RENDEZVOUS: Sastra Jangan yang Itu-itu Aja Deh

  • Whatsapp
RENDEZVOUS: Sastra Jangan yang Itu-itu Aja Deh

SUATU malam saya bertanya pada seorang teman, Gio Pratama, pemilik penerbit G-Pustaka tentang peredaran buku-buku “ringan” semacam Boy Chandra atau Fiersa Besari di Kalimantan Selatan.

“Apakah sastra Kalimantan Selatan selalu sastra yang nyastra?”

Read More

Saya lupa jawaban Gio. Namun, bagi saya pribadi, harusnya memang tidak pernah ada dikotomi dalam dunia kesusastraan, orang-orang yang mengatakan karya ini adalah sastra dan yang lain (sastra pop—biasa disebut begitu) adalah sampah barangkali seorang yang sedari lahir langsung membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Barangkali begitu.

Lagi pula, diakui atau tidak, sastra yang nyastra itu tidak dibaca oleh seluruh lapisan. Tak percaya? Tengok saja ke toko buku di kotamu, lihat buku paling laku di sana. Masih tak percaya? Baiklah, silakan tanyakan penjualan buku pada penulis sastra paling terkenal di kotamu.

Realita menyakitkan itu adalah bukti bahwa sastra pop, jika memang harus menyebutnya begitu, lebih banyak dibaca daripada sastra yang nyastra. Lantas, bagaimana jika dalam suatu daerah, dalam hal ini Kalimantan Selatan, para penulisnya anti dengan sastra pop tersebut? Bagaimana jika tidak ada sama sekali sastra yang rela menyentuh pembaca pemula? Masih berharap banyak terhadap perkembangan literasi kita?

Menyangkut peredaran sastra yang “ringan” itu, beberapa waktu lalu saya mendapat kabar baik dari salah satu mentor saya, Hudan Nur, tentang diterbitkannya buku RENDEZVOUS adicita bunga dari Gusti Muhammad Setya Aryadi Iman atau yang karib dikenal sebagai Mika August, buku ini, seperti yang disampaikan penulisnya sendiri dalam kata pengantar: mencoba menyampaikan bunga dari sudut pandang yang sedikit berbeda, karena kebanyakan mereka dihadirkan hanya oleh satu kata, indah, cerita, gembira dan lainnya.

Dan ya, sebagaimana saya lihat sendiri, buku ini memuat tulisan-tulisan singkat tipe qoutable yang sangat memikat untuk difoto dan dipajang di media sosial. Selain tulisan singkat itu, dalam buku ini juga terdapat ilustrasi bermacam bunga yang menjadi nyawa untuk setiap tulisan yang ada.

Saya bisa jadi salah, tapi mungkin buku ini semacam penafsiran penulis terhadap bunga-bunga yang ia lihat dan gambar di atas kertas. Seperti misalnya pada halaman pertama, Gusti menulis tentang Red Rose (lengkap dengan ilustrasinya):

“Selain kecantikan, wanita juga harus memiliki keberanian. Keberanian untuk menggapai keinginan, keberanian menjaga hatinya, hingga menjadi pribadi yang memekar indah, namun juga bijaksana.”

Buku ini bisa jadi adalah gerbang pembuka untuk para penulis, terutama penulis Kalimantan Selatan, untuk bisa menerbitkan sastra yang tidak itu-itu saja—yang terlalu berat untuk diterima oleh pembaca pemula.

RENDEZVOUS: Sastra Jangan yang Itu-itu Aja Deh

RENDEZVOUS adicita bunga akan diluncurkan dan didiskusikan untuk umum pada Sabtu (14/11/20) mendatang di Mingguraya, Banjarbaru. Peluncuran buku ini akan dipandu oleh penulis Sandi Firly dengan narasumber Vivi Zubedi (Desainer), Sri Naida (Biologist dan penulis novel Augustan) dan Nove Arisandi (Argonomist).

Jika kamu mau ikut dalam perayaan sastra yang tidak itu-itu saja, baiknya datang dalam peluncuran dan diskusi tersebut. Gratis untuk semua—asal tetap menjaga protokol kesehatan!

Untuk meutup tulisan ini, saya ingin mengutip lagi apa yang dikatakan oleh Gusti dalam bukunya: semua bunga tidak dilihat dari keindahannya, banyak cara untuk melihat dan memaknainya. Banyak pesan yang ingin disampaikan oleh sekuntum bunga, tapi terkadang kita hanya melihat kelopaknya, warnanya, bentuknya. Pernahkah terpikirkan untuk melihatnya lebih dekat, bagaimana garis dari kelopak itu, apa yang ada di tengah bunga itu, bagaimana sari bunga itu, serangga apa saja yang hadir pada bunga itu, tumbuh di mana, dan musim apa?

Avatar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *