PUISI ADNAN GUNTUR: SORGA YANG BELOM SELESAI

  • Whatsapp
PUISI ADNAN GUNTUR: SORGA YANG BELOM SELESAI
Ilustrasi | marcosguinoza

MOJO

melalui matamu aku memuntahkan timah dan jangkar melaju sampai menusuk ulu hatimu

bertahun-tahun telah kususun  nama-nama, namun mimpi telah menebarkan cahaya dan lampu melengkingkan tangisannya

Read More

kemanakah kematian memanjangkan-melemahkan nyanyian tubuhku?

seluruh tumpukan abu telah menggelishkan sebagian daun, ditiup angin dan ingatan terpotong, terperas dengan sangat cepat

kau petiki tubuhku, dimana sepuluh anak tangga sedang mengaliri sungai dari sorga, menancapkan kuku dari lendir-lendirnya yang ‘kan mengering

kupalingkan dekapan yang paling membingungkan, mengayuh aroma untuk segala peti yang membakar tubuhku lalu menelannya diam-diam dalam kegelapan

 

Surabaya, 2020

 

TAK KAMI TEMUKAN SORGA                        

selepas hujan kematian mengulitiku, di sebuah perkampungan tempat sorga ada, burung-burung terbang di kelakianku yang hitam

gelap yang gerak tubuhnya statis, terdiam dengan luka menganga – melihatmu, menyemburkan larva—dan darah membutuhkan tangan tuhan, istana hanyalah gema, dari langit dan luka-luka yang membeku

dalam kesendirianku, kutembus roh dari prajurit-prajurit mati, membangun kembali angin dari puing-puing matamu

kau susun sebaris dunia yang beku, menguapkan kembang dan batu-batu karang, kayu menidurkan bebangkai camar, namun pasir telah menemukan wajahnya

tak kami temukan sorga di musim peralihan, telah mereka satukan cerita-cerita yang lahir dengan tetabah nyanyian, pantulan lukisan yang mewarnai tubuh kita dengan warna ungu, menghiasi dinding jendela waktu

 

Surabaya, 2020

 

YANG KAU BACA SEBAGAI KITAB

dalam tidur panjang, sepasang api terbungkuk menghapus telapak tanganmu yang melambai, cahaya membiru di belantaran gunung, namun tak kutemukan mimpiku yang tersusun abu-abu peradaban

kau melarikan diri dalam perasingan, sebelum hujan menaburkan benih yang bulat, sepasang cermin menemukan kita dulu, asik bermain dalam pelataran waktu ibu

kelahiran matahari kau tulisi dalam sajak-sajak putih mataku, seperti aroma gelombang, kau kunyah gulungan debu dari sisa-sisa masa lalu

nadiku berdenyut menjalar ke seluruh mayat-mayat yang tertimbun, di barat kota-kota mati, tangisan terlepas ke dalam huruf-huruf yang kau baca sebagai kitab, sebagai sedu paling melengkung

lalu setetes darah mendesis terseret angin, dari daun-daun di tengah ruang abad ini, kau rayakan kesepian dari apa yang kita sebut rumah, memantulkan wajah-wajah dan menghapusnya sebagai tuhan yang paling cemas

 

urabaya, 2020

 

KOTA-KOTA TANPA NAMA

sebuah cermin menghapus wajah tentangku, kubus raksasa yang terbang dengan lugu, memasang sayapnya dari rerumah pasir kehilanganmu

kureguk tetekmu yang belingsatan, dimana jalan sunyi menuliskan pemabuk musiman dari sorga dan diluar pintu—mungkin tuhan menghembus nyawamu dengan tafsir—- musim hujan yang menggulung-gulung keperihanku

dan keributan pecah sebagai hantu, meski seluruh gugur rambutmu bertempur, kan kutulis beribu ode dengan menangis, setelah awan menyamarkan getar nasib yang terurai

ketika terbangun di sebuah musim, tak kukenali segalanya, bahkan diriku terlihat begitu linglung dan terbongkok-bongkok dalam pikiranku yang lain

lampu-lampu menembus keyakinan di langit yang padam, menyamarkan getar dan gembala yang menggepuk-gepuk cincin telunjuk tangan kiriku, menyesatkan segalanya yang terhitung dengan detak dan menghilangkannya di balik pintu takdir yang menyelubungi kota-kota tanpa nama

 

Surabaya, 2020

LARI KE DALAM LIRIK

kupu-kupu tumbuh dalam kakiku, meninggalkan hujan dan mendesak ke dalam tubuhmu, kenangan muda yang mengantarkan matahari hitam tumbuh

bersarang dipohon malamku, kau berputar-putar, berebut lari seperti orang-orang pergi

wajahmu tercetak dalam sembulan asap jaman, mungkin lampu tak padam, tumbuh dalam kakiku, meninggalkan hujan dan mendesak ke dalam tubuhmu, kenangan muda yang mengantarkan matahari hitam tumbuh

 

Surabaya, 2020

 

LELANGIT SORGA

seekor burung memecahkan telur dari mataku, dada yang terseret ke arus jaman kini dalam reklame iklan bergambar

ada peradaban yang paling purba hinggap dalam kaus berwarna merah, seorang lelaki dengan palu bergambar abu, berkeliling dengan dagingmu di belakang pintu

kupandangi fotomu dari sebuah menara tertinggi, anak-anak tertawa dengan keras, seperti hidup— dari dongeng yang mereka tulis sendiri

sungai mengenalkan lumpur dari ribuan tahun lalu, menyimpan suara pada pecahan kaca, kau menyuarakan kegelapan lelangit sorga

 

Surabaya, 2020

 

BERMIMPI DAN BERNYANYI SETIAP HARI

kereta api adalah kepompong kecil, sepucuk perjalanan yang menumpahkan serbuk-serbuk gairahku, udara menggeletar, tapi dibawah jantungmu sajak-sajak kita berangkatkan

adalah laut dari potongan-potongan baju, gigil disamarkan kabut juga hantu berkepala pelontos, membunyikan jenguk yang menyala-nyala di bintang tak berlangitku

kematian mabuk dalam dzikirku, dari pintu ketidakmungkinan, kau mencair dalam tulisan, mencair dalam lukisan;

yang bermimpi dan bernyanyi setiap hari

 

Surabaya, 2020

 

SORGA YANG BELOM SELESAI

bola memantul dan teraring di cahaya bulan tengah malam, kau serupai pelabuhan dengan tiba-tiba di pintu sayap tubuhku, meraba lorong-lorong mantra yang menyuling para penyamun

kususuri jejak kerang dari masa murungmu, benteng tua yang meninggalkan duri dari pucuk nyiur tepian kota, subuh tumbang, kuungkap rahasia dari nyanyian keningmu

irama blues antropolog peradaban, mengendarai gemuruh sisa sampah dan debu, melalui sorga yang belum selesai

 

Surabaya, 2020

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *