PUISI MAULIDAN RAHMAN SIREGAR: MENDENGAR LAGU SEDIH SAMBIL MENGIRIM PUISI CINTA PARIPURNA KE KORAN NASIONAL

  • Whatsapp

SAYA

saya menghubungi diri saya

pukul 03.41 pagi dan mendapati

Read More

saya tidak sedang di dalam

diri saya, hingga, saya mengingat

-ingat lagi kenapa saya tidak berada

di dalam diri saya, saya bertanya

kepada diri saya sendiri, kenapa

masih sendiri? di ruang sepi

dan waktu membuat saya mengantuk

akan tetapi, saya malah tidak tidur,

ketika saya menemukan jawaban

bahwa selama ini, saya, diri saya,

tertidur di dalam diri saya,

tapi saya tidak menemukan diri saya

oh Tuhan.

 

Tuhan?

benarkah kita begitu dekat

benarkah kita, kita?

saya merasa, Tuhan tidak butuh

tidur dan ibadah, tidak butuh saya.

 

sialnya saya masih mengantuk

dan belum menemukan diri saya

mereka menyebut ini gabut

sebagian menyebut takut

 

entah takut pada apa

Tuhan?

 

duh, kepala saya lepas dari kepala

saya, dan saya terus saja mengantuk

mengantuk dari hidup yang kian mengamuk

 

2020

 

SAYA (2)

dia semakin sering merenung

menimbang-nimbang waktu, menakar mana

peluang dan mana yang harus segera

dibunuh. menghitung laba dan rugi

menanyakan kembali siapa kawan siapa lawan

ya, dia hanya bertanya, keberanian itu pun

maksudnya, pertanyaan siapa kawan dan siapa

lawan tadi, diajukan untuk dirinya sendiri

mengenang perjuangan, cinta, dan apa saja

yang kemudian jadi hilang

 

dia tidak iseng, sungguh, dia hanya memikirkan itu

sementara, orang-orang secara bergantian masuk

ke dalam hidupnya, sebagian pendukung prabowo,

sebagiannya lagi tidak. pernah dia dapati,

seseorang yang ingin bunuh diri, gagal jadi musisi,

tapi dia tidak peduli

 

ketakutan pada dirinya sendiri adalah alasan

kenapa ia tidak tertarik dengan urusan bunuh diri.

baginya, bunuh diri adalah pekerjaan orang iseng

jangan meminta mati, nanti juga datang sendiri, katanya

 

temannya yang lebih parah darinya pernah bertanya,

“bagaimana caranya menjadi penyair, dan tentunya,

bagaimana caranya terkenal?

 

dia menyuruh temannya rajin memasak mie instan

dan memakannya sambil membaca buku Tere Liye,

Sapardi, Martin Aleida, dan Milan Kundera

 

temannya tidak mau dan mengajaknya berkelahi.

dia bilang, “ayo!”

 

2019

 

 

SENJAKU UNTUKMU

manisku, di bibir senja ini kekasih

masih terbayang kala bibirmu

kugigit, di atas batu-batu laut

 

kau ingin buka semuanya

bajumu, kerudung, dan pangkal paha

 

imaji rayu si ombak laut

tiada apa yang buat kau takut

setan, setan, kau sebut-sebut!

 

Tuhan meminjam mulut mantan

penyair yang kini jadi muazin

apakah kita juga dihardik nasib?

 

aku teringat bait-bait puisi yang

rencananya akan kukirim ke koran

tentang dosa-dosa orang-orang kebanyakan

 

dan kubacakan untukmu

di dalam takut

 

kepada laut dan hantu-hantunya

aku meminta izin, agar menggigitmu

agak sekali lagi!

 

peradaban modern ternyata masih

menempatkan Tuhan di atas segala,

kau mulai menutup segala; termasuk dosa

 

kau bilang padaku,

bangsat! kau tak takut neraka?

 

kutitip sebiji kata di puisi paling sapardi,

dosa dan bahaya; semua fana!

 

bibir senja makin memerah

dan dua tiga pulau kecil di atas pahamu!

 

kau ingin senja-senja selanjutnya

dengan  niat membalas dendam

mengerami puisi demi puisi

 

kau mau menggigit bibirku selamanya!

 

di dalam hati, di dalam banyak puisi

kubilang, aku mau juga

 

melewati banyak senja

dan asyik menggigit puisi

di mulutmu, dalam-dalam!

 

2019

 

 

PADANG

aku berutang pada tiap penyair

yang menulis tubuhmu

sebagai titimangsa

 

titi kamal yang tegang

dalam segala goyang

juga berutang padamu

 

biar aku yang melunasinya

 

tunggu saja waktu

tunggu sebiji tunggu

 

2019

 

 

 

MENDENGAR LAGU SEDIH SAMBIL MENGIRIM PUISI CINTA PARIPURNA KE KORAN NASIONAL

halo bapak redaktur puisi yang tampan

 

perkenalkan, saya puisi

kaki saya puisi, tangan saya juga

saya menulis puisi sebelum Anda dilahirkan

 

saya sebetulnya kecewa

banyak puisi bagus Anda bilang tidak

banyak puisi tidak, Anda bilang bagus

 

seperti di puisi ini

banyak cinta di puisi ini, sungguh

banyak doa juga

 

bukan rayu menunggu

tapi lebur seluruh

hancur, bisa jadi

 

sebab kau lebih memilih puisi-puisi

yang menurut saya hampir puisi

 

selama ini saya diam saja

selama ini saya kira sastra tidak

penting-pentig amat

selama ini, saya kira sastra itu sunyi belaka

 

celakanya, satu puisi bisa 5 juta

celakanya, satu buku bisa 50 juta

saya mau juga

 

makanya saya nekat juga

mengirimmu puisi cinta semacam ini

dan berharap kau khilaf

agak sekali saja!

 

bukan bermaksud menurunkan seleramu

bukan pula menjual diri

 

tapi, sampai kapan kau percaya sama puisi?

 

2019

Maulidan Rahman Siregar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *