Perempuan yang Terlanjur Jatuh Cinta

  • Whatsapp
Perempuan yang terlanjur mencintai

Cerpen itu utuh dikirimkan seorang kawan melalui pesan WhatsApp dengan pengantar sebuah potongan cerpen dengan pertanyaan siapa kekira yang bisa menulis narasi semacam ini dalam cerpen. Saya dengan cerdas menyebut satu dua nama perempuan penulis, dan tebakan itu tentu saja benar. Saya pun membacanya. Perempuan yang membaca cerita fiksi perempuan lainnya. Di akhir cerpen, saya menyumpahi tokoh lelaki yang disebut-sebut di dalam cerpen. Tapi sampai di situ saja. Kesibukan yang saya undang terus menerus, membuat saya melupakan dengan cepat cerpen berjudul Perihal Menyederhanakan Cinta (PMC) yang terbit 28 Maret 2021 di Kompas itu, juga melupakan tokoh perempuan dan lelakinya.

Cerpen itu kemudian dikritik, dan kritiknya pun juga ramai dibicarakan. Secara subyektif, terlepas dari anggapan bahwa cerpen itu jelek, saya menyukai cerpen itu. Menurut saya, diksi yang dipilih cukup cermat meski proses penyuntingannya kurang rapi karena masih ada beberapa kata yang terulang tak perlu. Beberapa di antara diksinya juga terasa puitis meski bukan puisi. PMC memiliki narasi yang terjalin harmonis membentuk gambaran yang menghadirkan komplikasi emosional tertentu milik si Aku perempuan. Emosionalitas yang mampu sampai ke pembaca, minimal saya lah. Bahwa mencintai seseorang bisa kompleks, rumit, dan menyakitkan tapi tak terelakkan. Jelas tak sederhana.

Read More

Cerpen ini merupakan narasi penuh tanpa dialog, kita bahkan bisa katakan karya ini sebagai sebuah memoar. Bercerita tentang seorang perempuan (Aku) yang bertutur tentang keadaan dirinya yang jatuh cinta pada seorang lelaki. Karena tokoh Aku ini jatuh cinta sedemian rupa pada Bumi, lelaki yang dimaksud, Aku menjadi cukup egois ingin mendapatkan lelaki itu untuk dirinya sendiri. Lelaki itu telah beristri, tentu saja. Jadilah ini cerita perselingkuhan. Aku meminta Bumi menceraikan istrinya, sesuatu yang lelaki itu janjikan di awal hubungan mereka. Lelaki itu tak mau. Bumi hanya menawarkan satu alternatif, menjadikan Aku istri kedua. Cerita ditutup dengan kegamangan Aku memilih antara meninggalkan Bumi yang telah begitu dalam dicintainya, atau menerima tawaran tersebut, menjadi istri kedua.

Mari kita masuk lebih dalam pada tema cinta perempuan ini. Problematika ketika seorang perempuan mencintai agaknya lebih rumit dan melelahkan daripada jika lelaki jatuh cinta. Kok bisa? Ingat Raja George VI, ayah Ratu Elizabeth II yang sekarang bertahta. Raja gagap yang menjadi tokoh utama di film King Speech. Beliau punya kakak yang sempat menjadi raja Inggris tapi turun tahta, Raja Edward ke VII. Edward turun tahta demi seorang janda. Wallis Walfred Simpson namanya. Dalam perihal yang konon dianggap skandal ini, siapa yang paling dikecam? Tak lain perempuan Simpson itu. Bahwa akhirnya Edward turun tahta dan hidup berbahagia sampai akhir hayat bersama Simpson yang akhirnya ia dinikahi, tak juga bisa menghilangkan frasa dalam sejarah, bahwa Edward turun tahta ‘hanya karena’ seorang janda.

Mungkin kita juga ingat cerita baru-baru ini tentang seorang penyanyi lagu-lagu Islami yang dipergoki publik menjalin hubungan dengan lelaki beristri karena sang istri minta cerai dari suaminya karena alasan tersebut. Selanjutnya diketahui sang penyanyi telah menikah secara siri dengan lelaki tersebut. Publik tak peduli bahwa ikatan itu menjadi sah secara agama, perempuan itu telah menghancurkan rumah tangga perempuan lain. Jejak penghakiman dan caci maki terhadap perempuan itu di media sosial masih bisa kita lacak. Begitu menyayat.

Lalu akan ada yang mengatakan ini. Ya memang salah si perempuan, mau apa lagi? Perempuan itu telah menghancurkan rumah tangga orang lain. Ada perempuan yang tersakiti dengan kehadirannya, belum lagi jika kita bicara tentang anak-anak. Perceraian –jika akhirnya bercerai- selalu menjadi penyebab anak tumbuh bermasalah secara psikologis.

Kita terbiasa membuat penghakiman atas posisi seseorang. Dalam kasus ini istri adalah tokoh protagonis utama, dan suaminya yang menjalin hubungan dengan perempuan lain –secara sah atau tidak- adalah tokoh antagonis, dan perempuan lain itu adalah sebenar-benar akar kejahatan, dan yang paling patut disalahkan. Si lelaki mungkin akan dimaafkan, apalagi jika ia bertaubat dan kembali pada istrinya, meninggalkan atau menceraikan si perempuan lain. Yang tersisa dalam nista hingga kematiannya tak lain adalah perempuan yang terlanjur menyetujui berhubungan dengan si lelaki beristri. Dikotomi itu akan selalu abadi, perempuan yang datang belakangan versus perempuan yang sudah lebih dahulu ada. Yang satu penjahat, satunya adalah tokoh kesayangan kita. Karena dikotomi ini, peluang untuk lebih bisa bersikap bijak dan mencoba memahami posisi perempuan kedua menjadi tertutup.

Maka jadilah ini persoalan klasik. Namun, kadang kita perlu menggunakan perspektif lain. Tentang perempuan yang sedang jatuh cinta. Perempuan seperti tokoh Aku dalam cerpen PMC. Perempuan yang jatuh cinta boleh jadi cenderung memaklumi, beradaptasi, dan berusaha agar perasaan cintanya bisa berterima. Perempuan yang jatuh cinta bisa jadi sangat bersimpati dan mengabdi pada sesiapa yang dicintainya. Perempuan yang jatuh cinta bahkan bisa sangat emosional, dan demikian menyelami perasaannya.

Ketika ia tetiba mencintai lelaki beristri, boleh jadi ia akan mencoba merasionalisasi itu agar perasaannya dapat dimaklumi terutama oleh dirinya sendiri. Sudahlah, meski beristri barangkali hal tersebut boleh dilakukan. Bisa jadi, itulah isi kepalanya. Ketika lelaki beristri yang dicintainya menjadi brengsek seperti di dalam cerpen, penuh janji manis tapi ternyata pembohong sejati, perempuan itu akan cenderung memberikan permakluman karena ia sendiri tak bisa melepaskan diri dari perasaan cintanya pada si lelaki. Bahkan jika akhirnya Aku bersedia dipoligami –yang terindikasi bahkan bukan poligami berkeadilan yang diisyaratkan agama-, semata bukan apa-apa selain cinta yang tak bisa dihilangkannya itu telah menenggelamkannya di hingga ke dasar.

Dan cerita yang dituturkan dalam cerpen PMC adalah sebenar tragedi. Kontradiksi yang mungkin  ditemukan dalam cerita, atau sikap mendua yang tertangkap pembaca, atau racauan-racauan yang dianggap sebagai gangguan psikologis.

Cerpen ini berhasil membuat saya bersimpati pada tokoh Aku yang dalam kehidupan nyata seringkali sulit untuk sesiapa memberikan simpati. Ada penghakiman yang terlanjur mendarah daging, tentang perempuan lain yang selalu menjadi pihak yang menghancurkan tatanan rumah tangga. Perceraian dan poligami dianggap sama celakanya. Barangkali, cerpen ini telah membuat saya memiliki pandangan lain dalam memberikan penilaian. Bahwa pilihan untuk mencintai, pilihan untuk bersedia dipoligami pada seorang perempuan akhirnya adalah sebuah bentuk aktualisasi perempuan yang patut dihargai. Meski saya tetap tak bisa beranjak juga dari kesetiaan pada istri yang telah memperjuangkan keutuhan rumah tangganya. Hanya saja, tak ada penilaian final terkait hal ini. Para istri tak selamanya menjadi tokoh utama protagonis, dan perempuan2 lain itu juga tak selamanya menjadi penjahat nista. Meski demikian para lelaki, mereka tetap saja …

Wallahua’lam…

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *