PUISI-PUISI ABI N. BAYAN: DI TELUK LOLODA

  • Whatsapp
Puisi Abi N Bayan
Puisi Abi N Bayan

BERSEKOLAH DI LIMA TEMPAT

 Waktu kecil,

saya bersekolah di lima tempat

Read More

sebagian guru saya batu, buta, dan bisu

dari mereka—–saya belajar banyak hal

beberapa di antara——- yang saya ingat,

 

bahwa cinta adalah contoh yang harus diteladani

bahwa contoh harus ditunjukkan dengan cinta, gagah, dan cantik

bahwa perahu, bika, dan saloi adalah tas dan buku

bahwa parang, linggis, tamako, dan dayung adalah pena

bahwa kampung, rumah, laut, dan kebun adalah sekolah

bahwa menjadi manusia tak harus menjadi orang besar

bahwa menjadi orang besar harus menjadi manusia.

 

Setelah bertahun-tahun mengembara di tanah rantau

betapa gembiranya saya ketika kembali ke kampung

saya bisa melanjutkan studi saya di rumah, di pantai

di kebun, secara gratis, bebas———- dan merdeka.

 

Supu, 2020.

  

KEMBALI KE SEKOLAH

1/

Ibu ke kebun menggendong saloi

saya ke sekolah menggendong tas

ayah ke kebun menggendong parang

saya ke sekolah menggendong pena

 

dari kebun

ayah dan ibu pulang membawa

buah, kayu, sayur, pisang, dan kelapa

dari sekolah

saya pulang membawa

tas, buku, pena—— dada, dan kepala.

 

2/

Ayah ke laut membawa dayung

saya ke sekolah membawa pena

di laut ayah menulis di perahu

di sekolah saya menulis di buku

 

di laut ayah menulis

saya, angin, hujan, ombak, dan ikan-ikan

di sekolah saya menulis

ayam, angan, ingin, omong, dan akan-akan.

 

Supu, 2020.

 

DI KAMPUNG

Ilmu yang saya bawa

dari kampus dan buku-buku

setiap hari saya bawa ke pantai

di tepi pantai————–kami duduk

menunggu para nelayan pulang bersekolah.

 

Ilmu yang saya bawa

dari kampus dan buku-buku

dua kali seminggu saya bawa ke bukit

di bukit, kami bekerja sambil belajar kepada

akar, pohon, ranting, daun, buah, bunga, dan burung-burung.

 

Ilmu yang bawa

dari kampus dan buku-buku

bertahun-tahun membawa saya

—————————-ke kampung khayalan

saya pulang membawa mereka

untuk menemukan kenyataan

di sini.

 

Supu, 2020.

 

DI TELUK LOLODA

Ombak yang sering nyasar ke mata kita—- kini tak lagi kesasar. Aku tak tahu, apa karena angin yang terlalu sering bertiup dari pantai selatan. Atau laut masih ingin menyimpan rindunya, dan pada waktunya akan ia lepas. Kemudian ke mata kita ia kembali berdebur, ke dada kita ia kembali melebur—-dan kita, harus kembali berlibur, dari laut yang telah kita anggap sebagai sekolah, sebagai madrasah. Kemudian kepada kebun, kepada bukit—– kita kembali bersekolah.

 

Supu, 2020.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *