Papadah Bahasa Banjar untuk Kita yang Bermedia Sosial Seenak Jidat

  • Whatsapp

Saat ini seringkali terdengar kalimat; bijaklah dalam menggunakan medsos alias media sosial. Hal tersebut ditengarai kemajuan teknologi yang membuat orang dengan  mudahnya membeli dan memiliki alat komunikasi berbentuk gawai atau gadget.

Kemudahan memiliki gawai, ditambah dengan fasilitas internet yang kian hari kian mempermudah kita untuk berinteraksi antar sesama, bahkan mampu menjangkau belahan dunia manapun–kita bisa berpetualang dan mengenal dunia maya, dunia susi, ani, fransiska, dan dunia-dunia lainnya.

Read More

Seiring dengan mudahnya mengakses peradaban lewat gawai, komentar pula ikut bertebaran, ribuan foto diupload setiap detik, status berhamburan–mulai dari yang iseng, serius atau yang santuy. Pemakainya bisa jadi buzzer, pengangguran, pekerja, pelaku usaha, pelaku hobi, seniman, ibu rumah tangga, pebisnis, politikus dan profesi lainnya.

Perbedaan profesi dan sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari tersebut berakibat pada tingkah laku perbuatannya dalam bermedia sosial.

Namun, mestinya, sama dengan kehidupan sehari-hari, dalam bermedia sosial pun kita haruslah bijak. Berpikirlah dua kali sebelum apa yang kita upload (entah itu gambar, tulisan, atau sekadar komentar di postingan orang) berakibat fatal. Kalau dalam istilah Banjar, benganga dahulu hanyar bapandir (membuka mulut dulu barulah berbicara).

Dalam bermedsos, ada aturan tak tertulis ketika keinginan untuk mengomentari status orang lain muncul di kepala kita. Pertama, berikan komentar sesuai konteks permasalahan dari status yang dibuat. Kalau di-Banjar-kan, bepandir nang sasuai dimasalahakan

Tahapan lain, ialah jangan mengungkit hal di luar permasalahan. Karena justru itu hanya menyesatkan komentator lainnya, membuka lembaran baru, membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan masalah. Menurut orang Banjar, kada baulah pandiran masalah hanyar.

Paling prinsipil menyangkut masalah pribadi dibawa ke ranah komentar status orang lain. Misal, topik pembahasan covid-19, tapi yang dikomentari malah pribadi dan privasi si pembuat status.

Kesimpulannya, hindari menyerang pribadi seseorang melalui sosmed. Orang Banjar bilang, urusan paribadi kada usah dibawa jua.

Tidak bijaknya seseorang dalam bermedsos bisa dilihat, dibaca, disaksikan dari tata bahasa pelaku sosmed itu sendiri–seringkali kata yang mereka lontarkan tak beraturan, tak terarah, tak jelas, asal bunyi, asal benganga, asal bepandir, asal mahanggus, asal-asalan. Sebaiknya, jika kita cukup bijak dalam bermedia sosial, gunakanlah bahasa yang sopan setiap kata dan kalimat. Sebab terkadang (dan malah kebanyakan), kata dan kalimat mewakili sifat dan sikap seorang pelaku sosmed. Dari kata dan kalimat di sosmed, terdeteksi identitasnya. Warga Banjar punya pesan, beapik bepandir.

Nah, hal yang cukup mengganjal dan sering menimbulkan pertentangan serta perdebatan adalah merasa benar sendiri dengan tidak menghargai atau tak bisa menerima opini orang lain. Hargai pendapat orang lain, sinonim Bahasa Banjar, kada mun pandapat saurang aja dikajal.

Untuk menutup artikel dalam bermedsos ini, saya menganjurkan kepada kita semua untuk berpikir sebelum bertindak. Pikirkan dampak dan terdampak covid-19. Bukan, bukan itu. Maksud saya, sebelum pengambilan keputusan untuk komentari status orang lain di sosmed, pikirkanlah akibat yang bakal terjadi bila komentar kita ditulis di postingan orang lain, apakah baik atau justru akan menyakiti pemilik postingan tersebut.

Kalau dalam istilah Banjar, pikirakan dahulu akibatnya amun handak manggawi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *