PUISI DIEGO ALPADANI; AKU TIDAK MENCINTAIMU

  • Whatsapp
PUISI DIEGO ALPADANI; AKU TIDAK MENCINTAIMU
Ilustrasi | Pinterest

AKU TIDAK MENCINTAIMU

Aku tidak mencintaimu dengan kata yang keranjingan

dicampuri obat-obat melankolis melekat dalam adukan kopi

Read More

pada pengantar senja yang rumit dan mafhum menjulurkan

lidah berliur menyentuh bibir merah tipis. Kau katakan, sependek-

pendek waktu berulah adalah dua jari kelingking mengikat janji

saat malam mendung dan kantuk bergelantungan di bengkak

kelopak mata.

Aku hilang

Kau pulang

yang lain berdatangan

itu dinamakan perjalanan.

 

Jangan harap aku akan datang membawa satu sajak penggoda

biar merah pipi dan ditarik senyum sabit tanpa simpul di bibirmu,

Aku tidak mencintaimu dengan kata yang berbenih rasa dari gendang

telinga turun ke hati dalamnya sanubari berbuah cinta, itu keranjingan sekali.

 

Agam, 2020

 

 

AKU BAWA BIANGLALA HARI INI

Hari ini aku akan menemuimu

tak lupa bianglala pagi kubungkus

dalam asoi berterbangan di jalan

tentu kupungut supaya bianglala itu

nyaman dan aman dalam asoi dan aku

melenggangang membusungkan dada.

 

Nanti, pada pertemuan singkat itu

izinkan aku mencangkok bianglala di matamu

pasti kau akan bertanya, untuk apa?

Tenang kasih, sepanjang perjalanan

akan kucari jawaban agar kau tak kebingungan.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

KUSAJAKKAN KEKASIHKU

Kau tidak akan pernah paham kekasihku,

segelas darah sapi bisa bermetamorfosis

menjadi kopi hitam yang pekat, hanya saja

cara yang sempat kusajakkan padamu

sedikit lebih sendu dari peperangan singkat

dalam buku-buku sejarah yang ditulis pemenang.

 

Mereka juga tak tahu, kekasih

segelas darah sapi yang menjadi secangkir kopi

selalu diminum para borjuis yang bersemayam

di gua dengan lorong-lorong hitungan masehi,

kekasih, kau perlu paham tentang aksioma

purba secangkir kopi dari segelas darah sapi

jangan lantaran potret-potret keindahan kau seolah

lupa dengan kebutaan-kebutaan yang sengaja dicongkel

dari mata mata saksi di lipatan pasung dalam jeruji.

 

Hari ini saja kekasih

dengar aku yang akan menyajakkan secangkir kopi

pekat sebelum kutumpahkan di lambung aksara

buku-buku.

 

Lepau Wo Wat, 2020

 

 

MUTIARA TERAKHIR PEMBERIAN RATU LALAT

Aku bisa saja menyucuk-nyucuk lubang gas para lalat

tak berotak seenak jidat menitipkan upil di tubir gelas

padahal di Ugyar lalat-lalat hanya ingin terbang melintasi

debu-debu yang melilit perut berpusar kematian.

 

“Aku ingin mutiara terakhir itu kembali di tubir gelas

tanpa asam sulfat, tanpa tamparan yang harus membangunkan

mayat-mayat di Rohingnya.” Itu bukan kalimatku, juga bukan sabda

lalat-lalat yang berkacamata tiga dimensi.

 

Aku penyumpah lalat-lalat penitip upil di tubir gelas itu

roti dan susu telah tersaji tanpa pengabaian kumis Hitler.

 

“kemana perginya? Jadi bagaimana mutiara pemberian ratu lalat

dua ribu dekade lalu? Tidak sesuai dengan isi. Di Ughyar lalat-lalat

telah menjadi makanan pokok. Lalat telah dibasmi tapi mutiara

terakhir masih menjadi misteri!” benar itu bukan risalahku, juga bukan

edaran dari lalat keji peninggal upil di tubir gelas. Di sini lalat adalah

hasil dari racikan rumus jajaran genjang dan jajaran hirarki.

 

Aku menyanyikan mutiara terakhir dari ratu lalat yang terdiam

di menara percintaan. Ya mutiara ya! Bukan lalat ya.

 

Agam, 2020

 

 

BIARLAH

Biar aku menanam sampah kali yang dipungut rasa kesal

di lekuk pinggang tipismu. Supaya kau tahu, dari sampah bisa

membuat cinta itu indah pada waktunya, godok sekali, pekikmu

menggaruk pinggang. Tetap aku pupuk dengan taik-taik kerbau

yang lebih dulu dikeringkan dicampur abu jerami, tak lupa disiram

itu sampah setiap pagi sebelum waktu berjemur tiba.

 

Padang, 2020

Diego Alpadani
Latest posts by Diego Alpadani (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *