PUISI BUDHI SETYAWAN: GEMURUH PERJUMPAAN

  • Whatsapp
PUISI BUDHI SETYAWAN: GEMURUH PERJUMPAAN
ilustrasi | landandshestudio

GEMURUH PERJUMPAAN

yang menggemuruh adalah debur
perjumpaan di ranah kemarin
masih saja menguasai ingatan
seperti tangan ombak yang menampar
tebing terjal di pulau karang
sepi dan tersembunyi

seperti laut yang menaut jemari angin
kisah tertambat pada cuaca yang piawai
menandai panjang pantai
hingga menyusupkan amsal kenang
lalu mekar di selubung gugusan tahun
sebagai lagu cinta tak henti mengalun

Read More

dan rindu adalah napas tua tersengal
yang bersikeras melompati nganga
jarak dan menumpas batas
mencari jalan bagi bulir renik doa
ke celah cetusan lafalkan sepercik nama
hingga mata langit berkaca kaca
dan tubuh lautan pun hamparkan nyala

Bekasi, 2020 

 

 

SAJAK SELAT

ada bentangan di hadapan
yang mencipta jarak
menyekat jangkau, sementara detak
telah terperangkap pukau
di dalam kata kata yang kerap terbit
pada peramalan nasib di suar langit

pulau pulau kecil yang mengapung
adalah pesan pesan perantau tak terbaca
barangkali sinyal tengah tersesat
di jaring kegelapan era
atau memang ada yang diam diam
ingin mengirap dari penyebutan

hanya riak kecil menerpa tepian
sapuan pelan yang memberi basah sekejap
ruang pun tak lagi menyusun alamat pulang
bagi musim yang memberat rebah
dan segala andai yang tak terkatakan
teronggok di garis pantai menjelma perahu

lapuk dan patah

Bekasi, 2020

 

 

DENDANG LAUT

ada lagu yang dinyanyikan ombak
berulang ulang
iramanya adalah napas dan tarian
bermacam pesan dari semua jenis ikan
juga udang dan teripang

barangkali yang terdengar serupa siulan
menyeret apa yang terpapar
jauh di bawah permukaan
yang menghuni dasar
membaur di lembah pasir dan rumpil karang
juga jejak penyelam yang mencari
gambar matahari di kedalaman

kepak burung dengan warna batu
atau kembang yang menguar
di lintasan waktu
menempuh jelajah jauh menyebar
melupakan gugusan salju

di belahan utara yang tersamar

kapal kapal datang dan pergi

bertukar kabar dan menanyakan nama hari

menyinggahi tepian

yang menyimpan percakapan

memanjang merawi sejarah

terus diziarahi para pembaca

tak mengenal tua

 

angin pun mengangkut putih doa

dan diturunkan jadi gerimis

sebagai pertanda kesuburan harapan

yang sabar untuk tetap bertahan

sampai riwayat tamsil terbuka
dan menjadi musim cahaya

dari arah laut
tahun tahun terbit dan menaut
menyusun tamadun

Bekasi, 2020 

 

 

HUJAN MENYALAKAN PELUKAN

kau berada di sebuah kota yang pendiam
ia tak menanyakan siapakah dirimu
dan kau merasa seperti tenggelam
di sebuah riwayat kelabu dan ambigu

langit menahan perasaan haru
angin dengan titik titik air perlahan mengusapmu
hingga bekal kata yang kaubawa melembap
dalam ingatan pada kekasih merutup ratap

hujan pun tiba menyalakan pelukan
di antara bait bait
sajak yang kaubaca
mengirimkan jejak hangat yang merambat lambat
saat kau merasa di jarak tak tercatat

Bekasi, 2020 

 

 

RASA MANIS YANG DULU

usia tak pernah mendewasakan keinginan
tetap sebagai anak anak yang rewel
dan banyak merengek
minta macam macam
katamu waktu itu di bawah pohon jambu
yang kini benang sari bunganya subur
menyerbuk di rambutmu

ia yang mengalir dalam darah
teramat pintar merunut di wajah perubahan
sering berjingkat dan lalu melesat
seperti menemukan kebaruan
dari petualangan selalu memikat

menua adalah mencari jalan mengingat masa kanak
barangkali masih terasa manis tersisa
dari hal hal kecil dan sederhana
namun kau pun pasti bingung dan tak menghitung
telah berapa tahun melupakan limun

Bekasi, 2020 

Budhi Setyawan
Latest posts by Budhi Setyawan (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *