PUISI-PUISI MUHAMMAD DAFFA; WARTA ASU

  • Whatsapp
PUISI-PUISI MUHAMMAD DAFFA; WARTA ASU
Instagram | Marcosguinoza

PARAFRASE LEMBAR KITAB

kata-kata menyeruak dari halaman muka

berebut wangi tubuhmu

Read More

kita sepasang musim yang khatam meramu cium

 

biarkan puisi bekerja sebagaimana bahasa

mencintai mulut orang suci

 

aku narasi yang genap menghitung kecantikanmu

kau di luar aku, mencari yang mungkin tersisa dari seremoni temu

 

lembaran tubuhmu menafsir seekor puisi

tercuri kejalangan tualang

melukis doa yang berpagut bibir paling ranum

 

banjarbaru, juni 2020

 

CATATAN-CATATAN YANG BARANGKALI INGIN KAU BACA SETELAH PUISI PENSIUN

1

ada siapa di balik tanya, mengintip diam-diam, Tuan Penyair?

puisi tak butuh dana pensiun setelah peresmian tamasya

di ujung minggu yang lamur

 

2

ramai dunia membawa gunjing anak belia yang tak tahu cara mengoyak air mata hujan

di pucuk-pucuk bunga

3

siapa yang semalam bertamu ke dalam mimpi

mengarak sunyi yang lain

 

sementara itu, para perempuan berkerumun

di luar nyenyak pedihmu

membaca raungan tahun yang berkabut

 

begitu pula puisi ini

menghampar sedihnya sendiri

 

terusirlah gunjing

ditebar penyair-penyair bunting

memuntahkan sepi yang jalang

 

banjarbaru, juni 2020

 

 

MBAH JOKO DAN SEEKOR ASU

Mbah Joko sudah renta

sebentar lagi usia akan melumatnya

menggulingkan jasadnya ke dalam liang lahat

cacing-cacing pastilah berpesta

merayakan jeritnya

 

Mbah Joko dukun yang waskita

segala yang dikatakan pastilah benar adanya

di suatu waktu, seorang perempuan datang

mengaku kehilangan anaknya

“siapa nama anakmu, mbok?”

“Asu Minggu Pagi, Mbah Joko!”

 

tiba-tiba, pandangan Mbah Joko mengabur

sebuah dunia berlari ke dalam kepalanya

menghitung mundur peristiwa

 

Asu Minggu Pagi tengah bermain di sebuah taman

ada mobil datang, orang-orang dengan jumlah cukup banyak

keluar dari dalamnya, mereka bawa sebuah catatan

mengaku utusan presiden

 

“tembak terlebih dulu kepalanya

agar ingatan bisa mati dan tak akan diingatnya lagi kejadian hari ini!”

 

dorr! semua menggelap

kembali ke muasalnya

 

Mbah Joko membuka matanya

ia berada di dalam sebuah labirin

rupanya ada setan yang coba mengajaknya bermain

atau ingin berlepas dari mantra yang diikatnya pada buhul-buhul?

 

seorang perempuan datang

duduk di sudut terjauh

membawa bangkai asu yang malang

 

“jarahlah darahnya sebagaimana masa lalu

bunuh diri dalam program layar kaca, Joko!”

 

surabaya, maret 2020

 

 

MERAYAKAN ASU

adakah ciumanmu

mengirim wangsit rindu

ke dalam tubuhku

hening batu-batu

 

adakah ciumanmu

membaca tubuhku

berkabar lolong doa

sendiri mengaduh

memanggil-manggil surga yang jauh?

 

siapa bakal percaya

jika ciumanmu lebih berbahaya

dari negara yang asu

 

para penyair gugur

ditempeleng koran pagi

dan ribuan iklan

mati syuhada

menjaja surga tanpa henti

 

banjarbaru, mei 2020

 

WARTA ASU

sudahi kutukanmu

biarkan hujan bekerja

di luar lolong seribu asu

meminta ciumanmu di malam minggu

 

malam keramat para pemburu

 

banjarbaru, mei 2020

 

ADA JOKO, ADA ASU

su, lebih baik kau bikin puisi

hingga jiwamu terhuyung

dininabobokan mimpi

 

aku mau piknik

mencari tubuh baru

serupa paras ibu

 

mungkin agak lama, su.

jaga dirimu sebaik-baik sunyi

tirakat bersama rindu yang menggonggong

dari dalam secangkir kopi

 

surabaya, maret 2020

 

MENCURI IBU

kupikir penyair ada benarnya

menculik ibu dari kolom koran minggu

membawanya jalan-jalan ke pekan raya

mengajak nonton bioskop sambil membayangkan bapak pulang

dengan negara  yang batuk-batuk di punggungnya

 

penyair tak pernah salah

hanya kadang suka banyak tingkah

laku yang ditempuhnya begadang semalaman

meminum kopi bercangkir-cangkir

hingga matanya betah sampai pagi

 

ibu dicuri, diculik dongeng pendek

dari sebuah buku tua

di situ ada kakek, mengucap dadah

dan selamat tinggal tahun jadah

kita akan kembali jumpa di siaran lain

bukan dalam antena yang diciptakan puisi

 

sudahi kegilaan

biarkan segala kejadian dicacat mata asu yang durhaka

cinta tak mungkin salah pintu, pasti dirabanya terlebih dulu

tikungan demi tikungan, rumah ke rumah

agar rindu tidak salah antar

 

iya, bu

asu masih setia merawat kenangan yang sobek setengah

televisi masih aman menonton kita

terkadang suka bersin

tanpa mau mengucap aminn

 

permisi, apakah ibu masih duduk

di pangkuan masa lalu? di situ banyak asu

hatinya lebih durhaka

ketimbang hari tua yang celaka

 

surabaya, maret 2020

 

PUISI MENCRET

apa yang disembunyikan toilet

ketika sebuah wajah tenggelam di kedalamannya?

sebuah puisi, lahir dari kakus

ditulis penyair yang gemar memakai diksi kakus

menyulap sajak-sajak tolol

mengirimnya ke koran minggu

 

sampai puisi ini ambyar melihat dirinya dilahirkan,

kakus akan tetap kakus

penyair tak akan mampus

selagi kakus masih menyimpan mencret

dari doa yang tak dikatakan

 

doa dan kakus kawan sejawat

tak mungkin tamat

dalam puisi setengah jadi

mereka sama-sama romantis

ditulis penyair berwajah kakus

 

surabaya, maret 2020

 

MEMIKIRKAN ASU SETELAH PUISI BERPULANG

puisi menamatkan jiwanya di atas hamparan taman bunga

perempuan kota berdatangan ingin melihat wajahnya

ketampanan tak akan selesai, tak akan selesai, kata salah seorang dari mereka

ibu-ibu ikut semarak, menyanyikan Indonesia Raya

terik memanggang jalanan, akhir pekan memasukkan daftar hitam ke dalam gorong-gorong

rahasia adalah rahasia, menyembunyikan suara di balik rimbun bulu asu

orang kota tak akan tahu, apa hubungan seekor asu yang kesepian

dengan puisi bunuh diri, karena antara keduanya sama menyimpan cerita

tak akan habis dikisahkan

 

puisi dan asu dulunya sepasang petualang

gemar menjelajah banyak kota

 

kata orang mereka penyair gagal

tak satu pun arsip negara yang mencatatnya sebagai pahlawan

 

surabaya, maret 2020

 

JOKO DAN ANJING UTUSAN

anjing-anjing utusan mengirim Joko ke negeri igauan

di mana kegilaan menciptakan bayang-bayang

 

puisi mengumpat asu

ketika seluruh perempatan dihuni banyak penyair

maka dilaporkannya hal ini kepada Joko

melalui telegram yang disediakan tuhan

 

“beri kami amnesti

rumah istirah setelah koran pagi membungkam mulut kami!”

 

banjarbaru, april  2020

 

 

 

Baca rubrik Sastra & Budaya lainnya atau Kirim Tulisan ke Banranmedia.com

Muhammad Daffa

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *