Mengapa Kita Tertawa Ketika Mendengar Jokes Bapak-bapak?

  • Whatsapp
Mengapa Kita Tertawa Ketika Mendengar Jokes Bapak-bapak?

JOKES bapak-bapak seringkali membuat saya berpikir, mengapa tebak-tebakan yang teramat garing macam “Kucing apa yang selalu benar? Kucing Gak Wrong.” bisa membuat perut saya keram menahan tawa dan muntah dalam waktu yang sama.

Lawakan yang oleh dunia humor Amerika disebut sebagai dad jokes ini disebut sebagai lelucon murahan dan/atau bodoh yang dibuat-buat oleh seorang ayah untuk anak-anaknya.

Read More

Sayangnya, dalam dunia yang tidak lucu ini, dad jokes alias humor bapak-bapak-yang-berusaha-melucu-tapi-garing tersebut tidak saja dilontarkan oleh bapak-bapak dalam arti yang sesungguhnya.

Teman saya, misalnya, ia lahir tahun 1997, satu tahun lebih muda dari saya. Tetapi soal jokes, ia sungguh mengalahkan kegaringan ayah saya sendiri yang secara usia  lebih pantas untuk melemparkan lelucon murahan tersebut.

Namanya tidak begitu penting untuk disebut, yang jelas ia juga tergabung dalam BanaranMedia.com sebagai tim desain dan bahkan pernah menulis pula di sini.

Pernah, suatu sore, saat saya berada di kosnya. Ia bilang mau keluar  sebentar. Saya tanya ke mana, ia bilang mau beli mi. Oke, saya nitip mie Soto Banjar, jawab saya yang memang sedang lapar.

Lima menit. Sepuluh menit. Satu jam. Dua jam. Dia tidak jua kembali–padahal jarak antara kos dan warung tak sampai lima menit berjalan kaki. Saya bingung. Perut meraung meminta makan. Sehabis maghrib dia baru datang, sambil senyam-senyum dia memberikan mie Soto Banjar pada saya.

“Beli mie di Jakarta, ya?” tanya saya memperolok–jelas dalam Bahasa Banjar.

Menjawab pertanyaan itu, dia menyebutkan salah satu toko handphone terbesar yang ada di kota kami.

Saya terdiam bingung.

Beberapa detik setelahnnya dia mengeluarkan Xiomi 3s. Ponsel baru.

“Mi,” ucapnya–seperti berusaha menjelaskan punchline dari jokes yang ia katakan pada saya beberapa jam sebelum detik itu berlangsung.

Demi mendengar penjelasan itu, sambil menahan lapar, saya tertawa terpingkal-pingkal dan melontarkan sumpah serapah di waktu yang bersamaan padanya.

Di hari-hari lain, dia memang sering melemparkan jokes-jokes super garing semacam itu kepada kami, teman-teman di lingkungannya.

“Selera humor kamu beda universe,” begitu biasanya kami bilang padanya saban kali membuat lawakan. “Usia paling muda, lawakan bapak-bapak!”

Istilah dad jokes konon pertama kali muncul ke publik pada tahun 1987 dengan pencetus yang bernama Jim Kalbaugh.

Saat itu, Kaulbaugh yang bekerja sebagai penulis di Gettysburg Times menyebut dad jokes beserta contohnya. Selain itu, ia juga mengajak pembaca agar melestarikan guyon tersebut setiap perayaan Hari Ayah Sedunia.

Di berbagai belahan dunia, jokes bapak-bapak tersebut juga tak kalah terkenal dan memusingkan. Masyarakat Jepang misalnya menamai lawakan tersebut dengan sebutan oyaji gyagu yang berarti “candaan orang tua”, sementara di Korea, sejak tahun 2015, lawakan serupa masyhur dikenal sebagai ajae gaegeu. 

Dengan beragam bentuk dan penamaan di berbagai negara, dad jokes mempunyai dampak yang sama pada para pendengarnya: sakit perut menahan tawa dan muntah.

Tapi, mengapa, ya, kita bisa tertawa pada sesuatu yang jelas-jelas garing parah tersebut?

Teman saya sendiri, yang garing itu, menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sangat logis;

“Orang tidak menertawakan leluconnya, tetapi pada ketidaklucuannya itu sendiri.”

Mendengar jawaban itu, saya diam sambil berpikir; ini jawaban serius apa bakal ngelawak ya?

Sampai sekarang, saya belum dapat lucunya, tapi setiap mengingat jawaban itu, di kepala saya terus terbayang wajahnya ketika menyampaikan lawakan tersebut–dan saya terpingkal-pingkal tanpa alasan.

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *