Review The Seven Good Years: Sebuah Panduan untuk Hidup Tanpa Kekejaman dan Kebencian

  • Whatsapp
Review The Seven Good Years: Sebuah Panduan untuk Hidup Tanpa Kekejaman dan Kebencian
ilustrasi | ranggajati

SETELAH memenangkan Pilpres AS, Joe Biden berkomitmen akan memulihkan bantuan kepada Palestina, ekonomi mau pun keamanan. Tapi terkadang janji politik tidak lebih dari sebuah prospek. Jadi tidak perlu menaruh harapan terlalu tinggi, toh mengingat Biden juga mendukung Israel.

Dan sebelum menghina Israel habis-habisan, lebih baiknya kita membaca (baca lagi bagi yang sudah baca) sebuah memoar karya penulis Israel lebih dahulu. Cerita pendeknya adalah jatuh cinta pertama saya untuk lebih jauh mengenal semesta Etgar Keret. Dia memang lebih sering menulis cerita pendek, dan ceritanya juga kadang absurd, mungkin tidak jauh beda dengan Murakami.

Read More

The Seven Good Years merupakan memoar pertama yang saya baca, dan karena bentuknya memoar, maka tidak susah untuk memercayai jika ini adalah pengalaman-pengalaman nyata dari Keret. Setidaknya buku ini membuka pandangan saya terhadap negeri yang ratusan tahun menindas Palestina itu dan dengan jahat menghujat,  bila ia seorang Israel dan Yahudi, dia adalah monster tanpa hati. Tapi saya salah, di sana ada Keret, dan orang bernasib seperti Keret, terpaksa harus menjalani kehidupan di daerah perang. Secara ironis, The Seven Good Years, adalah tahun-tahun ketakutan dan harapan, tapi bukan tidak ada tempat untuk seorang humoris hidup di sana.

Yap, Keret adalah seorang Jenaka. Keret dengan senang hati menjadi objek humor itu, bahkan beberapa ia serupa pelakon dalam komedi slapstik. Ia senang mengolok dirinya sendiri. Ia menderita dan kita pun tertawa. Ini menyatakan kalau saya secara pelan terseret dalam komedi gelap yang Keret ciptakan.

Dalam kondisi lain, ia seorang sinis. Misalnya saja ketika ia makan di sebuah restoran Jerman, ada seorang Jerman yang mabuk berteriak dalam bahasa Jerman yang dikira Keret sedang menghinanya, mengumpat kepada satu-satunya Yahudi di sana, kemudian mereka saling bertengkar. Tapi Keret baru tahu jika si Jerman mabuk yang marah itu bukan sedang meneriakinya, melainkan sedang mengomel sebuah mobil menghalangi kendaraannya.

Tentu ia juga seorang penulis. Bagaimana di satu kenangan ia menuliskan dedikasi untuk orang-orang yang membeli bukunya, tapi malah mendapat tamparan karena tulisan dedikasi kepada si pria besar yang membeli buku untuk pacarnya (mantan pacar Keret), di mana dalam dedikasi itu Keret berharap mantan pacarnya mau kembali lagi kepadanya.

Juga seorang ayah. Ketika ia dan anaknya Lev naik taksi yang dikemudikan seorang supir yang tempramen, si supir mengomeli anaknya sebab tidak sengaja menjatuhkan asbak ke lantai taksi, Keret (dengan lucunya) balas mengomeli si supir. Dengan polosnya Lev meminta maaf dan si supir juga meminta maaf, tapi Lev tidak percaya si supir menyesal. Si supir mengerem mendadak dan (seperti bicara kepada pria tua) ia meminta maaf dengan sepenuh hati pada si bocah.

Dan ia seorang anak dan adik. Kenangan meloncat, tidak jarang menyedihkan, terkadang menyenangkan: kematian ayahnya, tentang ibunya, kakak laki-lakinya, dan kakak perempuannya yang religius. Dan buku ini membuat saya berpikir ulang, tempat di mana para bajingan hidup dengan rakus, membunuh puluhan bocah tak bersalah, ada manusia-manusia yang menjalani hidup dengan cemas dan iba, tidak sedikit juga lucu. Mungkin ada banyak Keret-keret lain di tempat sana. Secara tidak langsung memang buku ini mengajarkan saya satu poin penting, yaitu jangan cepat menilai suatu kelompok apalagi sebuah bangsa.

Kesusastraan Israel punya David Grossman atau Michael Bar-Zohar, tapi entah kenapa Keret yang serasa paling menyilaukan, seakan ia adalah fenomena. Kepopuleran Keret berakar dari keberhasilannya menarik perhatian pembaca dalam format cerita pendek. Kebanyakan cerita pendek Keret dalam artian benar-benar pendek, dua sampai empat halaman, pastinya bisa dibaca tidak sampai sepuluh menitan (tidak termasuk memahami ceritanya). Jelasnya, memoar ini bisa menjadi pilihan kudapan pertama sebelum mengudap menu-menu hidangan Keret lainnya.

Sebagai penutup, mungkin tidak adil bila hanya membicarakan penulis asal Israel tanpa membaca kesusastraan Palestina. Beberapa nama pernah saya dengar seperti Mourid Barghouti, tapi belum ada satu pun sastranya yang pernah saya baca. Tentunya mereka punya sudut pandang berbeda. Tapi betapa menarik ada seorang penulis asal Palestina, melihat sisi lain negeri yang kejam terhadap mereka itu, ternyata hidup seorang Yahudi yang lucu dan penyayang, seperti Keret.

 

Judul buku    :       The Seven Good Years

Penulis           :        Etgar Keret

Penerjemah   :        Ade Kumalasari

Penerbit         :        Bentang

Tahun Terbit :       Juni 2016

Halaman        :       198 halaman

ISBN                :      978-602-291-200-2

 

Musa Bastara

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *