PUISI RAFII SYIHAB: RADIN PANGANTIN, SEMESTA SESUNGGUHNYA ADA PADA PELUK IBU YANG KAU TINGGALKAN

  • Whatsapp
PUISI RAFII SYIHAB: RADIN PANGANTIN, SEMESTA SESUNGGUHNYA ADA PADA PELUK IBU YANG KAU TINGGALKAN
ilustrasi | trudeiskrude

 1

suara ibumu larut di dedaunan. menetes pelan jatuh ke pelukan yang kau tinggalkan. bening. bersama lanting, ia lepaskan dirimu pergi mengarungi hidup yang kau impikan. masa depan ada pada keberanian yang tak terbang ditiup embusan badai apapun, kamu mengucap mantra pada ibumu, izinkanlah ananda pergi menjelajah dunia serupa para musafir yang mengelana ribuan tahun menuju surga.

Read More

di belakang punggung itu ibumu meletakkan air mata. memandangi dirinya pada tubuh yang lain; pergilah dengan tangis ini ananda. jangan biarkan terik menyentuhmu dan berlayarlah menuju pulang secepat kau mendapat apa yang kau impikan.

2

bajunya adalah sunyi tiada terperi, penuh lubang ditambal luka. di kepalanya rumput ia rawat menjadi semak menjadi hutan menjadi belantara untuk menunggu kau pangkas dengan kedatanganmu. sungai seringkali membanjir melewati pipi keriput itu, melarutkan pesan cinta seorang ibu pada anaknya nun jauh di mana. o, radin, jangan tanyakan apa arti kerinduan pada seorang yang melahirkanmu. di tubuhnya kemarau dan hujan terjadi dalam satu waktu. panas dan dingin. dingin dan hening. hempas ombak terhebat yang kau dapati di laut lepas tak sebanding dengan apa yang menghancurkan jiwa ibumu. tidakkah kau pernah melihat mereka yang renta dimakan waktu. rapuh dalam indera yang tak lagi mampu bekerja. di setiap waktu nyanyi rindu ia lantunkan sesering napas yang memburu. demi apapun, pulanglah, sebelum ia tinggalkan tubuh pada bumi yang mencipta dirinya.

3

di perantauan kau cecap apa yang tak pernah terbayangkan. hidup penuh suka meninggalkan luka masa silam. kau persunting puteri raja dengan jubah berkilap berlian. o, sungguh memesona. sementara di tempat semua yang kau dapat ini berasal, seorang ibu tenggelam di lautan air mata; segeralah pulang, semesta sesungguhnya ada peluk ibu yang kau tinggalkan.

4

aroma rumput terbakar yang kau cium di tengah malam tidak datang tanpa tujuan. ia adalah kenangan yang dilepas seorang wanita dengan cara yang sama seperti ia melepas anak semata wayangnya bertahun-tahun lalu. gemuruh dalam dadamu tak lain adalah hasil dari kepak sayap sepasang doa yang dilepas ibumu pada malam-malam sunyi jauh di pelosok negeri. diang ingsun—ibumu—melafalkan namamu dari segala penjuru. menjadikanmu kiblat dari tangis dan harap. deras menjadi sungai. berkelok di antara tebing. tanpa perahu ia menuju dirimu, laut dari segala tangis rindu. duhai anak yang berlari kecil ketika pulang meladang pada suatu hari di masa lalu, jika dengan rindu kau tak jua bisa pulang, lantas dengan alasan apa lagi ibumu harus menunggu?

5

dulu kau sering mencari ikan dengan jukung dan kayuh yang rusak seraya memandangi cadas tebing serupa kanvas penuh lukis dari khayal yang kau cita. akhirnya, pada hari di mana kau pulang membawa istri dan banyak harta. melintasi laut jawa dengan sebuah bahtera yang tiada terkira rupa bentuknya. kau lewati lagi tempat masa kecil itu. orang-orang datang melihatmu serupa sang dewata, duhai anak miskin yang pergi jauh dan kembali sebagaimana para raja. tapi ibumu, ia lekas mengambil perahu. terseok hampir jatuh demi memeluk anak semata wayangnya. demi apapun ia tidak menunggu bahtera besar tersebut. tidak seperti orang lain. ia menunggumu. bahkan ketika suaranya telah begitu parau sebab memanggil namamu, ia masih tak akan berhenti sampai kau mendekapkan kembalimu pada tubuh ringkih tersebut.

“anakku! radin pangantin!”

di geladak kau berdiri bangga dengan pakaian sutra. demi mendengar sebuah panggilan dari seorang tua yang begitu renta kau bergidik dan berkata; tidak, kau bukan ibuku!

kata-katamu sekejap menjadi bala tentara. menghantam remuk ibumu dalam ketercekatan yang luar biasa. kau angkat kembali layar. bersiap pergi dengan rasa jijik yang tak seorang pun dapat menawar. dalam tangis ibumu mengubah kecewa menjadi doa. melintas serupa kilat. menembus langit dan rasa sabar dan rasa sadar dan tibalah sang dewata berkata; jadilah batu dan tubuhmu mulai kaku.

6

suaramu yang mencapai langit akhirnya jatuh di telapak kaki seorang perempuan. terbang terempas beradu tangis sesal yang datang terlambat. hancur lebur. sekejap menjadi takjub yang membeku di ujung lidah. tiupan angin menyapu sisa-sisa kalimat terakhirmu menembus waktu. penuh cinta ibumu menjelma bidadari di ketinggian, sekali waktu datang menjengukmu dalam rasa sesal akan sumpah yang tak bisa kembali. dan kau, radin pangantin, semesta tahu setelah masa hadirmu, tiada yang lebih menyakitkan selain abadi dengan hati yang terluka.

 

2019-2020

 

 

  • Puisi ini sudah lebih dulu terbit dalam buku Antologi puisi “Riuh Imaji” dalam gelaran Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Tabalong/2020
Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *