Pada Suatu Hari, Kita Akan Abadi

  • Whatsapp
Pada Suatu Hari, Kita Akan Abadi
ilustrasi | al-fanarmedia.org

SUDAH menjadi tabiat manusia: selalu mencintai segala hal yang bisa mendatangkan keuntungan, kesenangan, dan semisalnya. Tak heran beberapa orang rela mengorbankan waktu, tenaga, juga pikiran demi meraih sesuatu yang dicintainya itu. Tiada yang salah dengan apa yang mereka perbuat. Namun, mengorbankan waktu, tenaga, juga pikiran hingga lalai terhadap tugas utama sebagai umat manusia, itulah yang menjadi masalah besar. Tugas utama manusia adalah mengabdi kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Az-Zariyat ayat 56, “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku.”

Setelah membaca sedikit paparan di atas, mungkin akan muncul sebuah pertanyaan besar di kepala kita: jika beribadah (mengabdi) kepada-Nya adalah tugas utama manusia, lalu mengapa Dia menciptakan kita dengan sifat mencintai kesenangan dan kenikmatan duniawi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari renungkan firman Allah Ta’ala berikut, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Q. S. Al-Kahfi: 7).

Read More

Potongan surah tadi perlu direnungi dengan sungguh-sungguh agar kita dapat mengambil pelajaran darinya. Firman Allah Ta’ala yang termaktub dalam surah Al-Kahfi ayat 7 menjelaskan betapa manusia memang diciptakan dengan tabiatnya yang mencintai dunia, sebab itu adalah perhiasan yang harus ia kenakan, tapi Tuhan yang Maha Pengasih menciptakan semua itu bukan tanpa tujuan. Tujuan Allah Ta’ala membuat skenario yang demikian untuk menguji siapa di antara anak-cucu adam yang terbaik perbuatannya dan pantas menikmati surga di akhirat kelak.

Fenomena di atas mengingatkan saya pada suatu keadaan antara guru dengan peserta didiknya. Setiap guru bisa saja memberikan nilai terbaik dan sempurna kepada seluruh peserta didik yang ia ajar, tapi mengapa para guru tidak melakukan hal itu? Mengapa guru justru menguji dan memaksa mereka untuk belajar? Bukankah belajar itu rumit, butuh kedisiplinan, dan hal-hal lain yang tidak disukai oleh para peserta didik? Apakah dengan keadaan yang demikian menjadi pertanda bahwa sang guru benci terhadap seluruh siswa yang ia ajar? Tentu tidak, bahkan sebaliknya, guru ingin mengajarkan kepada seluruh anak didik supaya mereka tahu arti kerja keras, supaya mereka memiliki ilmu yang bermanfaat, bukan hanya kumpulan angka yang tak menghasilkan apa-apa! Coba sejenak kita bayangkan, seandainya ada sosok guru yang hanya memberi nilai tinggi tanpa sedikit pun memberi motivasi belajar kepada anak didiknya. Kira-kira, apa yang akan terjadi? Saya pikir, guru tersebut akan menghasilkan siswa-siswi yang payah, manja, tidak memiliki bekal ilmu, bahkan guru itu akan dicap sebagai guru yang gagal oleh masyarakat.

Keadaan antara guru dan peserta didiknya adalah gambaran kecil dari sebuah cinta yang diawali dengan proses menguji. Saya berharap contoh sederhana itu bisa membuka pola pikir terhadap suatu konsep bahwa menguji bukan berarti benci. Semoga dengan tulisan ini, kita menjadi sadar bahwa Allah menguji umat manusia karena cinta-Nya yang amat besar bukan atas sebab kebencian dan semisalnya. Semoga tulisan ini juga membuat diri kita ikhlas dalam menjalani ujian yang telah ditetapkan serta kembali mengabdi kepada Pencipta sebagaimana mestinya, sebab hidup pada hakikatnya bukan hanya untuk dunia. Ingatlah, pada suatu hari, kita akan abadi, lalu merayakan jerih payah hidup selama ini. Kita bisa jadi penghuni dari surga yang indahnya tiada tara atau dari neraka yang penuh dengan sengsara.

Anugrah Gio Pratama
Latest posts by Anugrah Gio Pratama (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *