PUISI MUHAMMAD IRWAN APRIALDY: KAMAR NO. 495

  • Whatsapp
PUISI MUHAMMAD IRWAN APRIALDY: KAMAR NO. 495
Instagram | martinafrancone_

KAMAR NO. 495

ini sepapan pintu untuk mereka dobrak kebebalan diamnya.

sebab, tak ada yang ‘kan beranjak membuka. bila malam

Read More

tak turun dan matahari masih enggan mengatur curah penerangan,

maka, tak ada langkah berderap keluar meninggalkan

perangkap sampar dini demensia.

 

ini kisah yang lain dan singsingan asing dalam genap

pertumbuhan sang serigala. matanya sepasang bola cenayang

dan ia dikutuk tak mampu meramalkan nasibnya sendiri.

awan kuning menyepuh abad-abad perak kefasikan.

siapa mengutuk dan siapa yang mengaduh?

 

burung-burung cemas meninggalkan sarang. bulan masih selibat

dan suara lolongan panjang merapatkan selimutnya dari gigil usia

yang semaput. kutanyakan,”siapa yang tak ingin diikat dan siapa

yang memamerkan luka sayat ingatan?”

 

sepapan pintu masih tugur menampi geram tamu-tamu malam

tak diundang. namun, bukankah kamar itu telah lama

tak dikunci dari dalam?

 

Banjarmasin, 20 April 2020

 

 

FOTO

andai pelarian berhasil dijalankan

saat usia pertemuan masih sesingkat

durasi satu musim, barangkali, tak ada

yang perlu khawatir tentang warna wajah

di lingkup kemoyangan bukit dan hijau rerumput

yang terlalu jujur menyingkap sayatan gelap

dosa-dosa yang dilak malam.

 

bagaimana memutar ulang pertemuan

dan membatalkan berbagai kejadian?

kau jatuh untuk kali kesekian. tak mungkin berbalik

sebagai remaja yang mencatat pidato pemberangkatan

menuju pintu asali.

 

kota-kota mengembalikan bayang yang kaurindukan

dengan saksama. pada bangku merah jambu, kau harus

duduk diam dan membiarkan apa-apa singgah.

membiarkan nama-nama melintas;

 

batu yang perlahan tenggelam ke dasar kolam.

 

Banjarmasin, Juli 2020

 

 

BALKON SENJA

untuk M

 

apa ini penting? senja menutup mulut saat panggilan

melepas lazuardi terakhir diabaikan. namun, pemandangan

pintu kamar setengah terbuka dari balkon kediaman

di jalan lintasan itu tak pernah ingin kaulewatkan.

mengulang jeda merah jambu dari awal musim hujan

yang menghijaukan ladang mandul para janda tua

di tanah asing.

 

kau berkata, “sekali lagi.”

 

tungkai berkurap, kacamata terbodohi, dan rambut kuning

hasil adaptasi angan yang tak dibutuhkan ubin rumah siapapun.

inikah hadiah penyelubungan dosa? torsonya memendam

kucur pelarian. kau mengambil kesempatan.

 

setelah gelap lunas di garis malam, kau berjaga pada alarm kehilangan.

ia terlalu muda, kau terlampau ranum memaklumi luka.

seperti candu substansi merenggut ciuman seorang pemuda

dari bibir penuh seorang gadis, biar kuludahkan cerita keterabaian

di tepi ramalan saat teja bergumul sebelum kauziarahi geming

mesin tik khayalanku.

 

menyapu debu kap penutup seperti memandikan tubuh

yang mati berkali-kali: apa ini penting?

sapaan terabaikan: apa yang kauinginkan?

 

bahasa tak lunas ditagih dari kursi panas sebuah kelas.

ia memangkas rambut dari isolasi yang hanya menghadiahinya

rumpang pemberontakan. namun, ia pula yang menyuapimu benih

tak bertumbuh di buku sketsa cabulmu.

 

di taman kota dan kerumunan tanpa identitas, sekali lagi

kalian bertemu. ia tak menyapa. tak menghargai apa-apa

yang pernah kautanggalkan di depan pintu setengah terbuka.

 

ia masih terlalu muda. kau yang harus menggarami luka.

 

masih kau tengadah saat melintas lelah. melihat pintu kamar

setengah terbuka dari balkon; kandang kenaifan seekor manusia

yang belum dihadiahi kotak hitam perpanjangan usia.

 

tanyamu,

“apa ini penting?”

 

Banjarmasin, 30 Juli 2020

 

 

DI KABIN

di kabin, kau hanya ingin mendulang suka cita

gandum kering. mengikat kejujuran rahang terkatup

jadi sebundel penuh rahasia, yang tak terceritakan

pada kabut hutan sekalipun.

 

sepotong kemeja flanel tua selalu membisu atas kakimu

yang bersijingkat di garis cahaya celah pintu.

lalu, apa ini sebongkah tubuh dan keingkaran yang dicoret

dari seluruh riwayat percakapan malam?

 

menua dalam sunyi dan bertutur pada pengkaji bulan

adalah caramu mengikat jerit dan teror lantai bergerit.

serepih warna buram dari perjanjian seluruh potret

masa mudamu pada tabiat waktu.

 

setelah ini, kau tak lagi ingin berkelana jauh.

setelah ini, kau tak lagi berkabar imanmu jatuh.

 

basuh punggungmu di mata air kesendirian.

basuh pula rambutmu. tiriskan kemelut batu dan jenuh

kelembaman debu. lalu, kembalilah tidur mengurai pedih

penanggungan stigmata: duri yang tak berani kautuliskan!

 

surga tak terbeli dari sekeping amal belaka.

namun, di dalam kabin, kau masih ingin bangun

serupa denting piano tua di sore yang berbahagia sambil berkata,

“kita bertemu lagi di ruas lain sebuah hari.”

 

 

kau bertemu lagi dengan kesempatan lain.

menebus cerita raja-raja tanpa nama yang diwariskan

tingkah maut pada kematian seorang pria tua

di bangku sebuah stasiun kereta.

 

namun, tidak ada yang mau menuliskan

bayangan yang ditinggalkannya.

 

Banjarmasin, Juli 2020

 

 

DI SOFA

di sofa,  kauingin ia menggapai dukamu

dengan makna puisi terbuka dan tatapan

paling diam. luka harus dikeringkan

dan pelarian geming kembali dicatatkan.

kau keluar dari lampu sorot sebuah panggung

ke remang rendah percakapan kafe.

 

ada kopi yang harus diseduh dan asam waktu

yang harus ia habiskan. ia menghapus abjad

dari nama lahirmu.

 

bertukar rahasia adalah cara bertahan waras

mendera sejarah gelap pendewasaan. ada hidup

yang harus nyaman dikenakan di sebalik jaket mahal

dan sepasang kebenaran yang diistirahatkan

di sebalik kaos kaki tebal itu.

 

maka, baringkan segala penjelasan yang tak dibutuhkan.

temukan ia sebagai pencahayaan hangat di ruang gelap

pembekuan mata lensamu.

 

dan di sofa, tak ada yang perlu menjelaskan ini mimpi

atau kenyataan yang harus diselipkan pada halaman

album foto sebelah mana.

 

Banjarmasin, 1 Juli 2020

 

 

TEH DAN TEMBAKAU

di hadapan teh dan tembakau kaubeberkan penghapusan

nama-nama para pengampu tamsil. tak ada yang perlu diluruskan

atas angin yang sehembus bertiupan di trotoar yang merindu

riwayat langkah anak menyesatkan diri dari alamat

yang tak ingin ia sebut rumah.

 

sebuah cangkir harus dilukis indah bermodal tangan renta

yang membuang cat hitam dan umur yang dikerubung mendung.

 

ungkapan pedih tak diperlukan. maka, kembali kauputar kicau

burung yang bersikeras terbang di langit musim dingin,

mendarat di tuts sebuah piano, dan mengabarkan tabah sayap

yang direkam sunyi pencarian dalam ruang-ruang tertutup

 

: kamar-kamar jompo mengundang

datang memento.

 

berbatang penundaan dan secerap nostalgia dari ingatan

yang tak kaumiliki. seseorang bersandar membunuh

rasa takutnya. lelaki paruh baya bergegas pulang

menanggalkan paruh penaklukannya atas wawasan usang

yang tak dibesarkan rahim ibunya. seorang pemuda berdiri

di tengah reruntuhan. singgasana dan mahkota teronggok

sebagai duka tertabung—dididihkan sunyi, didiamkan keadaan,

lalu dibekukan ancaman maut.

 

kamar mandi asing dan rasa nyeri yang kaurindukan.

sebuah perjalanan dan sepetak kurungan cerita. kicauan fajar

harus ditranskripsi atau ditulis ulang. matahari harus menyembuhkan

atau musim dingin harus merawat umur dari keramaian.

 

di hadapan teh dan tembakau, penghapusan riwayat

harus dilakukan dengan tenang.

 

Banjarmasin, 1 Juli 2020

Muhammad Irwan Aprialdy

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *