PUISI-PUISI JULIAN MAHKMUDASA: GAGA

PUISI-PUISI JULIAN MAHKMUDASA: GAGA
ilustrasi | rafii syihab

Namanya Gaga

Gaga ingin tahu makna dari namanya

namun sayang, kitab yang ada di tangannya

Read More

tak satupun membahas perihal pemaknaan

namanya. Ia bingung, harus pada apa ia dapat

menanyakan makna namanya.

 

Juga bapaknya dan sekelebat manusia yang dijumpa

tak satupun tahu makna namanya. Diadukan pada

layar laptop, mati total itu laptop tak tahu jawab. Disesak

pada udud pamannya, lekas membara dan menjadi abu

itu udud di dalam bungkus kaleng, sudah seperti

kerupuk palembang dulu-dulu. Gaga muak, ia tempuh

 

kelakar makna dari tiap-tiap pemaknaan yang mendekati

fonem namanya. Sama saja yang ia dapat, tak lebih dari

nihil, tak lebih. Lebih-lebih Gaga mulai pasrah di dalam

baju yang dikenakannya. Entah kitab mana yang dapat

mengurai namanya.

 

Khatib, 2021

 

Gaga Gila

Aku berjumpa Gaga yang mulai gila

kerena tak pernah tahu makna namanya.

 

Di ladang luas yang kini menjadi jalan raya,

di sana Gaga ketawa-ketawa melihat bertakterhitung

pasangan manusia lalu-layang menggunkana besi-besi

tegar. Sesekali Gaga berteriak dari balik ketek

manusia yang duduk mesra-mesra di trotar jalan.

 

Teriakannya membawaku pada melepas niat

ingin bertanya, “bukankah makna bisa dibuat suka

-suka?”

 

Khatib, 2021

 

Gaga Gila II

Kali ini aku menemui Gaga di tempat yang sama

namun keadaannya berbeda. Ia tak lagi ketawa-

ketawa, senyum-senyum saja sesekali angguk

geleng ia punya kepala. Aku mendekatinya

yang mungkin lagi tak ingin didekati, karena

biasanya ialah yang selalu mendekati siapa saja.

 

Aku di hadapannya. Ia senyum, aku senyum.

Ia angguk, aku tenang saja. Ia geleng aku bertanya,

besok pasang angka berapa? Ia tertawa dan lari

di sepanjang trotoar Khatib Sulaiman.

 

Khatib, 2021

 

Gaga Gila III

Kali ini aku benar-benar tak berniat bertemu Gaga,

namun Tuhan yang Maha Mempertemukan punya

segala cara untuk suatu temu yang tak diduga.

 

Gaga tampak lebih daripada Gaga yang selama ini

ketawa-ketiwi. Rambutnya dibabat hingga menggantung

di pangkal leher. Ia mengingatku, ia mendekatiku, aku sudah

bersiap menanyakan angka berapa harus dipasang besok

kepadanya. Dari dekat ternyata ia lebh cantik jika dilihat

dengan cara ada maksud ingin menanyakan angka.

 

Ia berkata, lima. Kemudian ia memunggungiku, dan

kembali berkata, enam. Aku bahagia dan siap-

siap memasang angka.

 

Khatib, 2021

 

Gaga Gila IV

Puncak marahku membawa pada harus bertemu

Gaga. Memang benar orang gila tak dapat dipercaya,

angka yang kupasang tak jebol, tentu melayang 5M

yang kubayangkan. Di trotoar Khatib Sulaiman kutemukan

Gaga tak ketawa-ketawa, langsung kulontarkan kemarahan

padanya.

 

Ia tampak tenag-tenang saja. Dasar orang gila, gumamku

dan kembali memakinya.

 

Tak lama kumaki. Ia berbicara, “lima itu rukun dan

enampun pun rukun. Namun Gaga bukan dukun, hanya

mencoba mencari makna dari nama.”

 

Aku tak terdiam, “dasar gila! Angkamu tak dapat

dipercaya,” bentakku.

 

“Dasar gila, masak percaya pada orang gila.”

 

Khatib, 2021

Avatar
Latest posts by Julian Mahkmudasa (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *