Pilkada Kabupaten Banjar: Sastra Budaya Kita Taruh di Mana?

  • Whatsapp
Pilkada Kabupaten Banjar: Sastra Budaya Kita Taruh di Mana?

“MENCARI novel sastra di Kota Martapura (atau Kabupaten Banjar secara umum) merupakan kemungkinan yang hanya bisa dilakukan lewat mimpi,” gerutu teman saya suatu hari.

Sebagai seorang yang baru jatuh hati pada dunia kesusastraan, teman saya itu dilanda kemaruk buku sastra, maka harap maklum saja pada ocehannya yang sok-sok intelek. Bagi dia, buku sastra adalah akar dari suatu peradaban. Tak ada negara maju yang tak suka membaca buku, ujarnya. Dan pada hari itu, lepas kami mencari buku sastra di Kota Martapura dan tak mendapati selain sastra pop dan novel-novel agamis yang itupun bajakan, dia memulai sumpah serapahnya.

Read More

“Bagaimana mungkin Kabupaten Banjar bisa maju?” tanyanya lepas ngedumel panjang, lebih kepada diri sendiri ketimbang pada saya yang cuma bisa melongo sambil pesbukan.

Harus diakui, sebagai orang dari Kabupaten Banjar, kami acapkali cemburu ketika melihat Banjarbaru, kota tetangga, yang mampu menghidupkan sastra serta budayanya. Berbagai macam acara seni dilaksanakan di kota itu—ia seolah menjadi pusat dari berbagai kesenian. Selain itu, setidaknya, ada tiga toko buku yang bisa didatangi di Kota Banjarbaru.

Sementara Kabupaten Banjar, yang notabene mewarisi langsung nama nenek moyang yang mendiami Kalsel sejak ratusan tahun lalu, jangankan kegiatan sastra budaya yang “memasyarakat”, sebatas mencari toko buku saja susahnya minta ampun (ada sih sebenarnya beberapa toko kitab yang menjual novel semacam Habiburrahman El-Shirazy atau Buya Hamka—kebanyakan bajakan).

Lama setelah perbincangan saya dengan teman saya yang bercita-cita jadi sastrawan itu, beberapa waktu lalu saya membaca berita tentang Andin Sofyanoor, calon bupati Banjar yang berpasangan dengan KH. Muhammad Syarif Busthom atau Guru Oton, mengangkat isu budaya dan sastra dalam kampanyenya.

Secara singkat, berita tersebut menuliskan tentang kunjungan Andin Sofyanoor ke Desa Cindai Alus, Martapura dan terjadi dialog tentang budaya dan sastra dengan Sigit Purnama Adinegoro, pemerhati seni budaya setempat.

“Kita ingin ada ruang seni khusus dan fasilitas pendukung untuk perhatian dan kemajuan bidang seni sastra dan budaya di Kabupaten Banjar,” kata R Sigit Purnama Adinegoro, dikutip dari koranbanjar.net.

“Seni budaya dan sastra sudah ada masuk dalam program dan visi misi Banjar Bersinar untuk menjadi perhatian dan dikembangkan,” ucap Andin Sofyanoor, menjawab R Sigit Purnama, Jumat (16/10/2020) malam.

Lebih lanjut, Andin Sofyanoor menjelaskan, program untuk kesenian yang ia maksud adalah memberikan dukungan dan membangun fasilitas untuk meningkatkan pencapaian prestasi di bidang kesenian dan pelestarian seni budaya dan sastra.

Isu sastra dan budaya ini tentu menarik untuk diperbincangkan lebih jauh, terutama ketika sudah masuk dalam visi-misi calon yang kelak akan memimpin suatu kabupaten. Selain itu, sejauh pengetahuan saya yang awam ini, baru kali ini ada calon bupati dan wakil bupati yang mengangkat kesenian sebagai bagian dari “rencana tugas” mereka dalam membangun Kabupaten Banjar. Sebuah gagasan yang harus diapresiasi setinggi mungkin mengingat Kabupaten Banjar, dalam hal sastra budaya, selama ini jauh tertinggal dari banyak kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Selatan.

Apakah “ketertinggalan” itu didasari atas sedikitnya pegiat seni dari Kabupaten Banjar? Jelas tidak!

Sebab faktanya: ada banyak seniman dari Kabupaten Banjar yang menggeluti kesenian yang beragam pula; teater tradisi, teater modern, tari, sastra, dan banyak lagi. Selama bertahun-tahun, individu-individu itu menyebar di banyak tempat di Kabupaten Banjar, terpisah, berkumpul sesekali di kota atau kabupaten lain untuk menghadiri acara di “rumah” tetangganya. Sebuah ironi, bukan?

Bagaimana caranya memperbaiki ekosistem kesenian (meliputi sastra, budaya, dan beragam kesenian lain) di Kabupaten Banjar?

Sebagai orang awam yang sesekali menulis dan suka menonton teater, sepemandangan saya, hal utama yang mesti diperhatikan ketika ingin membangun wilayah yang melek terhadap sastra budaya atau seni secara umum, maka mestilah mengenalkan hal tersebut ke berbagai lapisan. Ada banyak cara, beberapa di antaranya adalah dengan membangun perpustakaan dengan beragam buku yang tidak terpusat hanya di tengah kota.

Selanjutnya, walau saya tak tahu bagaimana kuasa seorang bupati serta wakilnya dalam hal ini, akan sangat mendukung jika di Martapura atau Kabupaten Banjar secara umum terdapat toko buku yang tidak hanya menyediakan buku pelajaran sekolah semata.

Selain itu, pemerintah juga bisa menjalin kerjasama dengan para seniman, entah dengan gerakan semacam Seniman Masuk Sekolah, event kesenian yang diadakan setiap bulan, atau mendirikan sanggar-sanggar kesenian di segenap pelosok Kabupaten Banjar untuk mendukung regenerasi sastrawan dan seniman lokal.

Tentu perlu juga membangun tempat pertunjukan sekaligus tempat yang bisa juga digunakan para seniman berkumpul untuk diskusi menggali dan berbagi ide. Dan cara lainnya dan cara lainnya dan cara lainnya. Intinya, ada banyak cara yang bisa digunakan untuk membangkitkan kesenian kalau pemimpin yang kelak menahkodai Kabupaten Banjar memang benar ingin “memperbaikinya”. As simple as that!

Terakhir, untuk menutup tulisan ini, jika Randu Alamsyah—seorang penulis Kalsel yang namanya tak asing lagi di dunia kesusastraan Kalsel dan bahkan nasional—menulis di status facebooknya seperti ini:

“Saya hanya punya satu suara. Jika itu berharga, maka akan saya sumbangkan untuk kandidat walikota yang punya gagasan menjadikan Banjarbaru kota literasi.”

Maka saya sendiri akan mengcopy-paste status itu secara utuh terkecuali “Banjarbaru” yang akan saya rubah menjadi Kabupaten Banjar. Sekian.

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *