Merawat IDI Sebagai Rumah Besar Dokter Indonesia di era 4.0

  • Whatsapp
Ikatan Dokter Indonesia
Ikatan Dokter Indonesia

Perjuangan para dokter tidak lekang dan pupus semanjang masa, disetiap generasi masih ada dan selalu ada yang tetap konsisten dengan idealisme penjuangannya. Sejak jaman kebangkitan nasional diawal abad 19 sampai sekarang era 4.0 ini peranan dokter sangat menentukan.

Disamping itu dokter bisa dibilang merupakan salah satu profesi yang paling diidamkan dan profesi yang luhur dan mulia (Officium Nobile) Profesi luhur adalah profesi yang menekankan pada pengabdiannya untuk masyarakat, dengan motivasi utama sebagai pelayanan pada manusia atau masyarakat bukan untuk memperoleh nafkah dari pekerjaannya.

Read More

IDI sebagai organisasi profesi dokter ini memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan negara dalam lingkup dokter menjalankan profesinya.

Revolusi Industri 4.0 merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Di Indonesia sendiri, perkembangan teknologi dan informasi terjadi begitu cepat. Dampak era industri 4.0 ini tentu sengat besar bagi dunia pendidikan, sosial budaya, kesehatan dan perilaku di masyarakat dan aspek hukum.

Legalitas Organisasi Profesi Dokter

IDI (Ikatan Dokter Indonesia) didirikan sekitar 70 tahun yang lalu , tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1950. IDI adalah satu-satunya organisasi Profesi bagi dokter di seluruh wilayah Indonesia seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Praktek Kedokteran No.29 tahun 2004 pasal 1 ayat 12 yang menyatakan bahwa Organisasi profesi dalam UU ini adalah Ikatan Dokter Indonesia untuk dokter dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia untuk dokter gigi.

Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan dan menyatakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai satu-satunya organisasi profesi kedokteran yang sah di Indonesia. Keberadaan IDI sebelumnya digugat oleh sejumlah dokter ke MK karena menganggap ada praktik monopoli yang dilakukan IDI dalam mengeluarkan sertifikasi profesi dokter.

Sekilas Sejarah berdirinya IDI

Organisasi kedokteran tersebut awalnya bermula dari perhimpunan yang bernama Vereniging van lndische Artsen tahun 1911, dengan tokohnya adalah dr. J.A.Kayadu yang menjabat sebagai ketua dari perkumpulan ini. Perkumpulan tersebut kemudian berubah menjadi Vereniging van lndonesische Geneeskundige atau disingkat VIG. Nama-nama seperti dr. Wahidin, dr, Soetomo dan dr Tjipto Mangunkusumo ikut bergerak dalam bidang sosial dan politik di sini.

Pada tahun 1948 lahir perkumpulan dokter Indonesia yang berfungsi sebagai organisasi perjuangan kemerdekaan. Dengan dasar semangat persatuan dan kesatuan, akhirnya dua organisasi kedokteran tersebut meleburkan diri dan membentuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Pada 24 Oktober 1950, Dr. R. Soeharto atas nama Pengurus IDI menghadap notaries R. Kadiman guna mencatatkan pembentukan IDI yang disepakati berdasarkan Muktamar Dokter Warga Negara Indonesia. Sejak saat itu tanggal tersebut ditetapkan sebagai ulang tahun IDI

Tujuan Dasar Perjuangan IDI

Dalam AD ART IDI Pasal 7 disebutkan Tujuan dari Organisasi IDI adalah :
1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Memadukan segenap potensi dokter di Indonesia, meningkatkan harkat, martabat, dan kehormatan diri dan profesi kedokteran di Indonesia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia menuju masyarakat sehat dan sejahtera.
Pasal 10 Fungsi Ikatan Dokter Indonesia berfungsi sebagai pemersatu, pembina dan pemberdaya dokter di Indonesia.

Pasal 11 Peran Ikatan Dokter Indonesia adalah organisasi yang mendorong
peningkatan peran dokter yang meliputi peran profesional medis, agen pembaharu (agent of change), dan pelaku pembangunan (agent of development) di bidang kesehatan.

Dalam rangka mencapai tujuan dan peran IDI, maka dilaksanakan usaha usaha seperti diamatkan Pasal 8 dan AD ART IDI untuk Membina dan mengembangkan kemampuan untuk meningkatkan profesionalisme dan peran sebagai agen pembaharu (agent of change) serta agen pembangunan (agent of development) terutama dalam advokasi kesehatan, melalui :
1. Memelihara dan membina terlaksananya sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia.
2. Meningkatkan mutu pendidikan profesi kedokteran, penelitian dan pengembangan ilmu kedokteran, serta ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kedokteran.
3. Memperjuangkan dan memelihara kepentingan serta kedudukan dokter di Indonesia sesuai dengan harkat dan martabat profesi kedokteran.
4. Bermitra dengan semua pihak terkait dalam pengembangan kebijakan kesehatan.
5. Memberdayakan masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatannya.
6. Mengadakan hubungan kerjasama dengan badan-badan lain, pemerintah atau swasta, di dalam negeri atau di luar negeri yang mempunyai tujuan yang sama atau selaras.
7. Melaksanakan usaha-usaha untuk kesejahteraan anggota.
8. Melaksanakan usaha lain yang berguna untuk mencapai tujuan sepanjang tidak bertentangan dengan sifat dan dasar organisasi.

Hak dan Kewajiban Anggota IDI sesuai pasal 7 dan 9 ART IDI

Hak Anggota
1. Anggota biasa berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul atau pertanyaan dengan lisan dan atu tertulis kepada pengurus, mengikuti semua kegiatan organisasi, dan memiliki hak pilih dan dipilih
2. Anggota muda, anggota luar biasa, dan anggota kehormatan berhak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul, pertanyaan lisan atau tertulis kepada pengurus, dan mengikuti semua kegiatan organisasi, tetapi tidak mempunyai hak pilih dan dipilih.
3. Tiap anggota berhak mendapat perlindungan dan pembelaan dalam melaksanakan tugas IDI dan atau pekerjaan sebagai dokter.

Kewajiban Anggota
1. Membayar uang pangkal dan iuran anggota
2. Anggota biasa dan anggota luar biasa berkewajiban menjunjung tinggi dan mengamalkan sumpah dokter dan kode etik kedokteran Indonesia, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, serta segala peraturan dan keputusan IDI.
3. Anggota muda dan anggota kehormatan berkewajiban mematuhi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, segala peraturan dan keputusan IDI, serta selalu menjaga dan mempertahankan kehormatan IDI.

Per Februari 2019 seperti di idi online jumlah anggota IDI terdaftar 161.000 orang. Merupakan organisasi terbesar dari profesi apapun. Setiap orang yang mau menjalankan profesi dokter wajib menjadi anggota IDI untuk mendapatkan rekomendasi, sertifikat kompetensi dan STR serta SIP. Hingga akhir 2017, Indonesia memiliki 83 Fakultas Kedokteran dengan disparitas kualitas di seluruh wilayah Indonesia dan setiap tahun memghasilkan ribuan dokter baru dan otomatis menjadi anggota IDI bagi yang ingin berpofesi sebagai dokter.

Adalah beban yang sangat berat bagi para sejawat yang dipercaya untuk menjadi pengurus organisasi profesi ini, dibutuhkan orang yang mempunyai kemampuan lebih, mampu memberikan waktu luang yang banyak untuk berbuat untuk kemajuan dan pencapaian tujuan organisasi. Dibutuhkan sejawat dokter yang merupakan seorang yang negarawan dan manegerial yang handal dan berwibawa untuk membawa organisasi yang besar ini bisa solid dan berpengaruh.

Tantangan Profesi Dokter di Revolusi Industri. 4.0 dan peran IDI

Salah satu tujuan dari pembentukan organisasi IDI seperti dimuat dalam pasal 7 AD ARTnya yaitu memadukan segenap potensi dokter di Indonesia, meningkatkan harkat, martabat, dan kehormatan diri dan profesi kedokteran di Indonesia, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan rakyat Indonesia menuju masyarakat sehat dan sejahtera.

Revolusi Industri 4.0 ini mengintregasikan antara teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Dampak era revolusi industri 4.0 adalah dalam penerapannya tidak lagi memberdayakan tenaga kerja manusia, sebab semuanya sudah menerapkan konsep otomatisasi.

Dengan demikian tingkat efektifitas dan efisiensi waktu bisa meningkat. Dimana waktu merupakan hal vital dalam dunia industri. Disamping manfaat revolusi industri 4.0 terhadap bidang perindustrian, manfaat teknologi juga bisa dirasakan oleh semua orang termasuk bidang pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan yang berbasis teknologi informasi. Saat ini akses informasi sangat mudah dan bisa dilakukan kapan dan di mana saja dengan adanya jaringan internet.

Bidang kesehatan merupakan unsur yang penting dalam kehidupan manusia. Selain itu, teknologi akan selalu berubah dan berkembang. Jika kita tidak dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan, kita akan berada di belakang persaingan. Dengan mengetahui perkembangan teknologi terkini di bidang kesehatan, diharapkan tenaga kesehatan dapat mengikuti perkembangan terkini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Telemedicine dan Telehealthservice nantinya bukan suatu kenisyaaan lagi dan ini sangat merubah perilaku masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan dan dokter. Selain itu, terdapat potensi telemedicine yang dieksplorasi oleh banyak penyedia layanan kesehatan. Pengobatan lansia yang mengidap penyakit kronis diharapkan dapat terbantu oleh adanya telemedicine.

Kedepannya cek-up medis dimungkinkan untuk dapat dilakukan di rumah warga sendiri dengan nyaman. Selain itu, masyarakat terpencil bisa mendapatkan perawatan medis melalui telemedicine. Kombinasi teknologi fisika, digital dan biologi termasuk pil untuk mengatur pelepasan obat, robot yang menanggapi pikiran pasien serta psikoterapi secara virtual reality dapat tergabung dalam suatu aplikasi medis di masa depan.

Hal ini menyiratkan bahwa upaya penyedia layanan kesehatan untukmengintegrasikan Revolusi Industri 4.0 ke dalam kebiasaan hidup mereka perlu ditingkatkan. Jika penyedia layanan kesehatan tidak kunjung siap, peran dan bisnis mereka akan diambil alih oleh pasukan dari startups digital.

Peran organisasi profesi IDI, MKEK dan juga KKI sangat penting dalam mengantipasi persoalan etika dan hukum dalam pelaksanan profesi dan praktek kedokteran di era 4.0 ini. Perlu adanya reformasi dalam aturan hukum yang progresif sehingga para dokter mendapatkan perlindungan hukum yang mempunyai kepastian hukum dan berkeadilan.

Disamping itu dalam pembinaan anggota baik untuk meningkatkan kompetensi dan keilmuan para anggota IDI dan koordinasi antar pengurus dan anggota penggunaan webinar, telemedicine membuat hambatan menjadi lebih mudah dan murah.

Manajemen Organisasi IDI yang Efesien dan Efektif

Manajemen adalah pengelolaan tatalaksana penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuannya. Manajemen merupakan suatu rangkaian aktivitas yang meliputi perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian) yang diarahkan pada sumber-sumber daya organisasi (manusia, finansial, fisik, dan informasi) untuk mencapai tujuan organisasi dengan cara yang efektif dan efisien.

Masing-masing orang dapat memandang manajemen sesuai dengan cara pandang mereka. Walaupun berbeda dalam cara pandang, namun konsep manajemen tetap mengacu pada perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian.

Manajemen yang efisien tidak akan membuang-buang sumber daya secara cuma-cuma dalam melaksanakan kegiatannya. Suatu kegiatan tidak efisien jika organisasi menggunakan sumber daya melebihi jumlah yang diperlukan. Penentuan efisiensi terpisah dengan efektivitas: Misalnya sebuah organisasi dapat efektif dalam mencapai tujuan yang ditetapkan untuk kegiatannya, tetapi masih belum efisien. Sebaliknya, organisasi yang efisien mungkin belum efektif jika gagal mencapai tujuan target kegiatannya.

Sebagai ilustrasi bahwa organisasi yang berhasil adalah yang efisien dan efektif. Misalnya, suatu perusahaan dapat memproduksi televisi hitam putih dengan efisien tapi tidak akan berhasil karena televisi hitam putih tidak lagi populer. Perusahaan yang menghasilkan produk yang tidak diinginkan orang adalah perusahaan yang tidak efektif.

IDI sebagian organisasi besar dan satu satunya organisasi untuk profesi dokter yang jumlah anggota sangat besar dengan latar belakang anggota yang komplik dan sangat heterogen baik dari suku, rasa, agama, tingkat pendidikan dan keilmuan, untuk mencapai tujuan organisasi harus menerapkan sistem managemen modern yang menempat para pengurusnya yang mempunyai kemampuan berorganisasi, punya visi dan misi yang visioner jauh kedepan sehingga bisa membawa dan mengantarkan organisasi bisa bersaing dan tetap eksis dalam menjalankan fungsi organisasinya.

Dalam sistem pembangunan bidang kesehatan di Indonesia, salah unsur sangat penting adalah keberadaan dokter. Pendayagunaan dokter dengan pemerataan distribusi dokter yang adil dalam masyarakat sangatlah penting. Namun sampai sekarang ini masalah pemerataan distribusi dokter baik dokter umum maupun dokter Spesislis belum memberikan rasa keadilan baik bagi masyarakat maupun bagi dokter itu sendiri. Liberalisasi dan komersialisasi dalam sistem pendidikan dokter, mahalnya biaya yang dikeluarkan seseorang untuk menjadikan seorang dokter baik dokter umum maupun Spesialis salah satu penyebab maldistribusi dokter. Berkurang nilai nilai kemanusian dan nilai etika serta nilai luhur pancasila dalam era moderisasi ini perlu mendapat perhatian juga oleh organisasi IDI sebagai penjaga anggotanya.

Kondisi dan isu yang berkembang saat ini

Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara IDI dengan pemerintah dalam hal ini menteri kesehatan saat ini terasa ada ganjalan dan permasalahan, padahal seharusnya hal ini tidak boleh terjadi karena diperlulan harmonisasi hubungan yang baik dan mesra antara organisasi ini demi keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan.

Kasus kemelut dan kontroversi pengangkatan anggota KKI yang dinilai menjadi ganjalan hubungan ini, adanya abuse of power dan nuansa balas dendam sang menteri terhadap keputusan MKEK IDI terhadap kasusnya terdahulu dan juga ada nuasa Kolusi dan Nepotisme dalam pengangkatan pejabat dikementerian dan di KKI.

Beberapa pernyataan sang menteri yang tidak terlalu berpihak ke sejawatnya dan bahkan ada indikasi menyalahkan seperti pada kasus meningkatnya jumlah kematian dokter akibat covid 19 yang sampai tanggal 2 September 2020 ini sudah diangka 103 dokter yang wafat. Kurangnya sense of crisis dan empati sang menteri ini juga membuat suasana hati yang tidak nyaman dalam hubungan ini.

Terlihat dalam acara berdoa bersama atas 100 meninggalnya dokter yang diadakan oleh PB IDI dan BPBN, sang menteri kesehatan tidak hadir. Padahal acara itu di hadiri oleh Menko PMK dan ketua komisi penanggulan Covid 19 dan PEN bapak Erick Tohir. Juga dihadiri banyak tokoh nasional dan tokoh lintas agama. Juga diikuti oleh ribuan dokter seluruh indonesia.

Disamping itu ada beberapa point yang penulis terima dari tokoh dan pengurus IDI wilayah dan juga menjadi kritikan anggota IDI kepada Pengurus organisasi IDI :
1. IDI belum dirasakan sebagai rumah bersama, anggota jauh dari keterlibatan di organisasi, jadi IDI seperti tempat kantor administrasi rekomendasi SIP dan membayar iuran
2. Peran IDI dalam kesejahteraan anggota masih kurang
3. PB IDI masih menjadi pentas sekelompok kecil pengurus, tidak merupakan orkestra nusantara
4. Peran IDI sebagai partner pemerintah tidak berjalan baik, ada hambatan komunikasi atau IDI lemah dalam mengambil peran.
5. Diantara sekelompok kecil pengurus , ada yg baper baperan,saling tidak suka, bersaing panggung, bangga banggaan , hebat hebatan yg pada akhirnya memecah belah dan tidak menguntungkan organisasi
6. Adanya dokter yang pintar , mempunyai potensi dan berkarya cendrung mencari jalan sendiri
7. Selalu ada yg mengambil keuntungan diri dan kelompok , dengan memakai nama IDI
8. Ada kelompok yang ingin IDI lemah, dengan mengurangi perannya
9. PB IDI lebih sering ikut acara seremonial dan lemah dalam eksekusi
10. Komunikasi dengan cabang dan dokter dokter sudah lama menjadi penghambat
Demikian artikel ini bisa menjadi bahan diskusi untuk tetap menjadikan IDI sebagai rumah besar dokter yang ” baiti jannati”.

Banjarbaru 03 September 2020
Penulis
Dokter Ahli Utama/Pembina Utama Madya
RSDI dan KLINIK UTAMA HALIM MEDIKA
Anggota Kongres Advokat Indonesia dan Ikatan Penasihat Hukum Indonesia
Ketua Bidang Advokasi Medikolegal PAPDI Cabang Kalsel.
NPA IDI : 133677

Abd Halim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *