PUISI DEWI ALFIANTI: PEREMPUAN YANG MELARIKAN DIRI DARI HUJAN

  • Whatsapp
PUISI DEWI ALFIANTI: PEREMPUAN YANG MELARIKAN DIRI DARI HUJAN
Ilustrasi | martina.francone

ARAGORN*

Kau menjelma pengembara

mengetuk pintu perlahan saja, dan gaungnya

Read More

meluluhlantakkan ribuan puisi.

Memanggil gerimis saja,

badai datang

meluruhkan narasi apapun yang menggema di pekat udara.

 

Kau pengembara itu, begitu diam, dingin.

Senyummu membuatku bermimpi

tentang negeri benderang dengan seribu matahari

salju mencair di matamu dan malam menjelma suaramu

yang minta didongengkan epos kota kelahiran, sementara kau juga dengan setia

menuturkan kisah dari tempat-tempat yang jauh.

 

Maukah kau tinggal,

sementara mata pedangmu menjanjikan perang yang akan kau menangkan untukku

dan baju zirah yang kupasang berasal dari bisikanmu tentang keberanian.

Kau ksatria penakluk jiwa-jiwa mati di lembah orang-orang mati, Dunharrow

belati yang kuhunus tepat di jantung para orc, terbuat dari binar ketakzimanmu

ketakziman yang hanya untukku.

Milikku.

 

Pada malam-malam di mana kau begitu murung,

kau takkan mendengar apapun

selain nyanyian pengantar tidur.

Nyanyianku

 

Istirahatlah dalam harapan-harapanku.

 

Kau pengembara yang kelak pergi dalam ritmis kabut.

Tanpa hujan.

 

Beribukali aku mencoba menawanmu

dalam hujan

dalam puisi.

 

Tak tahu kah kau?

 

 

Eowyn yang malang

mana mungkin kau bersaing dengan seorang peri.

 

*Aragorn, son of Arathorn. Salah satu pembawa One Ring, cincin Sauron dalam Lord of the Ring trilogy J.R.R. Tolkien. Dalam The Return of the King, dialah raja dari kalangan manusia yang berhasil menyatukan dua kerajaan, Gondor dan Arnor sejak pendahulunya Isildur. Menikah dengan Arwen, putri dari raja peri Elrond. Selanjutnya ia disebut King Ellesar.

 

PEREMPUAN YANG MELARIKAN DIRI DARI HUJAN

Bagaimana aku melupa? tanyanya menuntut.

Entah pada malam yang beraroma pohon

barangkali pada sisa hujan yang menggenang memasuki tanah perlahan.

 

Aku begitu ingin melupa seperti aku selalu memikirkannya. Ratusan kali setiap hari, keluhnya.

Entah pada rumput basah yang runduk menakzimi pagi

mungkin pada sungai khayalan yang mengalun dalam kepalanya

 

Perempuan itu memendam tangis yang dialirkannya dalam puluhan kesunyian.

Bukankah ada mantra untuk melupa? tanyanya suatu kali

seakan-akan kenangan bisa dikibas dalam satu rapalan

 

Hujan akan mengingatkanmu padanya, perempuan malang

saat lelaki itu meminta puisi padamu

Jika aku melarikan diri dari hujan, apakah aku bisa melupa? Perempuan itu mulai putus asa.

Hujan akan mengikutimu, kecuali kau sanggup menikamnya.

 

Aku ingin melupa, tolonglah. Perempuan itu mengiba

sementara kenangan terus menghujamnya, dan hujan terus menjadi kenangan.

Perempuan itu kuyup dalam airmata.

 

Aku akan melupa tentu saja.

Perempuan itu akhirnya pulang menuju senja

langkahnya tertatih menyeret rindu.

 

Tak perlu disampaikan padanya, bahwa ia takkan pernah bisa melupa.

 

 

Januari 2020

 

LINGKARAN WAKTU NONA PEREGRINE*

“Kotamu hujan hari ini?”

 

Setiap kali kau menanyakannya,

aku ingin sekali meminjam lingkaran waktu Nona Peregrine

agar bisa memerangkapmu, bersama hujan dan pertanyaan itu.

Ku ulangi seribu kali setiap hari

Barangkali aku bisa membuat ribuan puisi setelahnya.

 

Januari 2020

 

*Tokoh utama dalam film Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children

 

PARADE BUNGA TULIP

Barangkali kau pernah menatap hamparan tulip di Lesse

meski aku meragukannya.

Kau mungkin hanya berkeliling Amsterdam mengamati sepeda yang lalu lalang di sepanjang jalan.

Kau bilang kau menyukainya, sepeda-sepeda itu

adalah irama keteraturan dalam benakmu yang membenci kekusutmasaian.

Kau mungkin hanya duduk mengawasi orang-orang datang dan berlalu

merayakan sepi seakan itu sebuah konser gegap gempita.

 

Duniamu sunyi dan kau mencandunya.

Kau hanya menengok keluar saat orang-orang meneriakkan namamu

mengajakmu minum secangkir kopi atau menyanyikan Sinatra sesekali.

Ada kalanya,

satu dua peristiwa membuat langkahmu melambat

tapi akhirnya kau kembali

bersama halusinasi tentang masa tua yang tenang.

 

Kemarilah.

Tertawalah di parade bunga tulip Damrak Street.

Ada begitu banyak bunga Tulip, kau yang menanamnya

kau petani bunga yang bersungguh-sungguh, kau tahu.

Menyiram, merawat, kau bahkan bernyanyi untuk bunga-bunga itu.

 

Maka, tertawalah

dan tetap tertawa.

Berhenti merayakan masa tua yang tak pernah tiba itu.

 

Bunga-bunga tulip menunggumu.

Ini parademu, bukan begitu?

 

 

Maret 2020

 

BERABAD KESUNYIAN

Kukirimkan padamu kata

riuh narasi yang tak ada habisnya.

Seperti Serehzda yang harus bicara dan terus bicara

untuk hidupnya.

Bagaimana ia bisa tahu bahwa cerita seharga nyawa itu akan abadi

sebagai dongeng seribu satu malam?

 

Kau jelas bukan raja lalim yang membunuh seorang perempuan hanya karena bosan

tapi kau terendap dalam hening ribuan percakapan

tersesat di dalamnya, barangkali kau mengutuki hari di mana kita pernah bicara

untuk pertama kalinya.

 

Tapi aku tak pernah menyesalinya.

Bahkan ketika kau melarikan diri dari kata yang semakin rimbun di antara kita.

Seperti saudagar dari Baghdad yang melarikan diri dari maut

kau tahu bukan, mereka akhirnya bertemu di Samara.

 

Aku hanya ingin mengatakan, waktu yang kau rentangkan dalam sunyi yang panjang

hanya akan membuat kata menjadi lautan

kau mungkin akan lari menuju tempat tinggi

dan menatap kata menjelma air bah, menenggelamkan apa saja.

 

Dan kau akan mendapatiku tentu saja, di antara semua yang tenggelam.

Tak ada perahu Nuh yang datang menyelamatkan.

 

Namun, seperti ketika sang malaikat kebingungan menemukan saudagar itu di Baghdad

sementara Samara adalah tempat di mana janji dibuat

semua ini sejak awalnya adalah lautan menenggelamkan

aku hanya berhalusinasi tentang tetesan embun menjelma kata yang kukirim bersama angin

Padamu, setiap malamnya.

 

 

Maret 2020

 

BAGAIMANA KALAU KITA MEMBENCI HUJAN BULAN MARET TAHUN INI?

Aku sepenuh tekad membenci hujan bulan Maret

tahun ini.

Hujan menusukkan dingin perlahan ke dalam rongga

jiwa, setikam demi setikam.

Hujan mencerabut perlahan keberanian dari akar

Kepala, setarik demi setarik.

Hujan mematikan harapan bunga Petunia merekah

Di awal hari, selayu demi selayu.

 

Hujan tak mau berhenti, sementara dunia melambat

berputar dalam detak yang tak kunjung beralih ke degup berikutnya.

Semua orang bersembunyi dalam pertanyaan yang sama

Kapan langit memunculkan cahaya pertama musim panas?

 

Hujan konon membawa petaka dalam rerintiknya

mengantar manusia pada ketermanguan

yang tak ada habisnya.

 

Tapi kau keliru, sungguh.

Hujan tak pernah mengkhianatimu dengan cara sekeji itu.

Ia akan selalu mengembarakanmu pada puncak-puncak teragung kehidupan

ia membawamu memimpikan ujung langit terjauh

ia, seperti Rabb yang menciptanya, tak pernah salah memahamimu.

 

Bukan hujan

yang membuatmu tersudut layaknya binatang buruan terluka.

kau sendiri penyebabnya.

Sejak lama kau mengetahuinya, bukan begitu?

 

Apakah kau tetap ingin membencinya? Hujan, maksudku.

 

April 2020

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *