PUISI ARIS SETIYANTO: FRAGMEN MASA LALU

  • Whatsapp
PUISI ARIS SETIYANTO: FRAGMEN MASA LALU
ilustrasi | marcosguinoza

FRAGMEN MASA LALU

masa lalu berserak di beranda rumah

rerumput membersamainya

Read More

terguyur hujan, acapkali warnanya pudar

pudarlah pula ingatan kenang

 

berapa kali lagi jatuh agar matamu terjaga

mematikan jantung di dalam perutmu

dan berlari segegas cahaya

manusia-manusia azmat, di mana teluknya?

 

gemericik air belum mampu meredam bara

dalam hati yang dicurangi kikir ini

melihat tuan di peraduan

serasa ingin aku menjelang, menikam.

 

Temanggung, 2020

 

 

SEBIJI PUISI

izinkan kutanam sebiji puisi

di ladang hatimu nan kerontang

agar berbunga—agar berbuah

penawar rindu,

saat kita berdiam seperti ini

dendam pun lebur

dalam nyeri yang makin hebat

 

saat sendiri aku mencuri

saat bersama mengenal Tuhan

merapal Ia dalam doa

—dalam setiap sujud

 

puisi memang tumbuh

tapi menjelma duri

akankah kini, aku putuskan memetiknya

sanggupkah!

mampukah!

 

Temanggung, 2020

 

 

 

DENDAM DI LEMBAR PUISI

aku menulis dendam

pada lembar puisi

sebab mulutku beku

serupa jalan terguyur hujan

semalam, bunga-bunga rekah

“kapan kan aku jelang lagi tirani?”

tanyamu, saat tubuhku lepas begini

tiada hati,

betapa sering pun kau kecup altar Tuhan

dan membaca kitab-Nya

 

Temanggung, 2020

 

 

SENANDUNG ALAM

aku titipkan pada punggung ini

keberanian, tampak jauh di bulan

sedang kasihmu hanya untuk pengabdi

alam nan bersenandung

telah menggerus kenangmu atas diriku

di waktu-waktu maha pelik

bahkan, ketika tak ingin terjaga

 

maka terus kau langitkan doa

agar detak jantung itu lekas

memburu, dari balik lembah-lembah

ketika kau salah berpijak

satu kali saja tak bakal ada tujuan pulang

kautemukan aku, menemukanmu

di dasar jurang tak bertuan.

 

Temanggung, 2020

 

 

TERAPUNG

saat tubuh ini istirah

bersua dasar segara,

ada yang menendangku julang udara

terik itu tak mampu butakan

mata, ingin aku terjaga

apakah kini langit biru,

sedang awan keabuan?

 

pekikan alam, o, menusuk

setelah terombang-ambing

kini tersentuh

di pinggiran geladak

tak ada yang mengenaliku

sampai nanti kekasih

hujan sore hari

 

Temanggung, 2020

Aris Setiyanto
Latest posts by Aris Setiyanto (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *