Merenkontruksi “Teman Sejawat ” dalam Sumpah Dokter dan Pasal 18 KODEKI dalam tinjauan paradigma kontruktivisme dan hukum progresif “Asas Kemanfaatan”

  • Whatsapp
Merenkontruksi "Teman Sejawat " dalam Sumpah Dokter dan Pasal 18 KODEKI dalam tinjauan paradigma kontruktivisme dan hukum progresif "Asas Kemanfaatan"
Ilustrasi | net

Sejarah Sumpah Dokter

Sumpah Dokter Indonesia adalah sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter Indonesia secara resmi. Sumpah Dokter Indonesia didasarkan atas Deklarasi Jenewa (1948) yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates.

Deklarasi Jenewa diterima oleh Majelis Umum dari Asosiasi Kedokteran Dunia (World Medical Association) pada 1948 di Jenewa dan diperbaiki pada 1968 di Sydney. Deklarasi ini berisi tentang dedikasi para dokter pada tujuan kemanusiaan, sebagai reaksi dari tindakan jahat medis yang dilakukan para dokter saat masa Nazi Jerman. Deklarasi ini dapat dianggap sebagai versi modern dari Sumpah Hippokrates.

Read More

Sumpah Hippokrates adalah sumpah yang secara tradisional dilakukan oleh para dokter tentang etika yang harus mereka lakukan dalam melakukan praktik profesinya. Sebagian besar orang menganggap bahwa sumpah ini ditulis sendiri Hippocrates pada 400 tahun sebelum masehi atau oleh salah seorang muridnya. Seorang peneliti, Ludwig Edelstein mengajukan pendapat lain bahwa sumpah tersebut ditulis oleh Pythagoras. Akan tetapi teori ini masih diragukan karena sedikitnya bukti yang mendukungnya.

Lafal sumpah Hippocrates

Lafal Asli, diterjemahkan dari bahasa Yunani.

1. I swear by Apollo Physician and Asclepius and Hygieia and Panaceia and all the gods and goddesses, making them my witnesses, that I fulfil according to my ability and judgement this oath and this covenant. Saya bersumpah demi (Tuhan) … bahwa saya akan memenuhi sesuai dengan kemampuan saya dan penilaian saya guna memenuhi sumpah dan perjanjian ini.

2. To hold him who has taught me this art as equal to my parents and to live my life in partnership with him, and if he is in need of money to give him a share of mine, and to regard his offspring as equal to my brothers in male lineage and to teach them this art-if they desire to learn it-without fee and covenant; to give a share of precepts and oral instruction and all the other learning of my sons and to the sons of him who instructed me and to pupils who have signed the covenant and have taken an oath according to medical law, but to no one else. Memperlakukan guru yang mengajarkan ilmu (kedokteran) ini kepada saya seperti orang tua saya sendiri dan menjalankan hidup ini bermitra dengannya, dan apabila ia membutuhkan uang, saya akan memberikan, dan menganggap keturunannya seperti saudara saya sendiri dan akan mengajarkan kepada mereka ilmu ini bila mereka berkehendak, tanpa biaya atau perjanjian, memberikan persepsi dan instruksi saya dalam pembelajaran kepada anak saya dan anak guru saya, dan murid-murid yang sudah membuat perjanjian dan mengucapkan sumpah ini sesuai dengan hukum kedokteran, dan tidak kepada orang lain.

3. I will use treatment to help the sick according to my ability and judgment, but never with a view to injury and wrongdoing. neither will I administer a poison to anybody when asked to do so, not will I suggest such a course. Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak akan pernah untuk mencelakai atau berbuat salah dengan sengaja. Tidak akan saya memberikan racun kepada siapa pun bila diminta dan juga tak akan saya sarankan hal seperti itu.

4. Similarly I will not give to a woman a pessary to cause an abortion. But I will keep pure and holy both my life and my art. I will not use the knife, not even, verily, on sufferers from stone, but I will give place to such as are craftsmen therein. Juga saya tidak akan memberikan wanita alat untuk menggugurkan kandungannya, dan saya akan memegang teguh kemurnian dan kesucian hidup saya maupun ilmu saya. Saya tak akan menggunakan pisau, bahkan alat yang berasal dr batu pada penderita(untuk percobaan), akan tetapi saya akan menyerahkan kepada ahlinya.

5. Into whatsoever houses I enter, I will enter to help the sick, and I will abstain from all intentional wrongdoing and harm, especially from abusing the bodies of man or woman, slave or free. Ke dalam rumah siapa pun yang saya masuki, saya akan masuk untuk menolong yang sakit dan saya tidak akan berbuat suatu kesalahan dengan sengaja dan merugikannya, terutama menyalahgunakan tubuh laki-laki atau perempuan, hamba atau bebas.

6. And whatsoever I shall see or hear in the course of my profession, as well as outside my profession in my intercourse with men, if it be what should not be published abroad, I will never divulge, holding such things to be holy secrets. Dan apa pun yang saya lihat dan dengar dalam proses profesi saya, ataupun di luar profesi saya dalam hubungan saya dengan masyarakat, apabila tidak diperkenankan untuk dipublikasikan, maka saya tak akan membuka rahasia, dan akan menjaganya seperti rahasia yang suci.

7. Now if I carry out this oath, and break it not, may I gain for ever reputation among all men for my life and for my art; but if I transgress it and forswear myself, may the opposite befall me. Apabila saya menjalankan sumpah ini, dan tidak melanggarnya, semoga saya bertambah reputasi di masyarakat untuk hidup dan ilmu saya, akan tetapi bila saya melanggarnya, semoga yang berlawanan yang terjadi.

Lafal Deklarasi Jenewa

Pada waktu diterima sebagai anggota profesi medis:

1. Aku dengan tulus berjanji untuk membaktikan hidupku demi pelayanan kemanusiaan;

2. Aku akan memberikan kepada guruku hormat dan terima kasih yang semestinya;

3. Aku akan mempraktikkan profesiku menurut hati nurani dan martabat; kesehatan pasienku akan menjadi pertimbanganku yang pertama;

4. Aku akan menghormati rahasia yang dipercaya padaku, bahkan setelah pasien meninggal;

5. Aku akan mempertahankan dengan segala cara yang kukuasai kehormatan dan tradisi-tradisi luhur dari profesi medis; kolegaku akan menjadi saudaraku;

6. Aku tak akan mengijinkan pertimbangan agama, ras, politik, kepartaian, atau status sosial mencampuri antara kewajibanku dan pasienku;

7. Aku akan mempertahankan rasa hormat setinggi-tingginya untuk kehidupan manusia, mulai dari permulaannya, bahkan bila terancam, dan aku tak akan menggunakan pengetahuan medisku bertentangan dengan hukum-hukum kemanusiaan.

8. Aku mengikrarkan janji-janji ini dengan tulus hati, bebas, dan atas kehormatanku.

Lafal Sumpah Dokter Indonesia

Untuk Lafal Sumpah Dokter Indonesia pertama kali digunakan pada 1960 dan diberikan kedudukan hukum dengan Peraturan Pemerintah No.26 Tahun 1960. Sumpah mengalami perbaikan pada 1983 dan 1997.

Kodeki Pasal 1 : Setiap dokter wajib menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dan atau janji dokter.
Cakupan pasal:

1. Dokter lulusan Fakultas Kedokteran di Indonesia wajib melafalkan sumpah/ janjidokter sebagaimanadimaksud pada Pasal1, didepan pimpinan fakultas kedokteran yangbersangkutan dalam suasana khidmat.

2. Dokter lulusan luar negeri dan/ atau dokter asing yang hendak melakukan pekerjaan profesidi Indonesia wajib melafalkan sumpah/janji dokter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 didepan pemimpin IDI dan penjabat kesehatan setempat.

3. Setiapdokter yang akan menjalankan tugas sebagai anggota tim dokter pemeriksa atau pembuat visumet repertum/surat keterangan ahli wajib menyatakan diri bahwa ia telah/belum melafalkan sumpah sebagaimana dimaksud Pasal 1.

4. Bunyi sumpah/ janji sebagaimana dimaksudpada Pasal 1 cakupan pasal (1) dan (2) sebagai berikut:

Demi Allah saya bersumpah, bahwa:
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.

2. Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.

3. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.

4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.

5. Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.

6. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan.

7. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.

8. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.

9. Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.

10. Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung.

11. Saya akan menaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.

12. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Pengertian Teman Sejawat dan Saudara Kandung

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian ” teman sejawat” adalah kawan sepekerjaan. Dan Kesejawatan adalah merupakan
• Ciri sebuah profesi
• Adanya etika yang disepati
• Kebersamaan, persaudaraan dan tolong menolong
• Penyimpangan mengakibatkan pengucilan (etik), sanksi hukum (norma)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti saudara kandung adalah saudara seibu (baik seayah maupun tidak).

Arti kata ” Seperti ” dalam KBBI adalah se·per·ti
1. serupa dengan; sebagai; semacam
2. sama halnya dengan; tidak ubahnya
3. sebagaimana; sesuai dengan
4. seakan-akan; seolah-olah
5. misalnya; umpamanya
6. adapun yang sebagai

Pengertian harfiah ” teman sejawat seperti saudara kandung ” sangat jelas bahwa teman seprofesi bisa diartikan 6 pengertian ” seperti ” saudara seibu. Yang paling ringan konsekwensi adalah ” diumpamakan, seolah olah “.

Filosofi persaudaran menurut Islam

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.” (QS al-Hujurat :10).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya.” [HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim].

Abdullah bin Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda : Seorang muslim saudara terhadap sesama muslim, tidak menganiyayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Dan siapa yang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan siapa yang melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari qiyamat, Dan siapa yang menutupi aurat seorang muslim maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat. [HR Bukhari, muslim].

Kedudukan ” SUMPAH ” dalam Islam

Bersumpah adalah mengucapkan seperti janji atau ikrar dengan kesungguhan untuk menguatkan pernyataan yang dibuat oleh seseorang. Sumpah tentu memiliki derajat yang tinggi atau tidak main-main. Sumpah tentu memiliki konsekwensi dan dampak pada yang mengucapkannya. Untuk itu, sumpah tidak bisa diucapkan main-main, apalagi jika membawa nama Agama, seperti ” Demi Allah Saya Bersumpah/ Berjanji “.

Di dalam islam, bersumpah bukanlah ucapan yang main-main. Untuk itu, sumpah harus dengan kesungguhan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Untuk itu, orang yang bersumpah haruslah menepati apa yang menjadi sumpahnya sedangkan pelanggarannya adalah tanggung jawab dunia akhirat.

Dalam Al-Quran disampaikan oleh Allah untuk jangan mengikuti orang yang mudah bersumpah. “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang selalu bersumpah, lagi yang hina” (QS 68:10).

“Barang siapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau (jika tidak) maka diamlah” (HR Bukhari)

Di dalam hadist tersebut, dijelaskan bahwa untuk bersumpah maka harus dengan menyebut nama Allah. Bersumpah pada Allah menunjukkan bahwa pertanggungjawaban apa yang kita sebutkan bukan hanya di dunia, melainkan kelak di akhirat langsung pada Allah SWT.

Rekontruksi Sumpah Dokter ” Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung. Mengingat kedudukan ” sumpah atau Janji ” dalam pandangan agama dan konsekwensi atas pelanggaran sumpah tersebut. Dan secara empiris dan sosiologi yuridis apakah pada saat ini para dokter bisa menjalankan isi sumpah tersebut dalam kehidupan sehari hari dan dalam penjalankan profesinya ???. Seharusnya sudah saatnya dilakukan penelitian terhadap hal ini, seberapa besar pelaksanan isi sumpah dokter tersebut dan pelanggaran yang terjadi dalam praktek kehidupan sehari hari.

Pendzaliman Dokter terhadap sejawatnya

Banyak contoh dan kejadian dari pelanggaran seorang yang bergelar dokter dan sudah melafalkan sumpah dokter saat lulus pendidikan dokter seperti diamanahkan pasal 1 KODEKI. Hal yang sering terjadi apabila dokter tersebut memiliki kewewenangan atas sejawatnya seperti menjadi pejabat struktural seperti direktur fasyankes, kepala bidang pelayanan dan bidang yang lain yang berhubungan dengan dokter, kepala dinas kesehatan, ketua atau pengurus organisasi profesi , atasan langsung dalam organisasi kepegawaian di sipil / ASN atau TNI dan Polri., dokter yang mempunyai dual profesi seperti Dokter advokat, Dokter Mediator, Dokter prajurit TNI atau Polri, Dokter verifikator, dokter Hakim dan Jaksa, kondisi ini membuat dilema etik dan loyalitas ganda dan sering mengabaikan sumpah dokter dan Kodeki berhubungan dengan kesejawatan. Sangat sering didapatkan karena akibat konflik pribadi atau ” like dislike” seorang dokter yang mempunyai kewenangan atas sejawat seperti atasannya, direkrur tempat sejawat bekerja menindas dan berlaku tidak adil serta mendzalimi sejawatnya. Hal ini mungkin sekilas adalah hubungan pekerjaan dan hal yang biasa tapi kalau dilihat dari aspek kesejawatan profesi dan sumpah dokter serta pasal 18 KODEKI sudah bisa dianggap pelanggaran sumpah dan etika. Belum lagi banyak kasus yang terjadi konflik pribadi antar sejawat, penipuan dan tindakan kriminal oleh sejawat nya sendiri, pelaporan ke pihak berwajib dan berperkara hukum antar sejawat . Pertanyaan kita atas kondisi seperti ini adalah apakah hal ini karena melunturnya nilai kesejawatan? Lunturnya pemahaman sumpah dokter dan etika ? Atau pengetahuan dan pendidikan kesejawatan yang sangat minim atau memang konsekwensi dari perubahan jaman dan paradigma kehidupan di jaman modern ini?

Apakah kondisi ” pelanggaran sumpah dan Kodeki Kesejawatan ” dibiarkan saja?

Rekontruksi dalam paradigma kontruktivisme dan hukum progresif

Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma tertanam kuat dalam sosialisasi para penganut dan praktisinya. Paradigma menunjukkan pada mereka apa yang penting, absah, dan masuk akal. Paradigma juga bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epitemologis yang panjang.
Paradigma konstruktivis, yaitu paradigma yang hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau ilmu pengetahuan. Paradigma ini memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci terhadap pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/ mengelola dunia sosial mereka Para peneliti konstruktivis mempelajari beragam realita yang terkonstruksi oleh individu dan implikasi dari kontruksi tersebut bagi kehidupan mereka dengan yang lain. Dalam konstruksivis, setiap individu memiliki pengalaman yang unik. Paradigma konstruktivis memiliki beberapa kriteria yang membedakannya dengan paradigma lainnya, yaitu ontologi, epistemologi, dan metodologi.

Level ontologi, paradigma konstruktivis melihat kenyataan sebagai hal yang ada tetapi realitas bersifat majemuk, dan maknanya berbeda bagi tiap orang. Dalam epistemologi, peneliti menggunakan pendekatan subjektif karena dengan cara itu bisa menjabarkan pengkonstruksian makna oleh individu. Dalam metodologi, paradigma ini menggunakan berbagai macam jenis pengonstruksian dan menggabungkannya dalam sebuah konsensus. Proses ini melibatkan dua aspek: hermeunetik dan dialetik. Hermeunetik merupakan aktivitas dalam mengkaitkan teks-percakapan, tulisan, atau gambar. Sedangkan dialetik adalah penggunaan dialog sebagai pendekatan agar subjek yang diteliti dapat ditelaah pemikirannya dan membandingkannya dengan cara berpikir peneliti. Dengan begitu, harmonitas komunikasi dan interaksi dapat dicapai dengan maksimal
Paradigma Konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam karena manusia bertindak sebagai agen yang mengonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik melalui pemberian makna maupun pemahaman perilaku di kalangan mereka sendiri. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran.

Dalam pemahaman hukum progresif menempatkan manusia sebagai unsur utama dimana hukum merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaannya. Tidak seharusnya hukum menciptakan ukuran keadilannya sendiri melalui peraturan perundang-undangan justru dengan mengekang kebahagiaan manusia atau dengan mencederai nilai-nilai sosial yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.

Hukum seharusnya dapat memenuhi kebutuhan manusia dalam hal kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan hukum itu sendiri. Namun belakangan ini pemenuhan kebutuhan itu semakin jauh dari yang diharapkan.

Dinamika perkembangan ilmu pengetahuan, teknolologi dan sosial kemasyarakatan adalah suatu keniscayaan sejak awal peradaban manusia ribuan tahun yang lalu. Dinamika muncul karena pemikiran, pola hidup dan situasi yang lama tidak dapat lagi mewadahi kehidupan manusia yang terus berubah.

Demikian pula Hukum legal-positivism yang kaku akan selalu tertinggal dari perkembangan masyarakat itu sendiri. Hukum harus menemukan jalannya agar dapat mengikuti perkembangan zaman sehingga benar-benar dapat menghadirkan keadilan bagi manusia.

Hukum progresif melihat, mengamati dan ingin menemukan cara berhukum yang mampu memberi jalan dan panduan bagi kenyataan seperti tersebut di atas. Pengamatan dan pengalaman terhadap peta perjalanan dan kehidupan hukum yang demikian itu menghasilkan keyakinan, bahwa hukum itu sebaiknya bisa membiarkan semua mengalir secara alami saja. Hal tersebut bisa tercapai apabila setiap kali hukum bisa melakukan pembebasan terhadap sekat dan penghalang yang menyebabkan hukum menjadi mandek, tidak lagi mengalir. Tidak lagi mengalir, berarti kehidupan dan manusia tidak memperoleh pelayanan yang baik dari hukum.

Melihat realitas saat ini dalam kehidupan sehari hari seorang dokter terutama berkenaan ” teman sejawat ” dalam sumpah dokter dan Kodeki dan konsekwensi pelanggaran ” sumpah ” Sebuah pertanyaan timbul perlukan kita melakukan ” Revisi Sumpah dokter dan Etik Kesejawatan ” dengan paradigma kontruktivisme dan berhukum progresif ??? Mari kita diskusikan bersama

Banjarbaru, 26 November 2020

 

PENULIS | Dr.(c). dr.ABD.HALIM,SpPD. SH. MH. MM. FINASIM
THE BANUA LAW CENTER
Pusat Kajian Hukum dan Layanan Publik
Dokter Ahli Utama/Pembina Utama Madya
Wakil ketua komisi Etik dan Hukum RSDI Banjarbaru
RSDI dan KLINIK UTAMA HALIM MEDIKA
Candidat Doktor Ilmu Hukum UNISSULA
Mediator Non Hakim Bersertifikat MA dan CLA
Anggota Kongres Advokat Indonesia KAI dan Ikatan Penasihat Hukum Indonesia IPHI
Ketua Bidang Advokasi Medikolegal PAPDI Cabang Kalsel. Anggata Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI) dan Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia (APDHI).

Abd Halim

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *