Peneliti ULM, mendirikan Center for Peatland Studies

  • Whatsapp
Kebakaran Lahan Gambut
Kebakaran Lahan (Foto: Internet)

Perubahan lanskap lahan gambut yang terjadi secara terus menerus nampak merubah lanskap sosial dan budaya. Perubahan lanskap penggunaan dan fungsi lahan serta secara langsung berpengaruh secara signifikan terhadap ekosistem, inilah yang sekarang ini menjadi kehawatiran dunia dalam pada yang disebut perubahan iklim.

“Kebijakan pemerintah yang mengabaikan perubahan lanskap itulah, salah satu faktor penyebab “bahaya besar” lahan gambut yang tidak lagi menjadi kawasan aman bagi penduduknya. Penggusuran wilayah kawasan makanan yang tidak dianggap sebagai sumber daya pangan penduduk lokal, pasti mencerabut katahanan pangan penduduk yang tinggal di Kawasan Gambut.

Read More

Demikian beberapa pokok diskusi para peneliti ULM yang berinisiatif mendirikan Center for Peatland Studies, sebuah perhimpunan para peneliti gambut atau lahan basah yang berkonsentrasi pada penelitian dan pemberdayaan masyarakat Gambut.

Kita baru tersadar sekarang, betapa pentingnya gambut yang mempunyai potensi luar biasa. Potensi yang sudah terbukti ribuan tahun menghidupi manusia dan alamnya, terbukti diabad sekarang, kebakaran lahan gambut dan perubahan bentang gambut untuk kepentingan perkebunan skala besar tidak hanjya berdampak pada ekosistem gambut tetapo pada penduduk yang tinggal di Kawasan gambut tersebut, Demikian Setia Budhi, penggagas pusat kajian ini.

Ismar Hamid manambahkan bahwa sekarang sama sekali tidak relevan membicarakan gambut sebatas komoditas, sebab jangan lupa Gambut itu cermin kehidupan masyarakatnya. Pohon Sagu itu adalah pangan, maka jika tumbuhan endemik Sagu atau disini lebih dikenal sebagai Rumbia ditebang habis, itu sama artinya menghancurkan potensi pengan penduduk lokal.

Kehadiran Center for Peatland Studies, beranjak dari sebuah kesadaran para social saintis untuk membangun pandangan positif terhadap gambut dan masyarakatnya. Secara khusus ingin berkonstribusi dalam keberdayaan masyarakatnya, kata Muhammad Najeri Al Syahrin , peneliti muda Universtas Lambung Mangkurat.

Dalam diskusi ini, Dimas Asto Aji An’amta , memberikan pandangan berdasarkan pengalamannya bahwa tanaman Kopi dan Pinang cocok ditanam di Gambut dangkal yang hemik (membusuk sebagian) atau saprik (membusuk). Tetapi dua tanaman ini mulai terabaikan, kalau tidak kita sebut sudah hampir punah di lahan gambut.

Diskusi berkesimpulan bahwa pemanfaatan lahan gambut yang ramah lingkungan, bermanfaat bagi keberlanjutan lanskap penduduknya secara keseluruhan – kondisi tanah dan air gambut yang sehat mendorong peningkatan produktivitas lahannya. Namun, sekali lagi, ini membutuhkan dialog intensif antara berbagai pemangku kepentingan.

Kita perlu mempertemukan kebijakan pemerintah, masyarakat gambut serta korporasi yang selama ini menikmati kemurahan hari lahan gambut, Sebagai cara terbaik untuk bergerak maju memberdayaan masyarakat gambut secara partisipatif. Bukan dengan cara ekploitatif.

Setia Budhi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *