PUISI FIRMAN WALLY: DI TANJUNG LEIHITU

  • Whatsapp
PUISI FIRMAN WALLY: DI TANJUNG LEIHITU

DI TANJUNG LEIHITU

Di tanjung Leihitu

Sering kujumpai anak-anak menari dengan gelombang

Read More

sebelum datangnya topan

Ayah berdansa dengan perahunya

Setelah datangnya angin kencang

 

Sering kujumpai ibu-ibu

Menyanyikan lagu-lagu rindu

Semerdu burung-burung bersiul

menjelang megahnya senja di pucuk benalu

 

Di tanjung Leihitu

Ayah sering meminang ikan gete-gete

untuk dikawinkan dengan ikan garopa

Sebelum perahunya dilepaskan

Pada laut yang disebut dulang

Penghasil kehidupan

 

Di tanjung Leihitu

Segala kisah

Hingga rindu

Bersyair dengan indah di sana

Apalagi saat-saat terlukisnya senja

Mempercantik wajah cakrawala

 

Tahoku, 27 Juni 2020

 

KEMBALI PADA BIBIR PANTAI

Di bibir pantai

Layar ditikam paling dangkal

Semang diikat erat-erat

Perahu dilepaskan

Untuk menikmati asinnya lautan

 

Bila angin menghadang

Gelombang menerjang

Perahu melenggang

doa pun terbentang

di dalam dada yang paling lapang

 

Jika angin dan gelombang terus berdatangan

Maka aruslah menjadi temali

Dan bibir pantai tempat ia kembali

 

Tahoku,28 Juni 2020

 

KAYU MENJELMA PERAHU

Di pagi itu

Langit kelabu

Hanya ada rintik hujan disertai angin kencang

Sunyi di tempat keramaian

Ranting-ranting berkelahi dengan angin

Jatuhkan diri di air laut paling kaki

Di situlah mataku berlabu pada ranting itu

yang menjelma perahu yang diam-diam menjauh

Meninggalkan pesisir paling ibu

 

Tahoku, 30 juni 2020

 

BALADA PELAUT

Sebelum gelap beranjak pergi

Kau sudah ada di hamparan ombak

Di bahu kananmu ada istrimu dalam ratapan

Di bahu kirimu anakmu menangis kelaparan

 

Dayung kautanam pada jerninya air laut

Berharap ikan-ikan menari di perahumu paling perut

Keringatmu mengalir menjadi lautan yang tak kalah asinnya

Doa beribu-ribu berdesir

sebelum kau kembali ke hamparan pasir

 

Di laut

Kau tenggelamkan segala doa

untuk menangkap sepanggal tulang

Yang akan kau liuri di atas dulang

untuk anak dan istrimu yang tersayang

 

Tahoku, 30 juni 2020

LAUTAN TEKA-TEKI

Setelah lama kapal meninggalkan daratan

Mereka berdiri berjejeran di atas haluan

Di mata mereka hanyalah kepulangan

berkah yang sudah lama jadi dambaan

 

Lautan adalah surga mereka

Bibir pantai adalah rumah mereka

Berlayar tinggalkan daratan yang tercinta

Di laut mereka hanya menghasilkan lagu-lagu rindu

sebagai penghibur hati

Sebab nasib yang dicari hanyalah teka-teki

 

Di laut burung-burung berdansa dengan angin

Ikan-ikan timbul tenggelam di atas permukaan

Di mata mereka hanyalah godaan

 

Arus membawa mereka ke sana-ke mari

Mereka pun latih

Karena apa yang dicari mereka hanyalah teka-teki

 

Tahoku, 01 Juli 2020

Firman Wally

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *