutkan bahwa gaya bahasa adalah perubahan atau pembelokan kata dari makna biasanya, yang berarti ada dikotomi antara makna tekstual dan makna non-tekstual dalam puisi.

Pembelokan makna dari teks ke non-teks ini dilakukan dengan berbagai cara, menggunakan simbol, metafor, simile, dan lainnya.

Kata pisau dalam sebuah puisi tak bisa hanya kita maknai secara tekstual sebagai pisau, benda tajam yang digunakan untuk memotong itu.

Pisau dapat berarti keinginan kuat untuk menyakiti, ia bisa berarti kebencian yang tak bisa dibendung, ia mungkin juga tuntutan rasa keadilan yang tak kunjung bisa dipadamkan.

Sebagai hal mendasar yang harus benar-benar diperhatikan dalam memilih diksi dan untuk kemudian dituliskan purna menjadi puisi, dua syarat di atas sering kali diabaikan oleh mereka yang menulis puisi.

Atas nama lisencia poetica, banyak yang menganggap apapun kata yang ditulis sebagai puisi adalah wilayah kemerdekaan ekspresi mereka yang tak bisa disentuh oleh sesiapapun.

Curhat panjang lebar di buku harian lalu diubah bentuk menjadi larik-larik kata, jadilah ia puisi. Tak peduli apakah di sana ada pemadatan kata, gaya bahasa atau hal penting lain terkait diksi.

Bagi sebagian orang, yang penting adalah apa yang ditulis secara kasat mata sudah tampak seperti puisi.

Lalu bagaimana orang-orang menulis puisi jika ada syarat memberatkan macam itu? Karena menulis puisi memang bukan pekerjaan sambil lalu dan sesuka hati, ya mau bagaimana lagi.

Para penyair pada akhirnya dituntut untuk mengendapkan pikiran-pikirannya, berkontemplasi, mengeksplorasi jiwanya untuk bisa membuat puisi yang sebenar. Itu sebabnya lazim kita pahami, tak semua orang bisa menulis puisi, dan tak semua orang layak disebut penyair.

Saat diminta mengulas puisi-puisi dalam kumpulan puisi Cinta Jangan Selesai yang merupakan antologi bersama beberapa penulis, Yose S. Beal (sebagian besar puisi), HE Benyamin, Nora Lelyana, Linda Utami, Sri Naida, dan Septi A.S. Abdullah, saya mencoba melihatnya melalui diksi-diksi yang digunakan, melihat bagaimana pemadatan kata dan gaya bahasanya.

Setelahnya, satu hal yang dapat saya simpulkan, saya hanya menemukan sejumlah kecil puisi yang benar-benar memerhatikan dua syarat diksi ini dalam penulisan puisi-puisinya.

Sebagai sebuah apresiasi, saya akan menghadirkan dua di antaranya,

Puisi pertama

Kejernihan Tak Tersesat

(HE. Benyamine)

 

Bercerita daun-daun pada angin

Rindu pohon bergelora, tetap diam

Ranting, dahan, akar menahan gempa terpandam

Demam tinggi, kulit kayu mendekap dingin

 

Hujan badai mengisahkan kegelisahan pohon

Kemarau tak mengeringkan air kerinduan

Daun-daun kering terjun bebas, melepaskan beban

Tunas-tunas meluapkan kasih tetap bertahan

 

Seberapa kuat berdiri tegak, tetap diam

Kejernihan tak tersesat, biarpun akar terpendam

Tatapanmu alur mantra mendekam

Kau tahu, di mana menemukanku merawatmu tersenyum

Banjarbaru, 22 Januari 2017

 

Puisi di atas menunjukkan kebijaksanaan yang cukup baik dalam pemadatan kata dan penggunaan gaya bahasa.

Saat membaca puisi di atas, kita tak langsung mengetahui secara gamblang puisi ini tentang apa, layaknya membaca berita di koran atau artikel di sebuah majalah.

Kita akan merasa perlu mengendapkan kata demi kata, menafsirkannya perlahan, membuka cakrawala kemungkinan apa yang dibicarakan di dalam puisi itu.

Kita menikmati kata demi kata, membayangkan bagaimana daun bisa bercerita pada angin, bagaimana pohon bisa memendam rindu yang bergelora, bagaimana tunas meluapkan kasih.

Kita juga akan menerka-nerka apa makna di balik tiap lariknya, karena kita tahu bahwa kata-kata yang dihadirkan memiliki kisah tersembunyi. Karena kita tahu kejernihan sebagai satu kata sifat yang pasif takkan mungkin tersesat layaknya manusia. Itu adalah metafor, dan ada makna di sebalik itu.

Puisi kedua

Bawa Keringatku

(Yose S. Beal)

 

Jalananmu lurus bergelombang membuat mual

Tanah yang kering seolah muka berhias rona sumringah

Pada ujung-ujung pohonan jati, kutemukan keluh kesahmu

 

Pada nyala api abadi, terasa panasnya hatimu

Kami tidak mengotorinya, begitu ucapanmu

Bukan air kau dapat, tapi lendir hitam

Tak dapat diminum, membuat tangan licin

Baunya kami tak tahan, juga sulit membersihkannya

 

Terheran dengan apa yang bisa kau lakukan

Segerombolan orang kecil berhasrat raksasa menyerbu

Datang menipu katanya kita tak mampu

Menimba air berlendir hitam pekat itu

Mereka minta boleh untuknya dan kita mau

Oh… Cepu tanah gersang adalah tangismu

Ibumu memberi air susu kehitaman, melihatnya kita tak mampu

Sekarang bersabarlah menunggu datangnya waktu

Menyesap sisa air susu yang berharga

Semoga tersisa untuk anak cucu

Cepu – Sep 2016

 

Meski tak sekuat puisi pertama dalam pemadatan kata dan penggunaan gaya bahasa, puisi ini  menunjukkan konsistensi penggunaan bahasa simbolik yang cukup baik.

Ya, puisi di atas kaya dengan simbol-simbol yang merepresentasikan satu entitas tertentu. Usaha pemaknaan dalam otak pembaca segera aktif untuk mencoba mengasosiasikan simbol-simbol tersebut dengan realitas tertentu yang masuk dalam skema pengetahuan pembaca.

Kata lendir hitam, atau manusia raksasa dalam konteks blok Cepu, tentu akan membawa pemahaman kita pada kondisi kilang minya di sana dan orang-orang di daerah itu.

Maka dengan pemahaman itulah kita akhirnya dapat menikmati puisi dengan kelezatannya, kepedihannya, duka dan bahagianya. Merayakan kehadirannya dalam jangkauan inderawi kita. Demikianlah kiranya.

Wallahua’lam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *