PUISI MUH. IRWAN APRIALDY: STATUS QUO (PRIVACY NO. 1)

  • Whatsapp
PUISI MUH. IRWAN APRIALDY: STATUS QUO (PRIVACY NO. 1)
Ilustrasi | martina.francone

DOSA PERTAMA

replika wajah selalu palsu. kau dikelabui

rasa ingin tahu; wajah tergerinda tak bercela.

Read More

bagaimana mungkin ada mata yang tak terbasuh

wawasan matahari?

 

pada akhirnya, kaubaca kedangkalan tabiat pelari buta

yang mengeja nama-nama di bawah lampu kota.

di kamar sempit, terbaca nubuat anak yang tak ingin

mengingat foto-foto berbingkai plastik murah

pada dinding rumah ibu di kampung.

 

maka, malam ini adalah buah tanya terlampau ranum

dan jebakan korespondensi tanda silang. kaucium bau tanah

dalam liang mata kopong dan tampak mengiba, dengan raut

yang seolah selalu bertanya: “kenapa?”

 

kini, ia tatap mata sendiri. kau harus sembunyi.

terdengar hantaman dinding: kepala batu. tubuhmu mengering

ditekan kehampaan sepasang tangan yang menggaruk tembok

pembatas ke dunia materi. namun, wajahnya licin dengan sepasang

sorot mata dungu. kau harus menyelamatkan sorot matamu

sebelum seseorang mempelitur papan dan balok jadi meja kerja

dan rangka panjang hari depan agar takkan dipindah dalam

gudang masa muda.

 

ia mengantarmu pulang. kau burung tanpa sarang,

‘kan kembali terbang mencari langit sendiri lagi

dan lagi…

 

Banjarmasin, Maret 2020

 

 

RAMBUT OMBAK

: untuk Peter Pan

 

duapuluh lima sen adalah harga yang kaubayar di muka.

kepulangan delusional. sebelum kapal merapat, ia telah

dijatuhkan lebih dulu lewat tangisan yang menyauh

sekunar penyelamat di tengah laut.

 

kau anak panah lepas. tak ingin dibidik dan kini tugur.

lurus menancap di dinding kamar bujang. siapa sangka,

ia memlebarkan wasangka mendung,  menikam jantung

dan menancapkan belati ke kepala kelanamu.

 

mana pasir? mana laut? mana matahari dan aroma vakansi

di pantai balik kabut?

 

ombak yang menyusup ke helai rambut tak sampai

menggulung pergi nanar dari sprei pesakitan. harga apa

yang harus dibayar demi membalut kenangan setelah

ditawarkan satu kematian, yang hanya

kalian berdua yang tahu?

 

kau tak lagi datang mengusung senyum bolamata.

malam ke malam menjelma ruang tunggu

dari dengus yang fasik.

 

sampaikan pada dinding kayu bahwa kali lain kau tak lagi

datang sebagai petualang yang membawa kompas.

menunjuk ke barat, timur, dan utara.

tapi tidak pernah ke selatan.

 

jadilah peta yang kembali mengingat daya langkah dua kaki

yang menolak kalah—yang ‘kan selalu mengikut arusmu

sampai dada lungkrah dan segala dusta musnah!

 

Banjarmasin, Mei 2020

 

 

CINCIN SEBUAH PAGI

para pemimpi menyiapkan pagi dengan kekejian

sebuah konstelasi yang tercecer nubuatnya. sumpah

gagal ditepati. setelah nafas meluncur dari lubang-lubang

yang memendam dendam, apa yang tersisa? hipotesa

tentang separuh tahun ke depan? di jalan, pengendara mana

yang peduli? pada ujung debat, semua materi berdiri

sendiri-sendiri.

 

seorang pemuda hanya ingin berjalan pulang.

menyesap udara dingin terakhir. merekam pergumulan

yang menunda sebuah akhir bagai pohon-pohon pinggir trotoar

—awal paling kabur dan hijau bagi dua dekade ingatan

tentang apa-apa yang masih bertahan mulia.

 

kesimpulan berjalan di samping. karib tak ingin tiba lebih awal

sebelum usia menyetubuhinya berkali-kali sebagai seorang lelaki.

maka, ia tak butuh tubuh-tubuh lain sebagai penyelia sunyi.

cukup wajah yang menelan gerutu, bibir bawah yang bulat,

juga teladan untuk bermimpi lebih sederhana.

 

dan Wislawa betapa benar tentang angin dan pertemuan

dua daun yang masuk lewat jendela di rumah yang sama.

berdua tergeletak di lantai kayu. menghitung debu sebelum layu.

 

tapi, adakah angin berhembus masuk lewat kolong bawah pintu?

panggilan tak terjawab, tidur nyenyak peredam depresi, ketuk kedatangan

yang khawatir.

 

hipotesa bersambung. dua kebohongan amsal terdakwa menyamar

sebagai dua saksi linglung dalam sidang tanpa hukuman pasti

dari hakim yang bingung. tak ada yang memilih untuk tahu.

sebuah puisi harus dibangun untuk menyiapkan pesta gala penyambutan

—pidato untuk tidak melupakan.

 

kembali ke sebuah pagi, sebuah bidak dipertaruhkan.

papan catur mendaur warna; tak ada kawan. tak ada musuh.

pion-pion saling tubruk! berubah jadi tumpukan tanpa pangkat

dari tumpukan abu yang sama.

 

dan yang terluka hanya dua tangan dengan kebijakan tata laksana

dalam muslihat yang ia mainkan seorang diri!

 

Banjarmasin, Mei 2020

 

 

PADA DARAH

: untuk Wendy

 

satu lagi gulungan alasan kelahiran dibukakan.

setetes kejadian dan ancang-ancang hari depan kausuling

dari pori di kulit gading. matamu basah dan penglihatan

berlari meninggalkan pijakan yang dibebankan

pada tanah kematian ibu. bingkisan macam apa

dihadiahkan pada perempat hidup yang belum semua

dibukakan belokannya?

 

kau kini bidak. selangkah harus maju menghindari

ancaman Sang Ratu. namun, sebelum tergeser

dalam liga peperangan, sudah terterakah jalan dan pola

yang ditanam diam-diam pada peta pengkhianatan?

 

kepalsuan kelak ‘kan dihadiahi pengakuan suara bulat

atas perputaran selapis mata yang tak henti merekam

dan melindungi jutaan kesempatan dari ribuan sentuhan.

 

perbincangan mendadak pahit dalam perpanjangan malam.

bila tak ada tubuh menghibah sebongkah kehangatan

atau doa yang ditarik kencang agar mantap dilepaskan, maka,

dengan apa kaubaringkan tabungan nafas, selain aksara

yang berguguran dari kepala, yang selalu tegak

menunggu di antrian maut?

 

segala warna diterima tanpa ingin kembali berdaya

memaksa nuansa. hari-hari menjeram dari selongsong kesadaran.

 

kaukumpulkan ingatan yang pecah belah

 

: bentangan tanah lapang, hutan-hutan berbedak kabut,

mata air tawar, dan setapak lurus di lindung bengkok

kesepian pohon-pohon.

 

dan di ujung damai ingin kaularutkan silang sisa bahagia

pada pasir dan aroma laut di pantai yang tak ingin

memperdengarkan ombak pada pelaut manapun.

 

Banjarmasin, Mei 2020

 

 

STATUS QUO (PRIVACY NO. 1) 

api itu menyala lagi, Tuan.

tegak di atas lilin yang meleleh menuju penghapusan

bentuk gelap yang niscaya. siapa ‘kan mengetuk

jendela kamarmu ketika sampai ingatan menyakitkan

tentang rahasia sebuah pertemuan? siapa ‘kan berdoa

atau mengutuk ketika ia berhenti jadi budak yang menyapu

lantai rumah seorang karib dan tak pernah mengenal

alasan penghambaannya kepadamu?

 

katakan, ketika racun ia minum sebagai kutukan bersetia,

bagaimana kaupetik bunga-bunga dan menggenggam

tangan seorang anak saudari berkerudungmu? sementara,

saban malam datang hausmu. meminta ditindihi

rasa haus lain, yang bertamu dalam ruang klandestin.

 

melucuti identitas dan berpisah selamanya di taman sunyi

pada malam-malam kaubersihkan riwayat keingkaran usia

lewat anjuran sebuah doa yang kemudian kauhapuskan

ketika menulis alamat pasti menuju rumah-Nya.

 

Banjarmasin, Maret 2020

 

 

MENDENGARKAN OUT OF THE WOODS”*

mungkin luka ini abadi

atau ada yang harus diwariskan

oleh sejarah yang ‘kan mengikis nama

dari zaman dengan cahaya asing

dan identitas-identitas buatan?

 

bagaimana kembali mencinta

setelah wajah bulan retak, disaksikan bintang

yang meledak dan lamban mengabarkan

kematiannya sendiri?

 

aku tak ingin bersedih. mengisi kesunyian

di tahun-tahun yang piatu; menyeduh liminalitas rapat

di gubuk sederhana berpendar cahaya gading,

yang menerangi kesadaran‘tuk menjembatani

kepulangan menuju gerbang batas nirleka.

 

siapa ‘kan bercakap di samping tubuhku?

mematikan lampu dan televisi sebelum besok

terbangun dan doa-doa menjelma impian

yang dilarutkan pada saka belakang rumah?

 

apa kita butuh pertanyaan atau penyembuh

sebelum putusan menjatuhkan daun nama

dari Pohon Hidup?

 

katakan, bagaimana merawat rupa langit hari ini

bila yang kulihat hanya rupa malam semata?

 

selamatkan apapun. selamatkan siapapun.

sebelum lampu kamar dimatikan menuju tidur

yang ternyata tak mementingkan perpanjangan lamun

yang nisbi belaka.

 

Banjarmasin, November 2020

 

*”Out of the Woods” adalah lagu yang dipopulerkan Taylor Swift lewat album kelimanya, 1989.

 

 

ELEVATOR

I.

angin telah menetapkan garda pemburu

yang dilahirkan ‘tuk mencuri kunci Kotak Pandora

di brankas salah satu gedung kota terpencil di tanah

yang terlalu cepat menua. wajah-wajah asing kembali

menjatuhkan topeng dalam pesta.

 

“apa kau siap?” bisiknya.

 

II.

 

udara pernah bergetar hebat ketika hujan

mengembalikan dosa pohon-pohon kemarau.

bayangan tanpa tubuh hinggap ke hadapan doa.

menggoyang bahu kurusmu untuk satu pertanda

yang tak dapat dipecahkan isyarat gaib para leluhur.

 

gelas-gelas pecah berserakan di lantai beku.

pengunjung pesta menginjakkan kaki dan menoreh

lingkar batas nujum yang ‘kan menerkam seluruh

nafas belia yang tersisa.

 

“masih ada waktu?” bisikmu.

 

III.

 

lelaki itu mendendangkan sabda pecinta dan kau

bukan satu yang harus melanjutkan gaungnya.

alamat peristirahatan harus kembali diganti.

barangkali mendekat. barangkali menjauh.

 

namun, bukankah dosa dan berkat tak pernah berpindah sauh?

 

hari ini ciuman harus bertubi diberikan dalam ruang

tanpa penerang. sore dikalahkan malam dan hujan raib

kehilangan angin. lampu kembali dinyalakan

 

: kau harus pulang dan seseorang harus

selalu berpaling.

 

IV.

 

kaurasa, ia melihat nasib buruk dan kalian tak bisa

memimpikan wajah lelah di semburat cahaya pagi.

bila tak pernah ada ucapan selamat tinggal, bukankah

dua anak manusia harus kembali saling menjumpa?

 

sebelum dilepas sebagai amsal wabah dalam kotak elevator,

tidakkah ia ingin menyimpan tatap malu-malumu? seperti ia lipat

baju kotornya ke dalam koper, membawanya terbang dan pulang,

sebelum tangan asing membersihkannya di sebuah binatu?

 

ia ‘kan mengenangmu dengan baik. seperti kauselipkan

ingatan tentang ciuman-ciuman panjang dalam doa-doa

yang membendung kejatuhan sabda dan kutukan masa lalu

yang tak pernah menjadi milikmu.

 

V.

 

kunci yang kaucari berhasil ditemukan. luka selalu

menyajikan rasa sakit yang labil. kauputuskan untuk kembali

membuangnya, mengabaikan titah angin yang ganjil,

hingga kau akan selalu ditetapkan untuk terus mencari

apa akhirnya ‘kan selalu kauhilangkan.

 

Banjarmasin, 26 Januari 2020

 

 

WAJAH BERUAP

: untuk Ai

 

kerja tak terpemanai dan malam-malam lowong usai

setelah sebuah hati merekatkan pecahan keramiknya;

buah pembebasan dari perpisahan yang jauh.

 

seorang biksu pernah membisikkan untuk tidak membuang

sisa pertikaian. sebab itu, angin kering menunggumu

menyambung ruang terbuka jadi alur-alur pembentuk senja.

 

tapi bukan ketajaman guntur. bukan.

 

jutaan mil dari kubur yang melahirkan mitos tentangmu.

ingatan beku bersemayam pada gunung dan bebukit Skandinavia.

terciprat dalam mimpi dan demam tinggi. burung hering

membaptis pagi dengan air segetas batu-batu. matahari

bersiap menghangatkan sejarah yang gigil

di kota pecandu sunyi.

 

kau pengayuh hari. tak tersendat hantu tanah ibu

dan gambaran esok hari. sebab, jam matahari tak memburu

lewat detak. sebab, hanya senyum mengabadi. menyumbat

pendarahan dan rabies dari mulut anjing pemburu

yang melumat diam masa kanakmu.

 

lalu, sebuah ranjang untuk satu tubuh

dan sebuah meja kerja untuk satu hidup.

 

hari ini tak ada yang meramal batas penempatan

menuju pertengahan musim panas, maka, kaucelupkan

kesuntukan urat nadi dalam kawah pemandian air panas.

bumi mengulang lega kelahiran semenjak tiga windu

tertahan kutukan waktu.

 

punggung berbalik dan leher memutar satu tatap.

luka dan airmata terbungkus. tak menyisakan satu delik

dan umpatan pun di kulit sepucat dosa dan pipi semerah apel

dalam mimpi masa kanak.

 

begitulah kau menjadi: wajah beruap yang dicampakkan

beragam pelukan sebelum menyimpan petitih bulan

atau memilih jadi poros perputaran nasib sendiri.

 

bukan. bukan kekasih bagi yang berjinjit masuk ke balik

dinding klandestin. ai, kau kembang api euforia! berkah

bagi malam tahun baru. doa-doa terbaik dalam sujud taubat.

gemuruh “Auld Lang Syne” yang digiring angin barat.

matahari terbit ujung timur!

 

mereka menyambutmu seperti kelahiran melahirkan vakansi

musim panas setelah puisi-puisi pucat pasi perlahan dikuburkan.

 

Banjarmasin, November 2020

Muhammad Irwan Aprialdy
Latest posts by Muhammad Irwan Aprialdy (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *