PUISI M. RIFDAL AIS ANNAFIS: BEBERAPA TOKOH DALAM CERITA MURAKAMI YANG MENJELMA HANTU SUATU PAGI

  • Whatsapp
PUISI M. RIFDAL AIS ANNAFIS: BEBERAPA TOKOH DALAM CERITA MURAKAMI YANG MENJELMA HANTU SUATU PAGI

Sambil memungut pecah bunyi  Just the Way You Are yang

memutar di piringan terakhir, ia berencana mencari Billy Joel

Read More

dari gugur dedaunan Nadeshiko, lalu bercakap-cakap.

 

“Apa yang memikat pemilik Bar Jazz itu hingga menulis sketsa

novel ini?”

“Aku tidak tau, Aku tidak tau.”

 

Tokoh A memercayai hasrat muda Murakami sewaktu ia menyelinap

ke tongkat baseball Dave Hilton lalu menyeringai,

Tokoh B mengingat-ingat perjumpaan kecilnya, sebelah kiri rak kaset tua

setelah Murakami menonton kemalasan model Jepang di toilet

Tokoh C malah dengan trauma yang menggigit sekujur punggung  menolak

bertemu, tetapi pada akhirnya tergeletak begitu saja di pojok kota Kyoto

 

Tetapi secara kebetulan, paling hingar adalah percik lampu stadium Jingu

setelah malam-malam memungut keringat para Yakult Swallows lalu Hiroshima Carp

dari gemulai kering rumput; jauh ke dada tanah.

 

Tiga kilo meter dari luar Stadium, Westeria dengan bebunga merambat jatuh

meneriaki Murakami untuk gegas pulang, gumpalan-gumpalan pikiran di kepala

segera ruap, lalu tetas dalam siklus Honya yang kaku.

 

Ketiga tokoh itu duduk dengan Kimono sambil menuang sake bersama

lalu rencana-rencana menyembul, serupa sisa nafas ikan Koi di parit rumah

“Kalian percaya, kita akan sering-sering bertamasya. Melewati udara-udara kota.”

“Aku malah memikirkan nasib kata-kata.”

“Lah, kenapa dengan kata-kata?”

“Benar, ia tidak akan lagi memercayai kita.”

 

A Wild Sheep Chase membunuh setiap sunyi yang datang-seperti Seppuku

dalam bahasa lain arsitektur atau kerangka hidup orang-orang.

Semacam tidak ada yang mengambang, lalu mengetuk pintu Minka.

 

Setelah ketiga tokoh itu menepi ke sudut-sudut cerita,

aku telah sampai ke halaman Lima ratus lima, membalikkan punggung yang tak utuh

seperti di gurat katana, tergambar peta-peta luka; Di hari kesekian ini, aku menetap

pada batu kolam-kolam, tanpa teratai, ikan-ikan, lalu di hari lain aku seperti bola baseball

terbentur tanah, atau sesekali tertangkap musuh saat pertandingan baru dimulai.

 

Aku tutup Cover buku itu dengan getir;

Sambil lalu melirik layar ponsel, sebentar menunggu notif  Whatssap,

di depan ada jendela setengah terbuka. Masa lalu-masa depan datang

kemudian. Maka aku seperti menangkap bayang; Ternyata tokoh A itu wanita!

 

Tokoh A itu tetiba bersandar di tembok samping pintu, sumringah

Lalu aku ingat lagi senyummu, SindiDiah, dalam balut jilbab abu-abu

Tokoh A dan engkau menjelma hantu, setiap pagi yang bising; membangunkanku!

 

“Bukankan ia ( Tokoh A itu) yang dikenang sebagai Nakano Takeko mampu

menebas kepala orang-orang Edo dalam paruh Bakufu, memenggal apa saja sejauh

perintah tiba  tetapi kau, SindiDiah, mampu membelah segala urat nadi ku setiap

sekali mekar senyummu.”

 

Hari di tutup kembali, bayangan itu gegas pergi.

 

 

Sumenep, 2021

M. Rifdal Ais Annafis

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *