PUISI FARIS AL FAISAL; PENGADILAN DI MEJA MAKAN

  • Whatsapp
PUISI FARIS AL FAISAL; PENGADILAN DI MEJA MAKAN
Lukisan Dwi Antono. (FOTO: Brainly)

PENGADILAN DI MEJA MAKAN 

Mari melihat pengadilan

Dari sini, Tuan

Read More

Pada sebuah meja makan

Dan jamuan

Nilai kebenaran.

 

Mulanya berjejer, hidangan

Makanan dan minuman

Jadi hampiran

Menarik-narik angan

Jatuh ke perut pedalaman.

 

Lihatlah, tangan-tangan

Masuk ke cerukan

Mangkuk berlemak pedas, merayakan

Serat daging keratan

Membentur kerongkongan.

 

Di meja yang lain, sajian

Sirup aneka rasa dan warna, memberikan

Kebebasan pilihan

Sendawa dan bunyi-bunyian

Keluar dari kolong persembunyian.

 

Beberapa menit kemudian, Tuhan

Disebutnya, setelah bolak-balik ke jamban

Hilang tawa keserakahan

Dan mereka yang penuh kesederhanaan

Pulang membawa keselamatan.

 

Indramayu, 2019

 

 

GAZEBO KITA

0

Duduklah, di gazebo kita

Berteduh dari tuduh, segala peristiwa

 

1

Melebar pandang, menempuh bukit hijau

Ke lembah, lalu bergeser ke hati yang risau

 

2

Kopi dan potongan roti, pemecah kebisuan

Membuka pintupintu, ruang percakapan

 

3

Aroma kehangatan mengalir, sebuah sungai

Menyeret letak tangan, senyum pun berderai

 

4

Penyair meninggalkan pohon puisi, di sini

Daunnya gugur dan tumbuh, beri arti

 

5

Aku memungut katakata, berjingkat dari waktu

Seperti harapan, esok masih akan ada rindu

 

Indramayu, 2019

 

 

PUISI KORAN

Angin pagi bersepeda mengantarkan koran

Melempar senyum lalu berhembus lagi

Jauh ke sudutsudut yang paling lancip

Menempuh perjalanan kata dan bahasa

Berkejaran dengan berita TV dan kabar online

 

Aku masih setia meneguk bijibiji kopi

Seperti lovebird memecah jewawut

Menebus segala rindu di sangkar madu

 

Berlembarlembar dan kubolakbalik

Kutangkap katakata dan bahasa yang sama

Rumputrumput puisi menghijau di halaman

Seekor kambing bernyanyi dan menari senang

Melihat bungabunga dibelai jemari angin

 

Ada sepotong hati yang mula kuncup jadi mekar

Ada sebaris nama melekat di bawah judul puisi

Melukis lengkung warna pelangi di senyumnya

 

Indramayu, 2019

 

 

SEBUAH KELONTONG

Lorong bolong

Sebuah kelontong

Nyanyi sunyi, bagai puisi

Di tengah hari

 

Tak tampak pemiliknya

Tak seorang pun pembeli

Hanya seekor kucing termangu

Mirip di gambar sabun colek

Ngeong… mengusir kemarau

 

Bunyi kerekan sumur berkeriut

Sebentar kemudian,

Seorang perempuan keluar

Membawa kantong di matanya

Menghujani jalanan

Menghalau panas dan debu

 

Dalam ember air yang hampir susut

Ia mencoba melihat wajahnya

Bayangannya terdahulu. Kini telah pergi

Milik orang lain. Lenyap

Tinggal barang dagang tersisa

Di rak dan toples kuno

Murung seperti bendabenda di museum

 

Indramayu, 2019

 

 

YANG NYALA

Dari runcing mata

Serupa sorot lampu yang nyala

Melumat ke jalan

Ke titik hamparan

Tempatku berdiri, seorang diri

 

Ya, itu matamu, Za

Cahaya sempurna

 

Ada kilat permata di sana

Warna matahari pagi

Hangat mendekap

Tangis embun semalan

Meleleh di pipi dedaunan

 

Indramayu, 2019

 

 

YANG PERGI

Jika telah ke akhirnya

Yang pergi biarlah pergi

Menuju keabadiannya

 

Bebunga keriput, dijemput maut

 

Indramayu, 2019

Faris Al Faisal
Latest posts by Faris Al Faisal (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *