Menyelamatkan Bumi, Menyelamatkan Manusia

  • Whatsapp
Save Meratus

Islam adalah agama yang ramah lingkungan dari pengertian Islam yang rahmatan lil alamin. Allah Swt menciptakan bumi untuk manusia hidup di dalamnya dan mengambil manfaat padanya. Namun karena keserakahan manusia mereka berbuat apa saja untuk mengambil isi bumi lebih banyak dari keperluannya sehingga berakibat pada kerusakan. Bahkan Allah Swt. menegaskan dalam al-Qur’an potensi kerusakan bumi itu adalah dari manusia sendiri.

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Read More

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar Rum:41)

Menurut Ibnu Abbas dan Ikrimah, kalimat al-Bahri artinya ialah negeri-negeri dan kota-kota yang terletak di pinggir sungai. Setelah membaca pendapat Ibnu Abbas kepala saya langsung teringat Kalsel yang di juluki sebagai Kota Seribu Sungai yang sedang darurat tata ruang hutan karena beralih menjadi tambang dan sawit.

Namun sebagai makhluk yang diberikan oleh Allah Swt keistemewaan akal untuk berpikir, ada saja cara manusia supaya tidak dikatakan sebagai perusak dimuka bumi, dengan berkilah bahwa perbuatan mereka adalah baik untuk memajukan ekonomi dengan cara tambang, sawit dan batubara namun tanpa ada reklamasi setelahnya dan ditinggalkan begitu saja.

Hal seperti ini juga sudah ada Allah peringatkan dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 11:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Tafsir ayat di atas tersebut ditunjukan kepada orang munafik yang menyebabkan kerusakan di muka bumi, kemudian mereka mengelak bahwa yang dilakukan adalah untuk sebuah perbaikan padahal tidak demikian. Menurut saya pengusaha tambang itu telinga mereka sudah kebal dari peringatan semacam ini. Walaupun begitu kampanye tagar #Savemeratus tidak boleh padam.

Apapun alasan mereka untuk mengelak tetap saja perbuatan seperti itu berdampak pada kerusakan alam akibat dari kerukan tambang, penabangan pohon, pembukaan lahan, semua bermuara kepada rusaknya tatanan ruang. Apalagi jika mengingat data dari Walhi, wilayah Kalsel yang luasnya 3,7 Hektar hampir 50% di kuasai oleh perusahaan tambang batubara dan kelapa sawit.

Banjir yang menyerang Kalsel tahun ini bukan hanya disebabkan oleh curah hujan dalam beberapa waktu terkahir, namun juga disebabkan oleh kerusakan tanah akibat kerukan tambang, sehingga tidak adanya wadah penampungan air akibat dari degdradasi tanah. Namun mengapa tidak ada sedikitpun Pemerintah menyinggung banjir ini akibat rusaknya lingkungan di daerah hulu akibat tambang.

Agar Pemerintah tidak hanya berasumsi bahwa banjir Kalsel akibat dari hujan yang turun berhari-hari sehingga air sungai meluap, saya mau memberikan sedikit masukan alangkah bagusnya jika Pemerintah buat saja Tim Investigasi Banjir, yang meneliti mengapa banjir tahun ini menjadi brutal dan tidak hanya mengambinghitamkan hujan dan sungai yang dangkal.

Sudah saatnya banjir ini dijadikan sebagai renungan atas apa yang telah manusia lakukan terhadap alam, inilah waktu  yang paling tepat menurut saya buat bahan eavuluasi terhadap izin tambang yang beredar di wilayah Kalsel. Jangan sampai banjir ini menjadi obyek politik dengan menjanjikan banjir akan mudah di atasi apabila di pilih rakyat jadi Pemimpin.

Selagi air masih tergenang ini adalah waktu yang tepat Pemerintah menganalisa kenapa banjir bisa sebesar ini. Atau Pemerintah hanya akan berhenti setelah mengatakan banjir adalah akibat meluapnya sungai Barito (daerah hilir) yang berdampak banjir di daerah hulu, masa iya dari bawah (hilir) air naik ke atas (hulu) kemudian turun lagi kebawah (hilir). Apa mungkin airnya lagi gabut jadi bolak-balik gitu.

Mari kita berdoa bersama semoga banjir besar tahun ini tidak menjadi agenda tahunan.

***

Biodata Penulis

Nama  : Ahmad Rasyid, SH

TTL : Malintang, 29 April 1997

Alamat: Jl. Sekumpul Gg. Keluarga Kel. Tanjung Rema Darat Kec. Martapura Kab. Banjar, Kalimantan Selatan

No. WA : 085828129306

Email    : ah.rasyid97@gmail.com

Pendidikan : S1 Jurusan Ahwal asy-Syakhsiyyah IAI Darussalam Martapura dan sedang melanjutkan Program S2 Jurusan Hukum Keluarga di UIN Antasari Banjarmasin

Riwayat Organisasi :

  1. Anggota Dewan Mahasiswa (DEMA) IAI Darussalam Staf Ahli Lingkungan Hidup Periode 2016-2017
  2. Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Syari’ah Periode 2017-2018
  3. Mantan Ketua Umum Mahasiswa Islam Pecinta Alam (MAHIPA) IAI Darussalam Martapura Periode 2018-2019
  4. Anggota Pengurus Kabupaten Federasi Arung Jeram Indonesia Kabupaten Banjar (Pengkab FAJI Banjar) Periode 2020 – Sekarang

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *