Picaresque, Ramos, dan Machiavelli

  • Whatsapp
Picaresque, Ramos, dan Machiavelli

SAYA bukan fans Los Blancos, bahkan bukan pengagum berat sepakbola. Sekedar menonton dan main game konsol bola sudah cukup memenuhi impuls kejantanan saya. Tapi ada satu pemainnya yang saya idolakan. Seorang bek tangkas dan kapten tim si putih Real Madrid. Ia bukan hanya pemain yang kerap menerima kartu merah, melainkan ia adalah maharajanya. Siapa lagi kalau bukan Sergio Ramos.

Dia serupa jagoan dalam film Koboi Euro ala sineas Sergio Leone: culas, beringas, brengsek (atau di satu sisi lain jenius) atau, sedikit kontradiksi, beradab. Ramos menjaga area pertahanan dengan segala cara. Sekotor apa pun cara, meski harus menendang kemaluan lawan, akan ia lakukan. Bahkan pemain sekaliber Mohammad Salah pernah ia buat cedera.

Read More

Orang semacam ini memang pantas dihujat, tapi sebagaimana lazimnya koboi, ia lebih banyak ambil sikap bodo amat, semasih itu tidak mengganggu hidup di sekitar gue, ah yang penting cerutu dulu. Seperti yang pernah Eddward S Kennedy sebut dalam artikelnya, mungkin kita mengira Ramos adalah pengagum politikus Niccolò Machiavelli: Pria bangkit dari satu ambisi ke ambisi lain, pertama, mereka berusaha mengamankan diri dari serangan, dan kemudian mereka menyerang orang lain. Tapi sebenarnya ia adalah refleksi/cermin masyarakat nyata, terlepas dari benar atau salah ia seorang Machiavellian.

Lalu apa hubungan Ramos dengan picaresque? Secara sastra memang tidak ada. Tapi Ramos mengingatkan saya pada karakter antihero yang acap ditemui dalam cerita-cerita picaresque. Dalam bahasa spanyol, mengakar dari kata pícaro (kurang lebih artinya bajingan atau penipu, atau bisa juga bohemian), picaresque adalah genre prosa yang menekankan pada petualangan antihero dalam tatanan kelas sosial yang cacat, korup, dan jamak menjalankan sistem aturan yang salah, namun ia tidak tersentuh.

Prosa dengan elemen semacam ini memang seperti satir (humor pahit yang bertebaran, tokoh dengan pandangan kritis, juga komedi gelap), namun mereka dalam picaresque tidak mencoba merusak tatanan yang sudah ada, karena mereka termasuk kebobrokan moral tersebut.

Contoh kasarnya adalah: pelacur yang menjual tubuhnya untuk keuntungan dan kelangsungan hidup. Ia bisa disebut picaresque. Pencopet yang beraksi di pasar dan keramaian buat mengasih makan bocah-bocah jalanan, ia juga picaresque. Kaum jelata yang banting tulang siang malam demi sehari mengisi perut, juga bisa disebut picaresque. Bahkan bila sobat ketemu dengan berandalan (banyak bacot) yang sok ngerti soal masalah negeri ini; ngomong keadilan, korupsi, melonjaknya harga sembako, kemudian ujung-ujungnya minta uang, jangan menghakiminya, ia barangkali adalah contoh sempurna dari sebuah picaresque.

Picaresque sendiri tidak diketahui dengan pasti kapan munculnya. Tapi menurut hampir semua orang, penanda pertama kehadirannya ialah dari novel Kehidupan Lazarillo de Tormes tahun 1554 (belum tentu benar). Kisahnya sendiri berkelindan pada sudut pandang seorang bocah bernama Lázaro yang dititipkan ibunya kepada seorang pengemis buta yang pelit. Dia mempunyai ambisi sederhana: makan untuk hidup. Tetapi ia hidup dalam dunia realitas yang suram penuh dosa, berdampingan dengan bajingan rakus, kemudian ia harus mengemis dan mencuri untuk bertahan hidup, dan ia belajar juga untuk menjadi licik.

Seolah menjelma kalimat penting dalam novel The Brief Wondrous Life of Oscar Wao: “aku tidak pernah bisa meloloskan diri. Tidak pernah bisa. Karena satu-satunya jalan keluar dengan masuk ke dalam,” baru belakangan kita melihat, ia turut ambil bagian dalam sebuah sketsa kotor.

Mungkin kita sering menemui atau mendengar ada maling yang ketangkap, kemudian memberikan alasan rada mirip drama (sedikit meniru dengan maling lainnya) supaya bisa membeli beras, membayar utang, melunasi iuran sekolah anak, lagi-lagi kita jangan lekas menghakimi, demikian bisa jadi benar. Sebab, tidak ada kejahatan yang orisinil, sebagaimana tak ada kebaikan yang murni.

Seperti yang terjadi masih di tahun ini, beberapa bulan ke belakang, di mana seorang bapak mencuri ponsel untuk belajar online anaknya, padahal di rumah tempat si bapak melancarkan aksinya ada ponsel lain dan satu laptop, tapi si bapak toh tidak mau mencari keuntungan. Pernah juga terjadi pencurian sebuah toko emas dan si pencuri juga memberi alasan sama. Jadi berarti, secara tidak langsung modern ini, dengan segala macam kepraktisan dan perkembangan teknologi, mencuat pula para antihero yang terdesak dan terpaksa harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman.

Beralih dari cerita memilukan yang lebih seperti laporan berita kriminal kembali ke ranah sastra. Seingat saya dua tahun lalu, sebelum saya tahu apa itu picaresque, saya membaca sebuah novel dari penulis India berjudul The White Tiger (pemenang penghargaan Man Booker 2008). Ceritanya berpusat pada kehidupan seorang pemuda India di keluarga miskin dari sebelum hingga ia menjadi pebisnis sukses (dengan cara hampir tidak bisa dipercaya, tapi galib adanya), adalah contoh novel picaresque di era modern ini. Kita juga bisa menyebut novel “Seperti Dendam, Rindu Harus di Bayar Tuntas” karya Eka Kurniawan yang difilmkan tahun depan adalah sebuah picaresque.

Kita mungkin mengenal novel-novel picaresque pendahulunya seperti; Petualangan Huckleberry Finn, Candide, Eva Luna, Tortilla Flat, Dead Souls oleh Nikolai Gogol, atau tuannya dalam genre ini (dalam banyak pengakuan) yakni  “Don Quixote”. Barangkali Don Kihote (sebutan di Indonesia) mahakarya Cervantes itu, terlampau sederhana untuk kita pahami sebagai picaresque (yang rumit minta ampun) dengan ksatria halu yang super konyol. Tapi percayalah, picaresque adalah tradisi, ia seperti antihero itu sendiri yang menyesuaikan keadaan sekitar. Ia adalah musuh para penjahat, koruptor, diktator. Tapi anehnya ia sendiri adalah penjahat.

Setelah mengoceh tentang Sergio Ramos, apa itu picaresque, sampai laporan berita kriminal, dan sedikit contoh novel picaresque, mungkin saya tidak perlu membuat kesimpulan. Barangkali jika tulisan ini belum cukup terang untuk memahami apa itu picaresque, saya sarankan membaca artikel lain di internet. Tapi sebelum itu saya akan memberi sedikit poin penting.

Ramos dan para antihero yang kerap berbuat kebrengsekan, mungkin bukan aib, tapi ia sebuah keniscayaan. Eksistensi khas bagi orang-orang untuk melaungkan kembali norma, etika, moralitas, dan kode-kode sosial yang ideal. Bukankah jika kita juga pernah berbuat bajingan? Meski kita terlampau malu untuk mengakuinya, tapi tetap saja kita tahu demikian adalah sebuah kerapuhan moral.

Saya akan menutup bacotan kali ini dengan sabda Machiavelli dalam buku Il Prince (buku panduan para diktator): “Singa tidak bisa melindungi dirinya dari jebakan, dan rubah tidak bisa melindungi dirinya dari serigala. Oleh karena itu, seseorang harus menjadi rubah untuk mengenali jebakan, dan singa untuk menakuti serigala.”

 

Referensi: https://tirto.id/antihero-sergio-ramos-berpotensi-membuatmu-jadi-moralis-cLuA

Musa Bastara
Latest posts by Musa Bastara (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *