PILWALI Banjarmasin, Siapa yang Lebih Unggul?

  • Whatsapp
PILWALI Banjarmasin, Siapa yang Lebih Unggul?

DALAM tradisi NU di Kalsel, ketua NU selalu berbasis Pesantren atau dari kalangan Ulama. Tetapi hari ini tradisi itu telah begeser. Ketua NU dari kalangaan Birokrat dan Sekretaris NU dari kalangan LSM serta Partai Politik (PDI-P), jadi bagi saya harus hati-hati klaim gerbong NU Banua Anam garis lurus dengan figur ketua. Dalam hipotesis saya sebut bahwa Ketua NU tidak berbanding lurus dengan arah dukungan basis Nahdliyin (warga NU).

Lalu kemudian apakah PWNU Kalsel hasil Konferwil 2017 Abdul Haris Makkie sebagai ketua wilayah dan sekretarisnya, Berry Nahdian Furqon, untuk masa khidmat 2018-2023 itu secara langsung akan mendapatkan dukungan warga NU?

Read More

Nampak mesti ada kerja keras untuk meyakinkan basis politiknya. Sebab selama 5 tahun ini basis dukungan NU dan justru lebih banyak nampak bersilarurrahim dengan petahana (Ibnu Sina).

Jika Abdul Haris Makkie sebagai ketua wilayah NU yang tadinya diharapkan “menggarap” dukungan warga NU se Banua Anam, maka ketika beliau didorong maju ke Pilwali Kota Banjarmasin, tentu akan berbeda basis dukungannya. Basis warga NU Se Banua Anam bisa saja akan terpecah, disebabkan terhalangnya suara arus bawah yang mayoritas mengehendaki katua NU itu berkompetisi pada level Provinsi.

Terbukti bahwa PKB yang identik dengan suara Nahdlyin, hari ini ikut dalam koalisi mendukung pertahana, ini buah nyata bahwa model silaturrahim yang selama ini dibangun Ibnu Sina berjalan sangat efektif.

Apakah ada kaitan dengan Pilgub dengan Pilwali?

Jika melihat figur yang “main” di Pilwali, nampaknya tidak ada kaitan atau pengaruh langsung. Sebab sampai hari ini, tidak nampak garis politik antara bakal calon Gubernur dengan bakal calon Walikota yang bertanding.

Jika misal ada kaitan langsung antara Golkar yang mengusung Pama Birin, maka seharunys Golkar mengusung Haji Yuni sebagai ketua DPD Golkar Kota Banjarmasin. Dan jika misalnya PKS mau mengamankan suara Gubernur, maka seharusnya mendukung Sang Petahana disebabkan secara kultural basis PKS Kota Banjarmasin tetap solid bergandengan tangan dengan petahana.

Jika demikian, secara hipotesis sang petahana masih lebih unggul dalam “model politik bacaruk” seperti ini, sebab partai politik para pengusung tidak ada yang solid secara ideologis. Dan soliditas itu hanya ditakar dari aspek pragmatis.

Banjarbaru 19 Agustus 2020

Setia Budhi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *