PUISI MUHAMMAD DAFFA: 3 SAJAK KEPADA PENYAIR W

  • Whatsapp
PUISI MUHAMMAD DAFFA: 3 SAJAK KEPADA PENYAIR W
ilustrasi | marcosguinoza

3 SAJAK KEPADA PENYAIR W

//sebuah tafsir kepenyairan

kesunyianku memecah mata, kantuk yang separuh tertahan—

Read More

ampas-ampas kopi, gelas yang tandas di ujung percakapan

malam alangkah sengit, puisi ditulis atas nama darah dan kematian

kau berjalan menyusur penjuru, rima ke rima, gelandang segala kabut

langit menjadi lain

cinta menemukan kalimat

untuk menyatakan pedih

kita tak pernah bersurat

kepada rindu yang menggonggong di kejauhan

 

//sebuah puisi yang berdendam kepada matamu

puisi menulis dirinya sendiri

membayangkan matamu adalah penjara menuju barzah

rumah terakhir yang memakamkan jiwa kita

raga menjadi abu, buku-buku kehilangan tanda seru

tiada seorang bertahan menyulam waktu

orang-orang lebih sibuk mengurus pagi dan anak yang berlari ke halaman roman

 

//kata-kata yang tak mampu memberi tafsir

mungkin kematian bisa lebih panjang dari masa lalu

tajam mengurai jiwa penyair yang lama semayam dalam dirimu

apakah kata-kata adalah kutukan, selain upaya mencatat usia

sajak selalu hidup dan melahirkan kita

di luar narasi yang oleng

: seorang perempuan menunggu

 

surabaya, september 2019

 

NARASI PEREMPUAN HANTU

aku mengaji dari senandung lelaki yang menulis sajak di atas pengembaraan

aku mengaji langgam ayat-ayat anbiya yang lantang memberi salam ke sekalian cahaya

sebelum lumpuh petang, dibakar catatan masa lalumu—

“tiada sajak bakal mengingat canda lama

serupa candu, aku menuliskanmu

di kamar-kamar puisi, tubuh jauh lebih sunyi

mengendap nafas daun-daun yang berubah biru”

 

datang minggu yang riuh

tapi kau masih jadi masa lalu

di dalam sajak-sajak yang sumbang bersenandung

tak ingin kuantar musim ke pangkuanmu

 

karena matamu jauh lebih sembab

mengarung mimpi-mimpi buta

cinta telah menjelma lembar-lembar yang terbakar

 

surabaya, september 2019

YANG TAK INGIN KAU INGAT DARI MATI

: nini

maut melambai dari lorong kota

sebuah kenangan adalah lagu yang akan terus merekam suaramu

hingga tahun memudar, daun-daun usia disihir angin

mengingat apa yang telanjur kau lupa

rindu menyerbuk ke dalam telaga mataku

segala yang luput akan tersapu kabut

cinta perihal menepi ke bibir sunyi

bukan semata ajal yang menggambar senyummu

melepas pagi dengan bunga-bunga, mengelopak matahari

 

surabaya, september 2019

KOPI TERAKHIR SEBELUM KEPERGIANMU

masih ada secangkir cerita yang belum kau habiskan

dongeng mengapung, membiarkan bibirmu menyeduh

terbayang para moyang yang sibuk berdendang

menyanyikan syair

puisi-puisi yang satir

 

“kematian, lagu yang berulang menyalin riwayatmu

setelah jauh kembara”

 

surabaya, september 2019

 

DENDAM DALAM DUA SAJAK

//adam

katakan, mengapa rembang tubuhmu menyimpan bunga-bunga bara

setelah diperdaya seorang tua yang mengaku sejawat?

 

//hawa

aku hanya ingin mencicip nestapa

sepanjang aminn

burung-burung bermazmur

seraya melantunkan pujian

dari kitab agung

yang dilahirkan ibu cahaya

 

surabaya, september 2019

 

NUBUAT PENYAIR BUTA

sajak yang jerit

alangkah rindu

sajak yang berdarah

alangkah khusyuk

sajak yang pedih

alangkah luka

sajak yang hujan

alangkah ricik

mengurai rima dari kata-katamu!

 

surabaya, september 2019

 

JEJAK LAMPAU DARI SEBUAH KOTA

keramaian menelanku, jejak sejarah meninggalkan langkah tua

di kiri perempatan. masa lalu memahat huruf-huruf buta

untuk lengking sajakku. kau menulis puisi dari benih air mata

perempuan tua yang menadah musim dari lalu-lalang penjual waktu

kata tak pernah selesai menyulam bait-bait suci di tubuhku yang puisi

padahal cinta mengkhatamkan hulu sejak semula

orang-orang diburu perayaan yang memanggil dengan kampung halaman

berkeriap rumah-rumah mati di kepala

 

kemana kubawa selembar rindu selain jantungmu, rumah yang mengembalikan ingatan

seorang pejalan dengan sajak-sajaknya yang senyap tak terkatakan

penyair berdatangan, berkerumun mengudap sejarah

mengingat batas mimpi yang padam

sejauh mana masa lalu

menggurat kegembiraaan semu

di tubuhku yang puisi

 

surabaya, september 2019

 

DI PERSIMPANGAN RINDU

di persimpangan rindu,

aku bertemu kata-kata

ia mengajakku sowan ke pelukanmu

yang mabuk dalam candu temu

 

surabaya, september 2019

 

HALAMAN NENEK

sembari menyiram bunga-bunga,

nenek menyenandungkan sebuah puisi

“ada cinta disemai tangkai-tangkai hujan

air matanya rimbun serupa musim

rekah dicumbu ayah”

 

surabaya, september 2019

 

BERGURU SAJAK

mengaji bunyi ke lambungmu

: buku-buku yang ramah

menyulap kisah seru para petualang

diburu hari bising

 

surabaya, september 2019

Muhammad Daffa

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *