Sejarah Singkat Benteng Madang, Tempat di Mana Belanda Tak Pernah Menang

  • Whatsapp
Sejarah Singkat Benteng Madang, Tempat di Mana Belanda Tak Pernah Menang
Benteng Madang | disporaparkabhss.blogspot.com

BENTENG MADANG, Hulu Sungai Selatan, merupakan salah satu tempat yang menjadi saksi pecahnya peperangan antara Pejuang Banjar melawan penjajah Belanda pada masa sebelum kemerdekaan.

Benteng Madang yang dibangun di atas Gunung Madang, Kecamatan Padang Batung, Hulu Sungai Selatan, ini merupakan bagian dari Pegunungan Meratus. Jarak tempuh dari Kota Kandangan ke lokasi benteng sekitar 8 km.

Read More

Benteng yang terletak di desa Madang itu ditata dan dibuat oleh Tumenggung Antaluddin atas dasar permintaan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman. Hal tersebut dikarenakan pecahnya perang Banjar melawan Belanda di Bumi Lambung Mangkurat.

Karena tempat tersebut sangat strategis–dari tempat itu daerah sekeliling dapat dilihat dengan mudah–benteng ini lantas dijadikan benteng pertahanan pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dalam menghadapi serangan serdadu Belanda.

Di kaki Gunung Madang terdapat aliran sungai yang di tepinya banyak ditumbuhi ilalang dan pohon bambu. Pada aliran-aliran sungai yang mendekati tempat penyeberangan diadakan titian atau jembatan yang apabila diinjak, titian ini akan bergerak dan mengakibatkan tertusuk benda tajam jika terjatuh– jebakan yang sengaja dipasang oleh pasukan Antaludin itu tidak hanya mengkibatkan luka-luka, tetapi tidak jarang mengakibatkan kematian bagi serdadu Belanda.

Oleh masyarakat, titian atau jembatan itu disebut sebagai jembatan serongga.

Di bagian lain juga dibuat jalan rahasia untuk keluar pabila kemungkinan serangan musuh bisa tembus.

Selain itu, taktik gerilya yang dilakukan oleh para pejuang Antaludin juga seringkali membuat pemerintah kolonial kebingungan.

Benteng tersebut tidak pernah bisa direbut oleh pihak Belnda kecuali saat ditinggalkan oleh  para pejuang Antaludin untuk bergerilya ke berbagai lokasi pertempuran.

Mulanya, Benteng Madang hanya dibuat dari pohon. Belakangan, bangunan tersebut direnovasi dan dibentuk dari bahan semen yang  mirip seperti kayu. Selain itu juga dibangun tangga untuk menuju tempat tersebut tak kurang 400 buah anak tangga.

Dalam sejarahnya, tercatat ada lima kali serangan yang dilakukan oleh serdadu belanda dan semuanya dapat dikalahkan oleh pasukan Pangeran Hadayatullah dan Demang Lehman.

Berikut sejarah singkat kelima serangan itu;

3 September 1860

Saat itu pembangunan benteng belum selesai, namun tejadi serangan mendadak oleh serdadu Belanda yang bergerak dari Benteng Amawang. Belanda menyelusuri Desa Karang Jawa dan Desa Ambarai langsung menuju Gunung Madang, namun sebelum sampai di puncak gunung, dengan gagah berani pejuang Antasari melakukan serangan balik mendadak yang mengakibatkan banyaknya korban di pihak Belanda.

Belanda akhirnya mundur dan kembali ke Benteng Amawang di Kandangan.

5 September 1860

Belanda kembali menyerang. Kali ini pemimpin mereka Letnan De Bouw dan Sersan De Varies terkena tembakan yang menyebabkan pihak Belanda mengalami kekalahan kembali.

13 September 1860

Belanda kembali menyerang. Kali ini dipimpin oleh Kapten Koch ,ini merupakan pertempuran yang terjadi dalam jarak dekat, namun pangeran Antaludin dan Demang Lehman dengan berani melayani pertempuran yang lagi-lagi menyebabkan Belanda terpaksa mundur dan kembali ke Benteng Amawang.

18 September 1860

Belanda tidak mau kecolongan lagi. Dipimpin oleh Mayor Schuak dari infantri Batalyon ke 13 serta di bantu oleh kapten Koch dan Letnan Verspyck. Mereka membawa “heuwitser”, sejenis meriam berat dan mortir Belanda menyerang dengan kekuatan yang besar.

Namun Pangeran Antaludin dan Demang Lehman tidak gentar menyambut serangan Belanda tersebut. Malahan dengan sikap percaya diri dari para pejuang Antaludin berhasil menembak mati Kapten Koch dan Letnan Verspyck.

Melihat komandannya tewas serdadu Belanda kebingungan karena tidak ada yang memimpin di medan perang.

Belanda mengalami kekalahan dan akhirnya dengan membawa jasad pemimpinnya mereka mundur kembali ke Benteng Amawang.

Setelah serangannya gagal lagi, Belanda merencanakan strategi jitu untuk menaklukkan Benteng Madang.

Di pihak seberang, Pangeran Antaludin dan Demang Lehman juga menyiapkan siasat untuk menghindari serangan dari Belanda yang tentunya akan semakin dahsyat, mereka mendapatkan bantuan dari Kiai CakraWati, pahlawan wanita yang selalu menunggang kuda dari Gunung Pamaton. Mereka berencana untuk menyerang Belanda dan keluar dari benteng yang tentunya didak akan mungkin dapat dipertahankan secara terus menerus.

22 September 1860

Belanda berencana menyerang kembali Benteng Madang dengan berkaca pada kegagalan-kegagalan sebelumnya, dengan kekuatan tempur yang lebih besar.

Namun pada malam hari sekitar pukul 23.00 Pangeran Antaludin dan Demang Lehman beserta Kiai Cakrawati menyerang Belanda.

Karena serangan dilakukan secara mendadak, lebih lagi saat malam hari, komando Belanda kewalahan mengatasi gempuran pejuang Antaludin. Momen ini dimanfaatkan oleh Demang Lehman dan yang lainnya untuk mengosongkan benteng.

Keesokan harinya Belanda dengan rasa percaya diri menyerbu Benteng Madang dengan angkatan perang yang besar, tapi setelah sampai di sana mereka hanya menemukan benteng yang kosong dan tak berpenghuni.

Belanda akhirnya meninggalkan benteng dengan tangan kosong.

Setelah itu Pangeran Antaludin dan Demang Lehman melanjutkan peperangan melawan Belanda ke daerah yang lebih strategis. Sampai akhir hayatnya, Pangeran Antaludin dan Demang Lehman dikenal tidak pernah menyerah kepada Belanda.

Mereka punya semboyan Haram Manyarah Waja Sampai Ka Puting yang menjadi napas perjuangan masayarakat Kalimantan Selatan hingga sekarang.

Perang Banjar terjadi antara tahun 1859-1904 yang merupakan perang terlama di Nusantara dalam memerangi kolonial Belanda.

Museum Lambung Mangkurat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *