Menakar ‘Kemesraan’ ULAMA DAN UMARA, Andin Sofyanoor dan KH. Syarif Bustomi

  • Whatsapp
Kemesraan Andin Sofyanoor dan Guru Oton
"Kemesraan" Andin Sofyanoor dan Guru Oton

Sebagian orang mungkin melihat peristiwa pemilihan kepala daerah adalah sesuatu yang biasa saja. Rutin dilakukan setiap 5 tahun sekali dan selalu ada momentum para pasangan calon berkampanye. Bagi saya, justru ada hal menarik untuk dicermati ketika melihat para pasangan calon di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Dari ketiga pasangan yang sudah ditetapkan KPU Kabupaten Banjar, semua pasangan ternyata adalah kombinasi antara Ulama dan Umara.

Seperti kebanyakan orang ketahui, Kabupaten Banjar yang beribukota Martapura, adalah sebuah kabupaten yang karakter masyarakatnya agamis. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya jumlah pondok pesantren, julukan Martapura sebagai serambi mekkah, dan banyaknya penggunaan tulisan kaligrafi di beberapa ruang publik.

Read More

Dari situ dapat diketahui bahwa kebutuhan pemimpin dari unsur ulama memang sangat dibutuhkan dan insya Allah, kebutuhan akan ulama untuk menjadi pemimpin di Kabupaten Banjar mendatang sudah terpenuhi setelah melihat semua kandidat yang akan berkompetisi. Siapa pun dari ketiga pasangan tersebut, ulama tetap menang.

Ulama dan Umara

Menjadi lebih menarik jika obrolan ringan ini jika ditarik ke dalam ranah hubungan islam di ruang publik demokrasi, keterkaitan pemimpin dan ulama. Bukankah dari ketiga pasangan calon pemimpin di Kabupaten Banjar, sependek pengetahuan saya, masing-masing didampingi oleh Umara.

Dalam terminologi islam, Kata ulama berasal dari kata kerja (fi’il) ‘alima ya’lamu ‘ilman, artinya mengetahui. Alim ialah orang yang mengetahui atau berilmu, dan bentuk jamak dari alim ialah ulama.

Pemakaian istilah ini dipertegas oleh sebuah hadits, “Sesungguhnya ulama adalah ahli waris para Nabi “ (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Sementara sebutan Umara dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari amir, artinya orang yang menyuruh atau memberi perintah. Kata Ulama dan Umara keduanya adalah Bahasa Arab yang kini sudah masuk dalam kosa kata Bahasa Indonesia. Ulama ialah orang yang ahli tentang agama Islam. Sedangkan umara disebutkan sebagai pemimpin pemerintahan.

Terkait antara ulama dan umara tersebut, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan “Ada dua golongan di antara umat manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah seluruh manusia, dan apabila kedua golongan itu rusak maka rusaklah seluruh manusia, yaitu ulama dan umara” (HR. Abu Nu’aim).

Dengan kata lain, Islam dapat tegak dalam kehidupan masyarakat di sebuah wilayah bila antara ulama dan umara saling menghormati, menghargai, harmonis, serta bekerjasama dengan niat ikhlas untuk kebaikan umat seluruhnya.

Imam al-Ghazali mengatakan, “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan, dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan.” (Ihya’ Ulumuddin II hal. 381).

Ungkapan di atas jelas menggambarkan betapa pentingnya Ulama dan Umara untuk saling ‘mesra’ dalam memimpin demi kebaikan rakyatnya.

Kemesraan Andin Sofyanoor dan KH. Syarif Bustomi

Kenapa saya harus menulis tentang pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Banjar yang mendapat nomor urut 2 ini? Jawabannya sederhana, dari semua calon yang ada, saya hanya mengenal dua orang tersebut. Selain itu, menurut saya, hanya pasangan DR. Andin Sofyanoor, SH, MH dan KH. Syarif Bustomi (Guru Oton) lah yang kerap tampil dalam berbagai pemberitaan dan ramai dibicarakan di media sosial. Tentu saja ini memudahkan seorang penulis seperti saya untuk mengamati sekaligus beropini.

Seringnya ‘kemesraan’ Andin Sofyanoor dan KH. Syarif Bustomi di ruang publik, bisa diartikulasikan bahwa pasangan ini jauh lebih siap dan matang untuk mengusung konsep kepemimpinan mereka. Artinya, sudah klop berbagi peran antara Ulama dan Umara.

Kesiapan itu sebenarnya bisa dilihat oleh siapa saja, terbuka untuk siapa saja, melalui sebaran konten baik di Facebook, Youtube dan Instagram. Dalam banyak kesempatan, Andin Sofyanoor dan KH. Syarif Bustomi sering bersama baik dalam acara formal dan non formal. Selain itu, kemesraan Andin Sofyanoor dengan para ulama lainnya pun juga sering terjadi.

Bahkan saya sempat menonton tayang video ketika mereka berboncengan sepeda motor. Dalam tayangan tersebut, Andin Sofyanoor berada di posisi depan dan KH. Syarif Bustomi dengan wajah ceria berada di belakang. Ngenggg…! Mesra banget …!

Keharmonisan semacam itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Ini bukan melulu soal pencitraan, tapi juga patut diapresiasi bahwa mereka berdua benar-benar siap jika dipercaya masyarakat Kabupaten Banjar untuk menjadi pemimpin periode selanjutnya untuk mewujudkan Banjar Kembali Bersinar.

Melalui gambaran kemesraan tersebut, dalam kepemimpinan nanti, saya yakin mereka akan saling melengkapi dan berjuang mewujudkan apa yang menjadi cita-cita besar untuk kemaslahatan masyarakat Kabupaten Banjar dari segala aspek.

Jujur saja, kemesraan semacam itu sangat penting untuk dilakukan oleh para calon pemimpin karena bagaimana akan memimpin dengan baik jika tak saling mesra!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *