PUISI MUHAMMAD DAFFA; PENYAIR MINGGU MATI SURI

  • Whatsapp
PUISI MUHAMMAD DAFFA; PENYAIR MINGGU MATI SURI
Instagram | madziowa_p

MALAM PERCAKAPAN

dan kudengar rimbun tangismu

meninggalkan gema yang tak kunjung hilang

Read More

kudengar sepasang suara bertukar bisiknya

menggaung ungkapan lama

cinta yang buru-buru ditulis sebagai notasi waktu

tak sempat memilih dirinya sendiri

berkubur kesementaraan kelana

 

iringi aku, katamu

ke dalam ziarah terakhir

menumpahkan cemas

dan doa-doa yang kita punya

raib ke belukar gema

meninggalkan tubuh yang terbata-bata

menukar bayangmu dengan ketiadaan

 

Surabaya, 2020

 

TUBUH BERLUMUR SAJAK

tubuh berlumur sajak, gugur sebagai bahasa yang padam

memilih bunga-bunga kemarau, dirontokkan hasrat purba

 

aku masih kerepotan membedakan suara sajak

yang bergema di ulu jantung

sementara para penyair membagi perumpamaan milik mereka

kepada koran pagi yang sibuk dengan iklan kecantikan

 

tak ada beda antara tubuh yang berlumur sajak

dengan unggun kata-kata

membakar keyakinanku

yang tanggal ke dalam jurang neraka

 

sepasukan rima menabuh bunyi yang salah

memanggil manggil petaka sebagai narasi penghubung antara maut dan lelucon lama

 

Surabaya, 2020

 

PUISI MASUK SURGA

di hari minggu

puisi memutuskan hening

ke dalam mayat pertapa

membaca peta utama

menuju surga

 

di minggu murung,

puisi temukan jalan sunyi

menuju surga

di seonggok mayat pertapa

 

sebentang firdaus

mengangakan celah

bagi kematian puisi yang tak tentu

 

Surabaya, 2020

 

ADA BUKU YANG SELALU TERBUKA

kau bertanya tentang sebuah buku yang selalu terbuka

kukatakan pada malam, ketika kelopak-kelopak musim saling buka, terkam-menerkam

“di tubuhmu lah kutemukan buku itu

selalu membuka serupa jalan panjang menuju cahaya

tak ingin menutup diri bagi penjelajahanku yang tak ada habisnya

mengurai nyeri dunia”

 

Surabaya, 2020

 

 

PENYAIR MINGGU MATI SURI

serupa keheningan puisi

penyair memilih bungkam

daripada kehilangan kata-kata

ketika suara-suara

saling bunuh di udara

menerkam kejalangan tahun

 

dan tak ada sesiapa yang ingin peduli

ada yang selalu sembunyi

di antara puing kesedihan

merombak geram yang rimbun

mengalirkan sungai sungai dendam

 

Surabaya, 2020

 

JATUH CINTA PENYAIR

adakah kutukan

ketika ciuman bekerja

di luar musim?

 

hujan membaca tubuhmu

ketika hanyut dalam kisaran lagu

ada notasi yang mengingatkanmu pada aroma percakapan

 

sementara aku teringat malam-malam yang terbakar

hasrat yang liar berlepasan mencari celah tualang

tak ingin gugup ketika menyentuhmu

 

Surabaya, 2020

 

KENCAN PUISI

minggu membuka celah tualang

bagi kembara langkah kita

 

kubayangkan taman-taman berebut wangimu

lalu bermimpi tentang lelucon sepasang angsa beterbangan di angkasa

memilih kemurungan puisi

sebelum senyap menghapusnya

 

Surabaya, 2020

 

MINGGU YANG REDAM

ada lelucon setelah puisi gugur sebagai pahlawan kesiangan,

 

“para penyair mencari wajah mereka

di kolom minggu sebuah koran ternama

berharap ada lelucon baru yang ditemukan

dari wajah-wajah itu, yang dandanannya sepucat mayat,

mengambang antara keputusasaan”

 

Surabaya, 2020

 

 

SETELAH KOPI TAK ADA LAGI

di cangkir kopimu, magrib telah beralih

dan puisi kehilangan dalih untuk berplesir ke tubuh kekasih

 

Surabaya, 2020

 

 

KETIKA KAU MENJELMA PERAYAAN DI TUBUHKU

malam memilih tubuhku sebagai tempat singgah sementara

kota berlalu sebagai arus yang deras

mengombang-ambing masa depan pada lajur yang bising

 

masa lalu masih menutup lembarnya

mengubur suara-suara klise ke dalam album di museum kota

meramu kisah-kasih sendirian

 

Surabaya, 2020

Muhammad Daffa

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *