Ribut di Medsos Kue Klepon Tidak Islami, Ini Kata Ustaz Wahyul Afif

  • Whatsapp
klepon tidak islami

Ada perasaan aneh, lucu dan geram ketika di media sosial muncul pernyataan kue klepon disebut tidak islami. Mendadak warganet pun heboh. Dari pantauan BanaranMedia.com, banyak unggahan status yang mempertanyakan pernyataan tersebut. Salah satunya dari warganet yang menyebutkan identitas nama daerah, yakni Martapura, Kalimantan Selatan.

“Klepon aka kelelepon adalah makanan yang sering dijajakan di lampu merah kota/kab martapura kalsel, tanya saja penziarah guru sekumpul. Sangat tidak mendasar mengatakan bahwa kelelepon tidak islami ! Sejak kapan KUE punya agama?” tulis akun facebook, Budi Ramadhana.

Read More

Pernyataan yang mengundang banyak penasaran tersebut membuat salah seorang warganet mengaku sempat mencari toko penyebar poster klepon tidak islami tersebut

“Ada yang nemu toko Abu Ikhwan Aziz yang bilang klepon nggak islami? Nyari tokonya nggak nemu, di maps nggak ada, fb nggak ada, websitenya nggak ada Akun ig ada personal, baru jadi hari ini. Katanya jualan kurma, niat jualan nggak sih?” tulis Ridwan Hanif di akun twitternya.

Nama Abu Ikhwan Aziz menjadi rujukan karena namanya tercantum dalam gambar yang menyebut klepon tidak islami.

“Kue Klepon Tidak Islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak islami dengan cara membeli jajanan islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami,” isi poster disertai gambar jajanan klepon dan dibagian bawah pojok kanan tertulis ‘Abu Ikhwan Aziz’ sebagai pemilik toko.

Tanggapan Ustaz Wahyul Afif Al-Ghafiqi

Informasi viral klepon tidak islami mendapat tanggapan salah seorang Ulama yakni Ustaz Wahyul Afif Al-Ghafiqi. Ia mengatakan bahwa Kue Klepon tetap halal dikonsumsi.

“Insyaallah klepon Halalan Toyyiban, jika bahannya untuk membuatnya halal, tidak tercampur barang najis dan diperoleh dengan jalan yang halal,” kata Ustaz KH Wahyul Afif Al-Ghafiqi, Selasa, 21 Juli 2020 seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Ustaz Wahyul menerangkan, kabar kue klepon tidak Islami itu berasal dari orang-orang yang minim ilmu agama dan kerap salah pengertian.

Menurutnya, dalam Islam tidak ada pengelompokan makanan Islami atau tidak, yang ada adalah makanan yang halal dan haram.

“Menganggap semua dari Timur Tengah itu syar’i dan menganggap yang dari Indonesia enggak Syar’i, padahal dia lahir besar dan makan makanan Indonesia semacam klepon, gethuk, tempe, awug dan lain-lain yang enggak ada di Arab,” ungkap Pengasuh Taman Belajar Al-Afifiyah ini.

Oleh karenanya, ustaz Wahyul menyarankan agar setiap Muslim dapat memilah informasi yang benar dari orang-orang yang tepat dan sungguh-sungguh memahami agama.

“Kalau enggak paham tentang ilmu agama ya jangan berfatwa atau bicara seakan-akan dirinya ahli agama, nanti bisa ngawur dan ricuh umat ini,” ujarnya.

Pihaknya pun mengungkapkan bahwa setiap makanan halal dan baik dikonsumsi asalkan dibuat dengan halal.

Kriteria halal, kata ustaz Wahyul, mencakup tidak tercampur najis, diperoleh dengan cara yang baik dan halal seperti bukan dari mencuri, lalu dibeli dengan uang yang juga diperoleh dengan cara yang halal dan baik misalnya bukan dari hasil menipu atau korupsi. (hip)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *