PUISI ARDHI RIDWANSYAH: SEMANGKUK MI REBUS

  • Whatsapp
PUISI ARDHI RIDWANSYAH: SEMANGKUK MI REBUS
Ilustrasi | id.pngtree.com/

GELIAT KATA MENGETUK RASA

kata-kata sudah kurebus,

di tungku yang apinya bergoyang,

Read More

perciknya menjamah tubuh;

geliat panas mendekap gigil,

pada dada yang ringkih.

 

sebaris kalimat telah disajikan,

dituang ke segelas kopi gayo,

yang semerbak menggeliat,

lalu hinggap di bulu hidung.

 

paragraf yang sudah kuketik,

dalam secarik kertas suci,

belum jua belai remamu.

 

ia menari di atas naungan rembulan;

raung kesakitan.

menanti sinar mentari datang,

dan kecup pipi manismu.

Jakarta, 2020

 

 

HENGKANG DARI SELASAR RUMAHMU

di selasar rumahmu,

ilalang bangun lalu disapa angin,

meliuk ke kanan dan ke kiri.

 

di selasar rumahmu,

aku bermimpi tentang kumbang,

yang bercumbu dengan para kembang;

menabur benih demi kesyahduan,

bangkitkan ramai di tengah sunyi tanah lapang,

yang terbunuh sepi.

 

di selasar rumahmu,

wajah-wajah yang sempat kurajut,

dalam benak kini menyalak;

menyuruh raga pergi,

dari dirimu yang sibuk,

memikirkan rumput tetangga.

Jakarta, 2020

 

 

MATINYA PARA ANGKA

angka di jam dinding,

gugur satu per satu,

ia lumpuh karena lelah,

menatap anak manusia;

bermain-main tanpa,

tahu apa yang dimainkan.

 

angka di kalender jatuh,

terkapar dan napasnya,

dibantai waktu yang rekat,

di jam tangan dan dinding.

 

tewas dengan nahas,

buta masa, tuli waktu,

meramu hidup dengan cara,

yang tragis: mati.

Jakarta, 2020

 

 

BUKIT

jejaki bukitmu,

buat ibu datang menyapaku,

ia cerita tentang aku yang dulu;

suka ditimang, dikecup, dibelai.

di bawah naungan sinar mentari,

pukul delapan pagi.

 

saat tulangku masih rapuh,

dan tangis adalah cara diri untuk berekspresi,

ibu simpan iba di dada,

lalu memberi bukitnya padaku.

untuk kuraba, untuk kuhisap.

Jakarta, 2020

 

 

BANGKIT JIWA

telah bangkit jiwa-jiwa,

yang sebelumnya sakit;

dada sesak, mata yang buta,

hati tertutup rapat di antara,

cinta yang merekah.

 

hirup gemulai angin, datang,

mengetuk tubuh sepi, mendekap,

dan mengecup sisakan kenang,

yang buat mata berlinang.

 

terpatri jemari dan aksara,

yang dibalut sajak dengan secarik kertas,

menatap bumantara, melirik para kembang,

duduk merapal doa tentang hari,

penuh kasih sayang.

Jakarta, 2020

 

 

IRONI

lembayung melukai langit,

dan orang-orang pulang mencari,

tempat berteduh dari setiap derita,

yang merekat di degup jantungnya.

 

bicara jalan raya dan jerit klakson,

serta pengemis yang menadah air mata,

ia termangu pada satu kata: ironi.

Jakarta, 2020

 

 

SEMANGKUK MI REBUS

mi rebus ingatkanku padamu,

kita duduk di sebuah warung,

di puncak sana: menggigil.

lalu memburu kehangatan dengan,

semangkuk mi rebus.

 

santap ia dengan rindu yang telah,

kita rawat,

kunyah dan telan,

segenap dingin dengan canda dan tawa.

Jakarta, 2020

 

SAJAK TENTANG NYAMUK

cicak tertawa selepas aku,

menulis sebuah sajak tentang nyamuk,

yang kutepuk kemarin.

 

seperti suara yang pernah berbisik padaku,

ia terngiang di gendang telinga, menganggu,

sesekali merayu untuk segera mengusir ia,

dari mataku yang sendu.

Jakarta, 2020

 

TELEPUISI

dalam puisiku, aku adalah sosok,

yang penuh drama, sesak diksi.

dan kata-kata hilir mudik,

menyemai kesan di benak pemirsa.

 

dalam puisiku, tontonan realitas,

seakan hitam dan putih,

menelusuri ruang sesak dengan hampa,

sorot pelita di gelapnya jiwa.

Jakarta, 2020

Ardhi Ridwansyah
Latest posts by Ardhi Ridwansyah (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *