Pentingnya Penyunting, Wajib Jeli dan Beberapa Permasalahan yang Bisa Terjadi

  • Whatsapp
Pentingnya Penyunting

Perkembangan teknologi yang cepat tentu berdampak pada semua aspek kehidupan, tak terkecuali penyuntingan naskah. Zaman sekarang, penyuntingan dilakukan menggunakan teknologi yang modern. Meski begitu, bukan tidak mungkin untuk para penyunting melakukan kesalahan sunting, seperti penulisan huruf, penulisan kata, bahkan kesalahan dalam penulisan kalimat.

Beberapa kali ditemukan kesalahan penulisan huruf ataupun kalimat dalam sebuah berita, baik itu dalam artikel maupun televisi. Bahkan beberapa artikel dan majalah besar pun bisa melakukan kesalahan penyuntingan.

Read More

Ditemukan kesalahan penggunaan huruf pada salah satu platform berita media online. Kesalahan tersebut contohnya terdapat dalam kalimat, “Lebih lanjut, sugiono menyebut, Kenaikan itu tidak terlepas dari pesanan warga Desa dan TNI untuk kusen, jendela, almari, dan masih ada lainnya”. Bisa kita lihat pada salah satu kalimat di media tersebut salah dalam penggunaan huruf, terutama huruf kapital.

Dalam kaidah penyuntingan, biasanya penyunting berpedoman pada PUEBI dan KBBI. Seorang ahli penyuntingan biasanya telah memahami kaidah penyuntingan. Jam terbang sebagai penyunting juga merupakan faktor utama yang memengaruhi hasil suntingan.

Dalam berita atau surat kabar, penyunting tidak hanya memperhatikan tanda baca dan penulisan kata. Penyunting juga harus teliti mengenai penulisan kalimat. Penulisan kalimat yang salah atau mengandung unsur diskriminatif bisa membuat media yang menerbitkannya terkena teguran. Bahkan yang lebih parah bisa mendapat sanksi larangan terbit. Oleh karena itu, jasa penyuntingan harus teliti agar karya yang diterbitkan tidak berisi kalimat yang mengandung unsur SARA atau diskriminatif.

Khususnya di Indonesia, hal yang berbau SARA atau diskriminatif sering menjadi perdebatan. Penulisan suku, ras, dan agama pada media sering menjadi sasaran empuk masyarakat. Kesalahan penulisan huruf pada nama suku atau ras juga bisa menjadi sebuah kesalahan fatal bagi media. Untuk itu tugas penyunting ini sangat penting.

Dengan majunya teknologi memudahkan penyunting untuk memperbaiki kata dan kalimat pada berita. Dahulu, penyunting harus membuka buku mencari perhalaman tentang kata yang baik dan boleh digunakan. Berbeda dengan sekarang, penyunting hanya perlu menggeser jarinya diinternet.

Dengan kemudahan seperti ini tentu sangat menguntungkan bagi penyunting. Namun, hal ini juga bisa menjadi pisau bermata dua. Semakin mudah tugas penyuntingan, maka semakin tidak teliti para penyunting dalam melaksanakan kewajibannya. Biasanya kesalahan fatal seperti tanda baca titik (.) dan koma (,) sangat jarang ditemukan. Namun, dengan majunya teknologi sering kita jumpai kesalahan seperti itu bahkan pada media televisi.

Setiap publikasi ilmiah yang dilakukan, kadang terlupakan peran seorang penyunting. Padahal peran penyunting (termasuk penyunting bahasa) sangat penting perannya dalam menjembatani kepentingan penulis dengan pembaca (Clark and Phillips, 2014).

Hasil suntingan yang baik dan benar bisa memudahkan pembacanya untuk memahami maksud dan tujuan penulis. Oleh karena itu, peran penyunting sangat penting bagi keberlangsungan media. Jerih payah penyunting dalam menyunting sebuah tulisan harus lebih dihargai baik oleh penulis, pembaca, maupun media itu sendiri.

Menyunting bahasa, khususnya untuk sebuah naskah yang harus diterbitkan atau dipublikasikan, sama sekali bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Pekerjaan penyuntingan bahasa yang demikian itu tidak dapat dilakukan oleh setiap orang, apalagi orang yang tidak sungguh mengalami seluk-beluk kebahasaan (Rahardi, 2009: 2).

Bersamaan dengan munculnya banyak penerbit baru dan semakin suburnya dunia perbukuan di tanah air, orang pun mulai merasakan perlunya diselenggarakan pelatihan penyuntingan. Hal ini seiring pula dengan semakin banyaknya orang yang bekerja di dunia sunting-menyunting (Eneste, 2012).

Dengan kemajuan teknologi yang pesat memudahkan para penyunting untuk menyunting sebuah tulisan. Kemudahan itu membuat para penyunting yang baru terbuai dan membuat ketelitian mereka tumpul. Ditambah dengan semakin banyaknya para penyunting baru juga membuat mereka berlomba dengan waktu.

Kesalahan penyuntingan sering terjadi karena penyunting dikejar waktu deadline oleh editor. Apalagi jika hal yang harus disunting sangat banyak dan waktu yang diberikan hanya sedikit. Ditambah lagi tulisan yang disunting penuh dengan kesalahan kata, kalimat, dan tanda baca.

Biasanya para penulis baru sering melakukan kesalahan ketik (typo) yang membuat para penyunting bekerja lebih giat agar tulisan itu bisa dibaca dan diterbitkan. Meski begitu, kadang penulis lama juga bisa membuat kesalahan meski tidak sebanyak penulis baru pada umumnya.

Bagi penulis baru yang belum cukup berpengalaman, memproduksi suatu karya tulis adalah pekerjaan yang berat dan melelahkan, sedangkan bagi mereka yang sudah cukup berpengalaman membuat karya tulis adalah pekerjaan yang menyenangkan dan menantang (Prayitno dkk, 2000:13).

Penyunting merupakan orang yang mengatur, memperbaiki, merevisi, mengubah isi, dan gaya naskah orang lain, serta menyesuaikannya dengan suatu pola yang dibakukan, kemudian membawanya ke depan umum dalam bentuk terbitan (Rifai, 2004:86).

Berita adalah informasi aktual tentang fakta-fakta dan opini yang menarik perhatian orang (Kusumaningrat, 2006:40). Sebagai seorang penikmat berita ataupun seorang penulis, kita tentu harus nyaman terhadap tulisan yang kita baca. Mulai dari pemilihan kata dan kalimat yang tidak mengandung unsur diskriminatif serta penggunaan PUEBI yang benar.

Peran seorang penyuntinglah yang berjasa besar untuk keberlangsungan sebuah tulisan. Terlepas dari penulis yang menciptakan tulisan itu, tanpa seorang penyunting yang handal maka tulisan tersebut belum tentu bisa diterima oleh pembaca, bahkan bisa jadi menimbulkan masalah bagi penulisnya.

Dengan segala kemudahan dalam dunia penyuntingan saat ini, harusnya tulisan yang dihasilkan jauh lebih baik. Meski begitu, bukan tidak mungkin para penyunting melakukan kesalahan apalagi para penyunting baru, karena manusia memang tempatnya salah.

Untuk mengatasi kesalahan penyuntingan yang masih sering kita jumpai saat ini, mungkin media bisa melatih para penyunting baru sebelum mendapatkan sebuah tulisan untuk disunting. Hal ini bisa mengurangi kesalahan penyuntingan saat ini. Tidak bisa dipungkiri, jika di masa yang akan datang penyunting baru akan terus bertambah. Untuk itu para media dan penerbit harus bisa memikirkan sebuah cara untuk menampung penyunting ini.

Dengan adanya pihak penerbit dan media yang lebih peduli pada para penyunting, mungkin bisa menambah produktifitas tulisan yang diterbitkan. Dibantu dengan kemajuan teknologi yang cepat, bisa diharapkan bagi para penyunting lama ataupun baru untuk bisa lebih teliti agar kesalahan dalam penyuntingan bisa berkurang.

Putri Maqvira

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *