Roberto Bolaño, Saya, dan Siapa Kami

  • Whatsapp
Roberto Bolaño, Saya, dan Siapa Kami
ilustrasi | rafii syihab

Roberto Bolaño berjalan menghampiri saya di sebuah kedai kopi tepi jalan dengan kedua lengan melesak ke saku jaket (tidak mungkin, tapi menjadi awal yang baik untuk lelucon apa pun). Ketika itu saya belum amat mengenalnya, hanya tahu namanya sedikit dari mesin pencarian internet, dan ia bertanya kepada saya apakah ada seseorang tahu siapa dia. Tidak, kata saya, tanpa meminta persetujuan pada pengunjung di sana. Dia duduk di depan saya dan kami bicara, (tentang apa saya lupa, tapi saya tahu semenjak itu dengan cepat saya mulai mengaguminya, dan membaca karyanya).

Roberto Bolaño Ávalos (28 April 1953 – 18 Juli 2003) adalah seorang novelis Chili, penulis cerita pendek, penyair dan penulis esai. Yang mengenal generasi boom Amerika Latin, maka hampir tidak mungkin juga mengenalnya. Jika diandaikan Gabo dan komplotan adalah superhero DC Comics dengan segala keagungannya dan maha-benar dengan segala perannya, maka ia bisa disebut villain (sesuatu yang intens dan buruk untuk itu, saya meringankannya, dengan menyebut Bolaño seorang antagonis utama).

Read More

Roberto Bolaño dalam Los mitos de Cthulhu menulis: Amerika Latin adalah rumah sakit jiwa Eropa sebagaimana Amerika Utara adalah pabriknya. Pabrik itu kini diambil alih oleh para mandor dan buruh-buruhnya berasal dari para pelarian rumah sakit jiwa. Rumah sakit jiwa itu, selama lebih dari enam puluh tahun, terbakar dalam minyaknya sendiri, lemaknya sendiri.

Di akhir tulisan itu saya membayangkan Bolaño tertawa serupa Joker saat menampilkan leluconnya di atas panggung, tapi ia mungkin tidak sedang bercanda dengan apa yang ditulisnya. Jika saya menulis tentang Bolaño dan Giannina Braschi, serta hubungan mereka dengan boom sastra Amerika Latin, maka tulisan ini akan sangat panjang dan mengkhianati judul yang telah saya berikan. Untuk itu, tulisan singkat ini hanya menceritakan pengalaman saya selama berkenalan dengan Om Bolaño, dan perihal manfaat yang bisa didapat.

Membicarakan Bolaño tidak luput juga dengan membicarakan apa itu sastra avant-garde. Mungkin istilah avant-garde, menurut saya, dalam sastra sekarang masih begitu langka, tapi sebenarnya sudah lama ada. Sekiranya, sastra avant-garde muncul oleh suatu dorongan menuju kebaruan, bereksperimen dengan bahasa dan (entah atas nama perjuangan) menciptakan tatanan dunia baru dalam kata tanpa berpatokan pada adab dan pakem umum lainnya dalam sastra. Dengan kata lain, bisa pula menyebutnya sebagai saudara kandung paham Marxisme, bahwa semua kedudukan sama rata, tiada paling tinggi di antara yang lain.

Tapi kebanyakan para sastrawan avant-garde, terutama Bolaño, hidup kurang lebih sama dengan gelandangan (ralat bila saya melebihkan), dan acapkali menjauhkan diri dengan aturan atau tuntutan agama. Bisa dibilang mereka adalah pengembara liar, bohemian, kaum lapar, yang tidak cuma mengharapkan perubahan, tapi mencoba mengakalinya, dan menghajarnya kalau pun bisa. Dan kemudian semakin saya mengenal Bolaño, kebanyakan ia mengangkat tema tentang ambang penghabisan nasib kesusastraan avant-garde dengan sudut pandang khas, seorang penyair yang menderita dan hidup menyedihkan tapi penuh dengan optimisme dan ceria. Katakanlah anonim sekaligus sinonim tokoh “Penulis” Knut Hamsun dalam novel Lapar. Tapi semangat tokoh dalam kedua penulis bisa disebut sama.

Saya ingat di kedai kopi tepi jalan itu (masih dengan lelucon sama), Bolaño minta dibelikan makan dan minum. Maka atas dasar kemanusiaan dan tentu saja karena kasihan, saya merogoh dompet dan menemukan beberapa lembar duit. Cukup untuk dia, pikir saya. Sepiring lontong dan teh hangat menjadi menu kudapannya. Kenapa tidak kopi? Jangan kopi, katanya, tenggorokanku lagi sakit. Kemudian sambil bersantap nikmat, ia menceritakan kepada saya bagaimana sastrawan avant-garde hidup penuh kesusahan, seperti gelandangan atau memang gelandangan, dikutuk dan diasingkan para hero sastra Amerika Latin yang maha-benar dengan segala perannya, antara lain: Gabriel Garcia Marquez, Pablo Neruda, Octavio Paz, Carlos Fuentes, Julio Cortazar dan lainnya.

Jika harus memilih condong berpihak ke arah mana, saya tidak tahu, lebih karena memang tidak banyak tahu. Lagipula para hero tidak mudah tidak saya cintai, khususnya Julio José Cortázar, dan pada sisi lain, susah menolak Bolaño untuk tidak mengaguminya.

Lebih dalam lagi membicarakan Bolaño, maka bertemu dengan istilah realisme jeroan. Realisme jeroan? Entah enak kalau disate dengan bumbu kacang atau dimasak tumis, realisme jeroan (visceral realism) yang saya tahu, sebagaimana jeroan sendiri, ia dapat dianggap sampah atau makanan mahal. Secara lebih serius (saya bukan orang serius sebetulnya), realisme yang digali secara lebih dalam, tapi sementara membiarkan karakternya melemahkan diri melalui absurditas aktivitas, dan kadang cukup gelap namun juga bernada ceria (sebenarnya sudah saya jelaskan di atas, tapi kenapa terulang lagi ya?).

Saya mempunyai banyak alasan ingin disebut Bolañoites (pengagum Roberto Bolaño), salah satunya tidak lain karena suara dalam tulisannya: hampir tidak masalah apa yang ia katakan, atau apa arti semburannya, adalah keterpikatan saya melalui perumpamaannya yang pecah dengan logika dan beraroma psikadelik yang mempesona: cakrawala berwarna daging, seperti punggung orang yang sekarat (kalimat yang saya terjemahin semampunya). Walau saya sepertinya terlampau mudah mengagumi beliau sebelum membaca karya utamanya,  2666 dan Savage Detectives (yang keduanya cukup tebal untuk memenuhi dahaga saya, dan rasanya belum diterjemahkan, ralat lagi kalau salah, hanya membuat saya nampak bodoh karena belum menguasai benar bahasa inggris), novelanya atau cerpennya yang lain sebut saja, Last Evening on Earth, cukup membantu untuk mengatakan ia adalah salah satu pengarang langka Amerika Latin atau bahkan dunia, yang hanya muncul sekali dalam satu abad.

Saya bukan tipe orang yang (sanggup) menyelesaikan lelucon, tapi sebagai percobaan, saya rasa tidak salah:

Setelah menghirup sisa kuah lontong sampai benar-benar kering, dan minum beberapa teguk teh hangat yang sudah dingin, dia mengucapkan banyak terima kasih kepada saya. Sebelum beranjak pergi, ia memberikan saya sebuah buku dengan tanda tangan pada halaman pertama. Saya mengeja judul buku itu, “Reinventar el amor”, saya bertanya dalam hati, apakah saya harus belajar bahasa spanyol?

“Karena kupikir, kayaknya tidak mungin menukar makanan dengan buku itu kepada si empunya kedai, sebagai gantinya kuhadiahi buku untukmu karena sudah mau berbaik hati. Makanan yang kau sebut lontong ini lumayan enak, mungkin sebab aku sangat lapar,” kata Om Bolaño dalam lelucon yang lucu saja belum ini. Segera kuakhiri saja dengan satu kata: Tamat.

 

Kampung Buku, 10 Februari 2021

Musa Bastara

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *