Puisi Cinta Gio Pratama, Neng, Adalah Alasan Waras Untukmu Tetap Bernapas

  • Whatsapp
Puisi Cinta Gio Pratama, Neng, Adalah Alasan Waras Untukmu Tetap Bernapas

PUISI CINTA, kata seorang kawan, adalah puisi paling jujur yang ditulis oleh penyair manapun. Gio Pratama tidak mengenal kawan saya itu, dan jika pun dia mengenalnya, saya yakin mereka akan adu mulut untuk hal-hal sepele semisal kesalahan tulis kata baku atau typo dalam sebuah tulisan (dan saya akan merekam adu mulut mereka).

Ya begitulah, Gio Pratama itu tipe manusia yang teliti betul soal teks, sedangkan kawan saya yang-tidak-ingin-disebutkan-namanya itu tidak peduli-peduli amat pada kesalahan ejaan dan semacamnya. Daripada bicara teks lebih baik bicara seks, ujarnya seringkali. Tapi menyoal puisi cinta, saya yakin sekali keduanya akan sepakat dan mungkin akan berbalas rayuan kendati keduanya memunyai jenis kelamin yang sama.

Read More

Gio Pratama, mahasiswa yang sengaja menjebak diri dalam dunia perpuisian, adalah penulis muda yang mempunyai bakat dalam banyak hal dan suka bikin iri manusia lain karena ulahnya tersebut. Menyebalkan. Ia pemilik G-Pustaka, penerbit yang belakangan banyak dirujuk oleh penulis–terutama–Kalimantan Selatan untuk menerbitkan karya baik fiksi atau non-fiksi. Ia menyanyi dan menulis lirik pula–ada di youtube. Terutama, ia menulis puisi dan sudah menerbitkan tiga buku puisi: Eufoni Kata (2018), Puisi yang Remuk Berkeping-keping (2019), dan Neng (2021).

Dan saya ingin membicarakan buku puisi yang terakhir itu.

Terbit dalam bentuk ebook di Google Play, Neng adalah sebuah buku kumpulan puisi yang “main-main” dalam penulisannya–tentu dalam arti yang bagus. Ia tidak kaku, bahasa yang dipakai sangat karib di telinga, dan … terasa renyah di lidah–macam kerupuk begitulah.

Puisi-puisi dalam Neng adalah puisi yang sepintas nampak seperti pembicaraan dua sejoli  dilanda kemaruk cinta. Kadang bikin geram, lebih-lebih pada puisi-puisi yang seolah memuat dialog tokoh perempuan (yang saya yakin tidak benar-benar bernama Neng), saya membayangkan Neng ini perempuan jutek dan menyebalkan dan sering bikin geleng-geleng kepala dan mungkin juga lucu dalam beberapa hal dan, jelas sekali, mudah sekali untuk disayangi.

Apakah Neng benar-benar ada?

O, pertanyaan itu tidak penting benar. Yang terpenting, bagaimana Gio bisa menuliskan tokoh Neng yang hanya dalam satu-dua dialog terasa benar-benar hidup dan nyata. Padahal tidak ada penjelasan karakter macam penulisan cerpen atau novel, dan untuk alasan itulah saya kira Neng adalah buku puisi yang sangat layak untuk disebarkan dan dibaca khalayak ramai. Gratis pula, yekan. Uhuk!

Gio Pratama sendiri mengakui bahwa buku yang ia beri judul Neng tersebut merupakan hadiah untuk seorang perempuan yang lebih indah daripada puisi–dan saya rasa itu cukup menjelaskan mengapa di dalamnya banyak sekali momen-momen Uwuu yang terekam dalam bentuk puisi.

“Saya berharap buku ini bisa membahagiakan semua orang, termasuk Neng,” sambungnya–sialan, ia juga berbakat merayu!

Untuk melengkapi tulisan yang tak jelas ini, saya ingin memuat salah satu puisi yang saya syuka syekali …

 

POHON ITU

 Apakah pohon itu kesepian?

Apakah ia merindukan ibu

atau ayah atau anak

atau kawan atau ….

 

Neng, jangan meracau.

 

Tapi apakah pohon

itu punya kesedihan?

Apakah ia punya luka

atau air mata atau cemas

atau ….

 

Neng, kita tak perlu

menanyakan yang tak penting.

Tak perlu memperdebatkannya.

 

Bukankah hidup adalah teka-teki?

Apakah pohon itu suka dengan hidup?

Apakah ia suka teka-teki?

 

Kau terlalu gamang dengan hidup.

Kemari, peluk aku.

 

Apakah pohon itu

ingin dipeluk juga?

 

Gimana, udah kebayang dong Neng itu jenis perempuan macam apa? Jika iya, dan kamu tertarik untuk membaca serta berkenalan dengan Neng, silakan baca gratis dengan klik: Download Buku Puisi Gio Pratama, Neng

Dan untuk Neng–atau siapapun namanya itu tidak penting-penting amat bagi saya–kamu harus tahu bahwa puisi cinta dari seorang penyair adalah puisi yang paling tulus yang pernah ia tulis. Kamu beruntung–jika kamu memang ada di dunia ini dan bukan rekaan dari kepala Gio semata–sudah dihadiahi satu buku puisi yang memuat seutuhnya tentang dirimu. Saya sarankan, jika suatu saat Gio memutuskan untuk menjual buku ini dan tidak lagi menggratiskannya, maka mintalah royalti padanya biar kalian tetap bisa Uwu dan makan-makan untuk menambah keuwuan lainnya.

Puisi cinta Gio Pratama yang ia hadiahkan seutuhnya untukmu itu, Neng, adalah alasan waras untukmu tetap bernapas di tengah dunia yang kacau balau ini.[]

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *