PUISI SEPTI AS. ABDULLAH: DI LAUTMU RINDU SELALU BIRU

  • Whatsapp
PUISI SEPTI AS. ABDULLAH: DI LAUTMU RINDU SELALU BIRU
Ilustrasi | marcosguinoza

DI LAUTMU RINDU SELALU BIRU

 Jika laut ini cinta,

tenggelamkan aku dalam arusnya beriak-riak.

Read More

Setiap detak mengalun-alun.

Mengalir berduyun-duyun.

Berbuih-buih tak kenal letih.

Bersaut-saut enggan ‘tuk surut.

 

Hingga menepi.

Bermuara tanpa tapi.

Terserap di pantaimu.

Sepeluk semati.

 

 

(Pantai Asmara, Juni 2020)

 

 

RISAU YANG RISAU 

Mekar bunga kopi.

Memanggil kumbang dengan wangi.

Petani menyeduh nasib.

Dalam sepetak tanah garapan.

Apa kabar tanah kelahiran?

Apakah tidur kalian nyenyak?

Tanya yang sering kulempar pada rumpun semak.

 

Mereka goyangkan batang ketika gerimis menitik.

Mereka tak mengangguk.

Belalang terbang ketakutan.

Dengung sayap berirama.

Kudengar nyanyian kesedihan.

Gerimis berganti hujan.

 

Tanahku, basah embun.

Masih ia simpan semilir angin.

Dinihari ia sisakan pada sayap kunang-kunang

Segera senyap pada hidup yang singkat

Tanahku, kumpulan debu-debu menunggu engkau

 

 

KASIDAH WAKTU

 Bertanya angin pada seekor burung, Apa kata puisi ?

Rindu, yang dikisahkan matahari !

atau

Kangen, yang diselundupkan malam !

 

Hanya sebuah kabar..

Tanpa kata.

Akan tetap bersembunyi.

Hingga saatnya tiba.

 

[ 2020]**kimi ko nawa

 

 

 

NASI PAGI INI MANA?

 Nasi pagi ini mana?

Yang biasa bertahta di atas meja makan piring bundar

Rambu-rambu trotoar sendok perak, sajian menarik dan menu yang teratur

 

Mana nasi pagi ini?

Butir segara disetiap ujung warna putih

Nampan saja enggan menjawab raut sedih sayatan tak pandang bulu

 

Kenapa nasi pagi ini?

Air mata lambung dan penomenanya

“Problematika ekonomi di tengah pandemi “, tukasnya lemah.

Selalu ekonomi menghakimi perut-perut kosong

Tak pernah ada kompromi antara gurih dan rongrong

 

Semoga bertemu lagi

Nasi di peralihan hari

Tunggu receh bertumpuk tinggi

Biar aku mumpuni

 

Suara hati dari orang-orang tak berdaya ditengah pandemi.

Indonesia masih lapar?

 

(Banjarmasin, 22 Mei 2020) #covid19#psbb

 

 

SEBUAH SAJAK RINDU

 Apakah kau ingat malam ke -28 waktu itu?

Cinta mengubah pikiran yang bersandiwara

Sementara kita mengejar awan

Hati bergetar, bernada, hingga bernyanyi sepanjang malam

Ingatkah bagaimana bintang-bintang mencuri malam kita?

 

Waktu itu pikiranku bersamamu

Saling berpegangan tangan untuk menelisik

Hanya bergurau dan berbicara omong kosong

 

Ingatkah,

Bagaimana tahu cinta akan berlabuh?

Dari semua yang aku ingat

Musim panas tidak selalu sama

Tahun berlalu waktu terus berlalu

Dan ingatan terus terngiang

 

Di akhir Januari kita masih bermain hujan

Tak ada ruginya, banyak senangnya

Mengingat semua itu

Ia lah sangat berharga

 

Bagaimana tentang waktu yang menemani hari-hari kita?

Tentang semua cerita kita bangun

Dan seluruh waktu yang kita habiskan di tepian kota?

 

Kita adalah waktu

Pada sebuah jam dinding

Entahlah, entah siapa kita

Sebagai jarum pendek atau jarum panjang

 

Detik terus berputar

Menjabarkan kisah ataupun takdir

Untuk kita bertemu, atau kita berpisah

 

Dan dari segala waktu

Sejatinya cinta akan sangat berarti

Bagi manusia yang berpikir

Biarkan mengalir,

Seperti aksara indahmu yang tak terjangkau isi kepala

Sederhana, namun luar biasa

 

Aku terpesona.

__dedicated to Be…

 

( In Train Sby-Yogyakarta, Januari 2020 )

Septi As. Abdullah
Latest posts by Septi As. Abdullah (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *