PUISI SYUKUR BUDIARDJO: KISAH SEPASANG MATA INDAH DAN SECANGKIR KOPI PAGI

  • Whatsapp
Ilustrasi | alice__chevalier

Sajak Mata Gadis Itu

/1/
Mata gadis itu menyapa senja
yang dilumuri garis-garis wajah lelaki.
Menanti angin membawa nyanyi
asmarandana. Ketika sunyi menjelaga.

 

Read More

/2/
Mata gadis itu mendengar ringkik
kuda jantan. Berlari di panas terik
padang sabana. Mencumbu bau gerai
rambutnya. Mengoyak biru sansai.

 

/3/
Mata gadis itu menanti isyarat
matahari. Menggelucak di antara batas
impian dan harapan. Gairah memekat.
Kapan waktu akan mendekat.

 

Cibinong, 3 November 2020

 

 

Sajak Mata Gadis Afgan

 /1/
Mata gadis Afgan menyimpan puisi.
Ditulisi dengan peluru tajam, juga bom rakitan.
Melegam dendam. Bertinta darah. Menorehkan
kematian sia-sia. Tangis merobek harapan.

 

/2/
Mata gadis Afgan menyimpan puisi.
Melafalkan perang saudara. Pengkhianatan.
Duka lara, juga senyum hilang terkubur
oleh angin tenggara yang berkesiur.

 

/3/
Mata gadis Afgan menyimpan puisi.
Terbayang burung gagak berteriak.
Mewartakan kematian di padang tandus.
Pahit merebak mencekik jantung yang berdetak

 

Cibinong, 2 November 2020

 

   

Sajak Mata Harimau

/1/
sepasang mata harimau jantan
di belantara. menyapa betina,
juga anak-anaknya. kuku tajam
membelai. seringai dan auman
memecahkan cemburu purnama.

 

/2/
mata tajamnya mencabik kelam.
mengirim kabar kepada semesta.
malam diliput kabut gurau senda.
hingga pagi menyapa. malam
tersuruk. mata tajamnya membenam.

 

Cibinong, 28 Oktober 2020

 

 

Kisah Sepasang Mata Indah dan Secangkir Kopi Pagi

“Selamat pagi!”
Sepasang mata indah menyapa secangkir kopi.
Lama menatapnya. Kemudian mengenangnya.
Sebelum bibir merah merekah menyentuhnya.
Bibir cangkir memintanya untuk teguk pertama.

“Sudahlah, kita akhiri saja!
Karena engkau diam-diam menyimpan nama lain.
Juga foto. Di dalam album dan buku harianmu.
Tak perlu dipertahankan. Tak perlu dilanjutkan.
Jika ini beraroma pengkhianatan!”

Pada teguk kedua, terbayang hijau telaga.
Air menggigir. Angin berdesir.
Langit biru. Serombongan belibis terbang mengoyak senja.
Mengayuh dayung. Perahu tak lelah menyisir.
Seolah mengekalkan cinta!

Pada teguk ketiga, terbayang rinai hujan.
Mengguyur wajah, juga tubuh.
Pinus dan cemara. Mengiring berjalan.
Tak ada resah, juga keluh,
Seolah cinta tak kan merapuh!

Pada teguk keempat, terbayang belati.
Mengajaknya bunuh diri.
Darah meruah. Rindu mengalah.
Senyum matahari dan bulan, juga bau parfum melambai.
Seolah cinta telah selesai!

Pada teguk terakhir, sepasang mata indah berbinar.
Ketika kopi pagi diseruput lelah hatinya pudar.
Hidup tak selamanya manis. Tak selamanya pahit.
Berkelindan. Telah dirasakan. Telah ditemukan.
“Selamat pagi, kawan!” Suaranya lirih tapi menyenangkan.

Jakarta, 5 November 2015

 

Hujan Awal November

Tangis langit pecah
di awal November. Disambut azan
asar membubung. Setelah
tetumbuhan dan katak lelah menunggu
remah-remah rahmat-Mu.

Aku teringat kawanku
di seberang samudera. Di Pulau Perca.
Di Borneo. Digelap kabut asap.
Mata, paru-paru, darahmu mengertap.
Api membinasa belantara. Membakar segala.

Hujan awal November. Menghapus
lolong dan lenguh. Sore dingin merenyah.
Rindu hampir rapuh. Cinta terperangah.
Menapaki senja mengarus. Sedang
kepak kelelawar sebentar lagi terdengar.

Cibinong, 1 November 2015

 

Trilogi Cuaca Pagi Ini

(1)
Angin di pagi ini
Menyapa gundah seraut wajah
Mendayung murung segenggam marwah
Merintih lirih seputik sedih
Meronta lara semangkuk perih

(2)
Mendung di pagi ini
Menjamah remah menu rindu
Mengurai sansai seonggok pilu
Meremas ganas semadah gundah
Mengarus deras sebongkah resah

(3)
Hujan di pagi ini
Melumat rimbun pohon kenang
Menyisir getir wajah membayang
Menerabas kilas seberkas rindu
Menyasar nanar sehampar syahdu

Jakarta, 20 Januari 2014

Syukur Budiardjo

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *