PUISI MOH. ROFQIL BAZIKH: KUBUR BAGI PENYAIR

  • Whatsapp
PUISI MOH. ROFQIL BAZIKH: KUBUR BAGI PENYAIR
Carl Spitzweg | Der arme Poet

HIKAYAT BATU-BATU

di bukit kamboja, kususun sendiri maha duka. kesepian

mengapung, lama-lama berani mengurung. melihat ke bawah,

Read More

kedalaman tercipta dari tangan-tangan putih awan. jajar pohonan,

rumputan dengan goyang tetap. aku melihat betapa ketakutan,

kalau tida yang menyangka tubuhku menggelinding tiba-tiba.

atau bisa saja, hujan turun dengan bunyi meraung, membawaku

masuk pada gorong-gorong samping rumahmu.

 

di rumahmu, tumpukan tulang-tulang dari bangkaiku sendiri. kau

susun berbulan-bulan. sebuah bangunan tegak menuding awan.

halaman yang panjang dan tanpa sehelai sekat, berkarat.

katamu, pagar tidak dibutuhkan, agar dengan orang lain

dekat kita menyatu, bertemu di halaman itu. maka aku hanya

terususun rapi di dinding rumahmu, di segenap dasar-dasar

bangunan yang sama megah.

 

di jalan, jujur aku tidak bisa membaca seluruh tanda. sebab

semua tanda terbuat dari bahasa manusia. bahasa yang sering

membuatku bingung. semestinya, tanda dan penunjuk jalan

dibuat untuk semua yang ada di jalan. termasuk tulang

punggungku yang berderak sembarang.

 

Yogyakarta, 2020

 

 

NAMA UNTUK KOPI

dirajut dari benang-benar pahit, kau tumbuh sehampar hitam

melingkar di perut cangkir, kepul yang menyapu kantuk

permukaanmu yang tenang, lepas dari riak, dari setiap ombak.

lain dengan di laut, dipenuhi gemuruh, dihujani sauh-sauh.

 

sekali terhidang, kureguk seluruh. seluruh pahit bersarang

di kerongkongan paling pangkal, betapa dangkal dadaku

menampung seluruh hangat menyengat. aku tidak menemukan

nama paling tepat untuk seluruh tubuhmu yang dibalut pahit.

 

apa-apa yang mengepul atas nama kesepian. kau terus

berdiam di atas meja dengan pelitur setengah hitam.

menunggu nama paling pantas, sekadar menghapus

luka membekas.

 

Yogyakarta, 2020

 

 

DAPUR AJAIB

tanganmu segesit kijang berlari di kerumunan duri rukam.

tanganmu yang lincah, berliuk di atas wajan dan sedikit nyala

api yang berdebar, sesekali mendesis dengan sangat manis

harum meruap ke seluruh penjuru ruangan, menarik penciuman

masuk pelan-pelan ke hidungku kemudian bersarang.

 

katamu, kesedihan harus dibumbui dengan cara paling tepat

setidaknya tidak meninggalkan amis di seluruh hidangan

di sepanjang jalanan waktu. selama tanggal-tanggal melelahkan

 

tanganmu samakin liar, mengalahkan gerak ular.

terus terayuan dari kiri ke kanan, kiri ke kanan, ke kiri lagi

hidup yang kebanyakan anyir, seharusnya memang dibumbui

agar tidak menambah amis yang semakin menajadi-jadi.

 

Yogyakarta, 2020

 

 

KUBUR BAGI PENYAIR

aku meyakini ruh kita akan berdiam di bawah semak berduri ini

sepetak tanah yang kau gali, sebuah ruang paling abadi

aku berdiam meringkuk sendirian, sesekali memeluk lutut

dan mengharapmu berkunjung di waktu-waktu kangen

 

kau meyakini, ruh kita akan lebih cepat dipertemukan

berpelukan sambil mengiringi tangis yang dipanjang-panjangkan

kau membaca seumpama doa larut lalu masuk

ke bagian-bagian dada yang remang diserang kepedihan

 

 

ruh kita akan tumbuh menjalar pada kamboja

di samping nisan kepala.

 

Yogyakarta, 2020

 

 

GENESIS JAHE HANGAT

kutumbuk perlahan tubuh jahe sebagian, sebagian yang lain

sengaja kusisihkan. kuiris lebih pelan menyerupai

sayatan bulan tanggal enam. harum menerobos masuk

ke lubang hidung, berkobar seluruh isi dada

seluruh dunia pedas tiba-tiba

 

air itu mendidih mengalahkan bunyi perut

kobar api yang biasa menjilat pantat wajan

 

sedikit gula dan tumbukan berpelukan

di dalam gelas, bekas bibirmu tidak pernah lepas

irisan yang lain dibiarkan mengambang

sebab harus ada permukaan yang tidak kosang

timbul-tenggelam dalam manis-pedas berisisihan

 

kalau sudah lewat di jalan kerongkongan

seluruh debar semakin berkobar

 

kantuk perlahan surut sampai malam

meninggu di seluruh sudut

 

Yogyakarta, 2020

 

KUBENAMKAN TENUNG INI

demi waktu dan masa yang tidak pernah bisa dicegat

demi jalan musim dan derak angin yang berpilin

kubenamkan tenung ini, sebagai satu-satunya

jalanmu mencintaiku. di zaman yang tidak

dapat kutemukan bentuk kesederhanaan

paling benar. doa sebagai jalan terakhir

 

apalagi memang dunia kita tercipta

dari kesulitan-kesulitan, dari macam

sepi yang berlainan.

manakala danyang ini

sampai di pintu rumahmu

lalu mengetuk pintu dengan cara lain

 

hari ini doa memang akan sedikit lebih

merasa bosan dari biasanya, ia terus

mendengar namamu di sebut-sebut

nama yang satu dan selalu utuh

 

Yogyakarta, 2020

 

 

ZIKIR BURUNG

sambil mematuk pagi, melenguh ke arah langit

kusebut-kusebut nama tuhan, tempat

seluruh luruh macam pepujian

 

dahan yang kududuki dengan tenang

meski selalu bergoyang dicium angin

sekali-kali memang tubuhku

dibungkus dingin

 

ini bahasa kami—barangkali kau

tidak akan pernah mengerti

 

sambil melihat ke bawah

betapa aku tercipta lebih tinggi

dari seluruh yang ada di tanah

 

Yogyakarta, 2020

 

 

AKU SELALU BANGUN KESIANGAN

semalaman aku lembur, mengerjakan

sesuatu yang dikejar-kejar waktu

betapa mengerikan waktu. kubayangkan

ia dengan senapan di tangan,

bukan pedang sebagaimana

diajarkan guru-guru di sekolah dahulu

 

Yogyakarta, 2020

Moh Rofqil Bazikh
Latest posts by Moh Rofqil Bazikh (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *