Petisi Sejuta Paraf Minta Penyerang Novel Dihukum Berat

  • Whatsapp
Petisi Sejuta Paraf Minta Penyerang Novel Dihukum Berat

Tuntutan satu tahun penjara kepada dua terdakwa penyerang Penyidik KPK Novel Baswedan yang dilayangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dinilai tidak masuk akal.

JAKARTA, tandapetik.com- Sejumlah mahasiswa dan alumni yang tergabung dalam Komunitas SAKTI Indonesia Corruption Watch memulai petisi online mengumpulkan sejuta tanda tangan atau paraf di laman Change.org. Petisi yang bisa diakses melalui http://www.change.org/gaksengaja bertujuan meminta hakim menjatuhkan hukuman lebih berat bagi dua terdakwa kasus penyerangan dengan air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Read More

“Apa masuk akal gak sengaja menyiram air keras ke wajah seseorang? Apa masuk akal ada orang yang bawa air keras pagi-pagi subuh?” tulis Muhammad Nasir, salah satu inisiator petisi seperti dikutip dari siaran pers Change.org Indonesia, Selasa (16/6).

Nasir menilai, tuntutan satu tahun penjara kepada dua terdakwa yang dilayangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak masuk akal.

“Jika dilacak beberapa contoh kasus serupa yang pernah terjadi, para pelaku tindak pidana kasus penyiraman air keras  pernah dituntut oleh JPU melalui surat dakwaannya dengan tuntutan hukuman pidana hingga 15 tahun penjara,” ujar  Nasir.

Seperti diketahui, kasus penyerangan dengan air keras yang dialami penyidik senior KPK Novel Baswedan telah melewati sidang pembacaan tuntutan pada 11 Juni 2020. JPU melayangkan tuntutan 1 tahun penjara kepada dua terdakwa penyerangan air keras terhadap Novel.

Dalam dakwaan primer, Jaksa menyatakan kedua terdakwa tidak terbukti melanggar unsur Pasal 355 ayat  (1) juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan berat berencana dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun penjara.

Pendukung-pendukung petisi juga menuliskan komentar lainnya. Latifah Ainun menulis tidak rela apabila alasan pelaku adalah “tidak sengaja”.

“Yang lebih pinter lagi dong cari alasannya,” ujar Latifah.

Nasir menambahkan,  Pasal 24 Ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan, kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Artinya secara normatif tidak ada satu pasal pun dalam KUHAP yang mengharuskan Hakim memutus pemidanaan sesuai dengan tuntutan JPU. Oleh karena itu, Hakim bebas dan merdeka untuk menjatuhkan pidana lebih tinggi dari tuntutan JPU dengan  pertimbangan hukum dan nurani yang adil dan rasional.

“Majelis Hakim dapat menjatuhkan putusan Ultra Petita  sesuai kejahatan yang dilakukannya dengan dasar Pasal 355 ayat (1) juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan berat berencana  ancaman pidana maksimum 12 tahun penjara sebagaimana yang tercantum dalam surat dakwaan primer JPU,” tegas Nasir.

Di akhir petisi, Nasir mengajak publik untuk mendukung petisi. Menurut dia,  pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan harus mendapat hukuman setimpal dan aktor utama dibaliknya segera diungkap.  “Kita harus bergandeng tangan merapatkan barisan dan mengambil napas panjang untuk memperjuangkan peradilan yang adil untuk Novel Baswedan dan masa depan pemberantasan korupsi guna mengembalikan rasa keadilan di tengah-tengah publik,” katanya. (rva)

Sumber: Tandapetik.com

Related posts