PUISI RION ALBUKHARI: MALAM BERPESTA DALAM KESUNYIAN YANG PORAK PORANDA

  • Whatsapp
PUISI RION ALBUKHARI: MALAM BERPESTA DALAM KESUNYIAN YANG PORAK PORANDA
ILUSTRASI FOTO | Abriawan Abhe

LOVE BIRD

Dalam musim hujan ini

kita akan merupa sepasang burung Love Bird.

Read More

Kau kuning, aku biru.

Kau biru, aku kuningmu.

 

Kita akan bercinta berulang kali,

sampai urat-urat pada kemaluan segalanya menyembul.

Agar hangat ranjang derita ini,

agar terusir jauh itu sepi.

Kau mengekek panjang memanggilku,

aku mengekek pendek keletihan melawanmu.

 

Kau dan aku kian tangguh menghadang perbedaan,

tentunya karena ada aku yang bersikeras dan tabah mencintai perangaimu,

dengan satu harapan; barangkali setelah ini tak ada lagi musim

yang bakal berani menerjunkan kita ke lembah perpisahan,

pun anomali cuaca di lengkung-lengkung hari.

 

Bayang, 13 Oktober 2020

 

MALAM BERPESTA DALAM KESUNYIAN YANG PORAK PORANDA

Malam berpesta dalam kesunyian

yang porak poranda,

lengkung-lengkung langit tembus

oleh sisa-sisa teriakan demonstrasi.

 

Tapi ada yang tetap diam

dan tak mau ambil peduli,

tidak kutahu tirani semacam mereka

ada dan hidup.

 

Bayang, 10 Oktober 2020

 

BELUM LAGI SEMPURNA SENJA RAYA PUDUR

Belum lagi sempurna senja raya pudur,

aku sudah merindukanmu,

perjalanan yang berulang,

melintang di tubuh kita,

kau tertambat di dinding jantungku.

 

Sayang, kota ini tak mengenal nyanyian jangkrik,

atau prenjak yang agak merdu.

Tapi di kedalaman matamu,

kutemukan lagi bangkai kenangan masa kecilku,

yang hanyut oleh berkarung-karung revolusi,

revolusi tik-tok, revolusi PUBG,

atau revolusi kaum marhaen

yang meletus baru-baru ini,

dan revolusi-revolusi lucu lainnya.

 

Maka pada sumbu pusarmu,

kuputar lagi sebuah lagu,

yang tak henti-henti menyanyikan

riwayat masa silam yang cengeng.

 

Bayang, 15 Oktober 2020

 

LAGU MALAM

Betapa sunyi. Betapa kaku.

Sebuah bohlam, jangkrik,

atau kelepak gagak yang kacau,

menandai aroma malam yang pecah.

Sungai-sungai kecil kesedihan bernyanyi dalam diriku.

Arus sepi sediakala, api merah dan biru.

Tak ada dirimu (embrio sublimat),

selain penderitaan ini.

 

Kujangkau angin,

raihan yang muskil.

Dan bintang-bintangn nun jauh tinggi,

tak henti menusukkan gigil.

 

Seperti apakah malam yang sempurna?

Hitam yang pekat atau lanngit terang raya?

Katakan, katakan padaku!

 

Oh lagu malam yang robek.

Betapa indah engkau. Betapa kusam.

Dan betapalah menyedihkan.

 

Bayang, 19 Oktober 2020

 

 

SERENADE I

Bagai hujan yang membawa segala kesedihan awan,

antar aku ke selokan terakhir itu,

di mana aku bisa bersatu utuh dengan puing sunyi.

Biarkan padi dan rumput-rumput tumbuh di luar pandangku.

 

Sejak semula; apa yang kita pakai memang akan terlepas,

apa yang kita yakini adalah kosong, putih, dan betapalah kabur.

 

Jangan lagi kau himpun makna kesedihan,

yang mengguyahkan tulang-tulang.

Bayang-bayang cinta yang terputus.

 

Aku tak ingin kau terkunkung dalam ratap tak berkesudahan,

sebab setiap yang lahir dari dirimu ialah potongan diriku,

yang pecah dan terluka.

 

Bayang, 21 Juli 2020

Rion Albukhari

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *