Mengenang Bilik Sepi Rindu Lewat Prangko

  • Whatsapp
Prangko Presiden dan wakil presiden
Edisi Prangko Presiden dan wakil presiden (Foto: Hudan Nur)

Kita sudah menanggalkan kebiasaan itu, bertukar kabar sesama kolega, sahabat, dan keluarga lewat surat. Adakah kecepatan yang musykil kita ingkari? Ketika mengirim cerita diantarkan sebuah alat yang bernama prangko, waktu berdetak sekian jam memburu jeda berhari-hari…

ZAMAN melangkah lagi memasuki babak baru, teknologi mutakhir yang bergelimang digitalisasi, adaptasi internet, jejaring media sosial yang bersisian dengan semua lini kehidupan. Adakah yang kita tanggalkan di belakang sana? Kebiasaan yang pernah tandang dalam komunikasi, penyambung silaturahmi yang menjadi tali penaut kedekatan seseorang?

Read More

Saya mencoba mengurai ingatan di sela-sela sisa gerimis yang tandang sejak petang tadi. Tentang sebuah hobi yang kini mulai tidak didengar lagi, sebuah kebiasaan yang tidak sezaman yaitu filateli. Suatu aktivitas mengumpulkan prangko, atau benda-benda pos yang kebanyakan mengutamakan pengumpulan edisi lama. Semakin lama usia benda tersebut maka nilainya semakin tinggi.

Di antara sisa percikan hujan yang turun ke teras rumah, saya mencoba mengumpulkan kenangan yang terselip dalam lipatan waktu. Dulu, gegap masa begitu pelan berjalan, bumi serasa lambat berputar. Titian waktu, datang berjeda dengan denting jam yang datang dipenuhi ikhtiar, kesabaran yang harap. Menanti surat, iring-iringan penantian serasa begitu mematri.

 Prangko, apa kabarmu?

Pertanyaan yang sebenarnya mengalami penolakan untuk dijawab. Gegap waktu telah mengantarkan surat ke ruang nun, bilik sepi yang sudah enggan disinggahi. Siapa yang masih bersetia menulis surat, menulis tangan lalu mengirimkan lewat prangko?

Hujan datang lagi, setelah dicandai gerimis. Riang hujan, menghujani kenangan laman surat, koleksi-koleksi perangko yang saat ini pelan saya resapi dalam albumnya. Rasanya, dua puluh tahunan silam prangko masih lekat dalam kebiasaan para filateli dalam memburu koleksi. Adakalanya, anjangsana ke galeri pameran yang dilaksanakan Post Indonesia menjadi moment yang paling ditunggu-tunggu, atau semacam pertemuan kopi darat untuk sesama filateli yang sehobi.

Adakah lagi orang-orang mutakhir yang menulis surat lalu mengirimkannya dengan prangko? Masih adakah?

Prangko edisi

Pada Oktober 2019 dirilis prangko edisi penyair Indonesia oleh pihak Kominfo yang sejak 2018 telah digaungkan media massa, yaitu dua penyair besar kita Raja Ali Haji (Bapak Bahasa Melayu) sang penjaga marwah bahasa Melayu dan Chairil Anwar kreator yang menjadikan bahasa Indonesia demikian trengginas, modern, dan dinamis. Hanya saja sampai hari ini sejak pandemi covid-19 melanda dunia, di seluruh kantor post cabang maupun pusat Banjarbaru tidak saya temukan seri tersebut.

Ada keinginan besar untuk mengoleksinya dan menaruhnya di tempat yang terhormat dalam album prangko. Beberapa waktu yang lewat, saya mengirimkan sepucuk surat untuk seseorang, sahabat pena yang jauh di belahan timur Asia. Saya hanya mendapati prangko nominal Rp. 2.500,00 yang kusam.

Sepertinya sudah lama helaian-helaian halaman prangko itu tidak terjamah. Lalu saya beli 8 potong dan menempelnya sambil menanyakan prangko edisi kepala Negara, pemerintahan Joko Widodo – Ma’ruf Amin yang dilantik pada 2019.

Pegawai yang melayani saya tersenyum dan bingung. Barangkali hanya sayalah yang menanyainya dengan pertanyaan yang demikian, di zaman yang serba cepat.

Prangko seperti bekicot malang yang dilindas waktu dan terlupakan. Surat untuk sahabat saya itu sampai di saat pandemi yang mulai melandai di gelombang pertama negaranya di minggu keempat setelah surat berprangko berlayar dengan daya, kekuatannya menolak zaman.

Prangko Presiden dan Wakil Presiden

Saat ini hujan mulai mereda, saya menengok gawai mencari informasi lagi tentang prangko presiden dan wakil presiden. Menjelang usia satu tahun kepemerintahan Jokowi – Ma’ruf yang diterjang cobaan wabah saya tidak menemukan informasi yang dirilis atau sekadar bayang-bayang harapan yang dilayangkan kominfo pusat.

Aghh…

Sambil melihat senyum simpul Donald Trump di prangko, saya melepas harap. Barangkali semua sedang gagap, pandemi yang melanda semacam mimpi buruk yang tidak pernah diharapkan kedatangannya. Aghh… kau tahu, saya diam-diam di sini masih membentangkan ruang kenang yang diisi oleh prangko-prangko. Perjuangan mereka mengantarkan kisah, harapan yang menautkan kesabaran untuk terus berlayar dalam situasi menunggu.

Aghh…

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *