Simak Ceramah Ustaz Zainal Abidin Lagu Balonku dan Berbagai Tanggapannya

  • Whatsapp

Video ceramah Ustaz Zainal Abidin membuat Lagu balonku menjadi perbincangan publik. Ia menyebut bahwa ada ajakan membenci Islam dalam potongan liriknya. Beredar pula kabar menyebutkan bahwa lirik lagu Balonku telah sengaja diubah sehingga membuat kontroversi logika balon hijau yang meletus.

Versi Lirik Lagu Balonku

Setelah ditelusuri, lirik lagu Balonku memiliki dua versi. Lirik yang pertama adalah sebagai berikut:

Read More

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Merah, kuning, kelabu
merah muda dan biru
Meletus balon hijau DOR
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
kupegang erat-erat

Sementara lirik yang kedua adalah sebagai berikut:

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
hijau, kuning, kelabu
merah muda dan biru
Meletus balon hijau DOR
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
kupegang erat-erat

Ketika dilakukan penelusuran lebih lanjut, ditemukan bahwa ada dua orang yang berjasa di balik penciptaan lagu Balonku tersebut.

Menurut akun YouTube resmi Lagu Anak Indonesia Balita, disebutkan pencipta lagu anak tersebut adalah Soerjono atau Pak Kasur dan Abdullah Totong Mahmud atau AT Mahmud.

Lirik lagu Balonku mulanya diciptakan oleh Pak Kasur dengan komposisi awal potongan lirinya adalah “Merah, kuning, kelabu. Merah, muda, dan biru”.

Sementara itu, AT Mahmud menggubah liriknya menjadi “Hijau, kuning, kelabu. Merah muda dan biru”.

Berdasarkan penjelasan di atas, klaim yang menyebut bahwa lirik lagu Balonku sebenarnya “Merah, kuning, kelabu. Merah, muda, dan biru” adalah lirik menipu adalah klaim yang salah. Informasi itu merupakan kategori konten yang dinarasikan dengan cara yang salah atau false content.

Sumber asli: Suara.com

Klarifikasi Ustaz Zainal Abidin

Ustaz Zainal Abidin akhirnya memberikan klarifikasi terkait video ceramahnya yang diributkan oleh publik.

Dalam ceramah itu, Ustaz Zainal menyebut lagu Balonku ajarkan anak benci Islam, begitu juga dengan lagu Naik-Naik ke Puncak Gunung.

Dalam video itu, Ustaz Zainal mengatakan bahwa lagu anak-anak tersebut mengajarkan anak-anak membenci Islam. Kekinian, Ustaz Zainal telah memberikan klarifikasi.

Penjelasannya terdapat dalam video yang diunggah ke Youtube Tafaqquh Channel, Jumat (12/6/2020). Klarifikasi ini disampaikan Ustaz Zainal kepada Ustaz Fauzy Junaidi.

Ustaz Zainal berpendapat kritikan terhadap lagu-lagu, sudah biasa terjadi. Namun kali ini kritiknya terhadap lagu menjadi sorotan banyak orang karena ada nilai agama di sana.

“Tapi karena ada nilai sensi yaitu agama, makanya itu jadi perhatian netizen,” kata Ustaz Zainal, dikutip dari hops.id–jaringan Suara.com, Senin (15/6/2020).

Ia mengaku tidak mempermasalahkan siapa pencipta lagu anak-anak itu. Ustaz Zainal hanya ingin mengkritisi muatan yang terkandung dalam liriknya.

“Saya hanya mencoba menganalisis mengapa yang meletus balon hijau dan hatiku sangat kacau,” ucap Ustaz Zainal.

Menurutnya, penggalan lirik lagu “Balonku” itu mengandung kesan tentang Islam.

“Dari sini, ada satu kesan psikologis, bahwa hijau itu pasti Islam. Makanya lihat saja, warna-warna partai Islam, ya pasti hijau, warna-warna ke-islam-an itu menekankan hijau,” ucap Ustaz Zainal menjelaskan.

Ia khawatir anak-anak kecil yang mendengar lagu itu tertanam kesan warna hijau itu membuat kacau.

Ustaz Zainal mengaku belum pernah mendapatkan penjelasan yang meyakinkan atas kritik lagu “Balonku” tersebut sejak lama.

Ia juga menjelaskan bahwa dahulu ada ceramah yang juga mempertanyakan lirik lagu anak-anak itu.

Sedang untuk lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung”, Ustaz Zainal mengaku tak mengerti, mengapa sang penulis lagu lebih memilih pohon cemara ketimbang pohon lain yang lebih bernuansa Indonesia.

Hal itu, Ustaz Zainal berkeyakinan pasti lirik lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung” menyimpan maksud tertentu.

“Di Indonesia itu cemara langka sekali, mengapa malah jadi penekanan? Kita harus mengakui, kalau itu simbol agama tertentu. Di sini adanya pohon jati, pohon pisang atau pinus mungkin ada,” ujarnya.

“Kalau berpikir kritis itu bisa benar, bisa salah memang watak manusia. Tapi kalau berpikir kritis ini dihentikan maka itu maknanya mengebiri akademis seseorang,” imbuhnya.

Jika ada yang tidak setuju dengan kritiknya, Ustaz Zainal mempersilakan dirinya dibantah dengan cara yang akademis.

Sebelumnya, video berisi potongan ceramah Ustaz Zainal Abidin pada tahun 2018 lalu itu kembali viral setelah akun Twitter Peneliti Budaya Pesisiran, Rumail Abbas, mengunggahnya pada hari Kamis (11/6/2020).

Sumber asli: Suara.com

Benarkah lagu anak-anak punya muatan kebencian dan mengajarkan iman agama tertentu?

Sepanjang sejarahnya, lagu anak-anak memang punya maksud, pesan, dan fungsi tertentu. Dahulu lagu anak-anak termasuk dalam nyanyian rakyat. Artinya lagu itu menjadi milik bersama, penciptanya sering tak dikenal (anonim), dan dinyanyikan secara luas tanpa memperhitungkan latar belakang agama masyarakatnya.

Fungsi nyanyian rakyat ada banyak: relaksasi (menenangkan), edukatif (mendidik), dan rekreatif (menghibur). “Nyanyian rakyat yang berfungsi demikian itu adalah nyanyian jenaka, nyanyian untuk mengiringi permainan kanak-kanak, dan nyanyian Nina Bobo,” catat James Dananjaya dalam Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain.

Orang menyebut lagu anak-anak semacam itu sebagai lagu anak-anak tradisional. Liriknya sederhana, pendek, dan mudah dihafal. Ini berlaku umum di hampir tiap tempat. Lirik lagu anak-anak bisa berbeda dalam penceritaannya. Misalnya penggambaran orang sekitar, bentang alam, dan hewan-hewannya. Bergantung dari daerah mana lagu-lagu anak tradisional itu berasal.

Lagu Belanda dan Jepang

Keberadaan orang Belanda di Hindia menambah khazanah lagu anak-anak. Orang Belanda memperkenalkan lagu anak-anak melalui sekolah sejak awal abad ke-20.

“Lagu-lagu ini sudah tentu terutama ditujukan bagi anak-anak Belanda dan pada umumnya melukiskan alam dan perasaan bangsa Belanda pula,” ungkap J.A. Dungga dan L. Manik dalam “Lagu Anak-Anak” termuat di Musik di Indonesia dan Beberapa Persoalannja, terbitan 1952.

Dungga dan Manik menambahkan, sekalipun lirik lagu itu terasa janggal bagi orang dewasa anak negeri, tidak demikian bagi anak-anak Hindia berkulit cokelat. “Anak-anak kita menyanyikan lagu-lagu seperti Daar is mijn vaderlandLimburg dierbaar oord (Di sanalah negeriku, tanah tercinta di Limburg, red.), sebagai lagu-lagunya sendiri.”

Terlepas dari perkembangan rasa kebangsaan, Dungga dan Manik mengakui lagu-lagu anak berbahasa Belanda di sekolah mempunyai estetika cukup tinggi dan tahan uji. Para guru menyanyikan lagu itu untuk menghadirkan suasana gembira dalam sekolah.

Lagu-lagu anak berbahasa Belanda lenyap seiring kedatangan Jepang. Pemerintah Jepang mulai mengajarkan bahasa Jepang kepada anak-anak Indonesia. Berikut pula dengan lagu-lagunya.

Dungga dan Manik masih menyatakan lirik lagu-lagu itu termasuk cukup baik dan bermutu bagus untuk anak-anak. “Kita masih ingat bagaimana meriahnya anak-anak kita menyanyi di masa Jepang itu… Lagu-lagu ketika itu sangat merata ke segala lapisan dan pelosok.”

Masa-masa awal kemerdekaan hingga awal dekade 1950-an anak-anak kehilangan lagu khusus. Lagu anak berbahasa Belanda dan Jepang hilang.

Anak-anak masih bisa bernyanyi. Tetapi lagu-lagunya tak dibuat secara khusus. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sesekali kembali menyanyikan lagu tradisional. Tapi anak-anak tetap membutuhkan lagu gubahan baru. Sesuai dengan alam dan perasaan baru pada masa kemerdekaan.

Kelangkaan Lagu Anak

Kemudian sekolah menciptakan sendiri lagu anak-anak untuk mengatasi kekurangan lagu anak-anak. Tapi menurut Dungga dan Manik, lagu-lagu itu berlirik kurang sesuai dengan anak dan bermutu rendah. Karena lagu-lagu ini pada umumnya dibuat dengan tergesa-gesa dan didasarkan lebih banyak atas semangat membuat lagu daripada kecakapan membuat lagu.

Pertolongan datang dari Saridjah Niung. Perempuan ini kelak dikenal dengan nama Ibu Sud. Dia menciptakan lagu anak-anak seperti “Burung Ketilang”, “Menanam Djagung”, “Berkibarlah Benderaku”, dan “Naik Kereta Api”. Lirik lagunya pendek dan mudah dimengerti. Lagunya mampu menghadirkan rasa gembira bagi anak-anak dan mengajarkan cinta tanah air.

Selain Ibu Sud, di tengah krisis lagu anak-anak,Soerjono atau Pak Kasur menciptakan “Selamat Sore Pak, Selamat Sore Bu”, “Naik Delman”, “Lihatlah Benderaku”, dan “Tetap Merdeka”. Lagu-lagu itu berlirik singkat dan bersuasana gembira, seperti lagu karya Ibu Sud. Selamatlah anak-anak Indonesia dari merapal lagu-lagu asmara untuk orang dewasa.

Ibu Sud dan Pak Kasur memahami bagaimana mencipta lagu anak-anak. Mereka berpendapat lagu anak harus memiliki fungsi, pesan, dan maksud tertentu. Fungsinya bisa sebagai pengiring anak masuk sekolah, berisi pesan memperkenalkan hewan dan alat transportasi, atau bertujuan menumbuhkan rasa cinta kepada keluarga dan orang lain. Dengan demikian, lagu ikut menyumbang pertumbuhan jiwa anak-anak yang sehat dan baik.

Kesungguhan Penciptaan

Tapi menciptakan lagu anak-anakbukanlah perkara mudah. Fungsi, pesan, dan maksud yang ideal itu harus dibungkus dalam sebuah lagu yang sederhana dan ringan. Menyederhanakan sesuatu yang rumit selalu menjadi pekerjaan yang sulit. Sementara mengentengkan yang berat selalu membutuhkan usaha yang kuat. Apalagi jika hal itu ditujukan untuk anak-anak.

“Selain memerlukan kematangan dalam soal-soal pendidikan, ia juga meminta kecakapan dalam lapangan cipta-mencipta,” terang Dungga dan Manik. Keduanya benar. Begitulah proses kreatif para pencipta lagu anak-anakseperti Ibu Sud dan Pak Kasur. Mereka menghabiskan energi, pikiran, dan waktunya untuk mengisi segala kebaikan dan manfaat dalam lagu anak-anak.

Ibu Sud mempertimbangkan secara saksama lema, intonasi, dan nada lagu anak-anak. “Demikian pula mengenai syairnya, hendaknya sederhana, mudah dimengerti, dan jangan terlalu panjang sesuai dengan daya tangkap anak. Harus pula mampu menembus sanubari segala usia dari anak sampai orang dewasa,” kata Ibu Sud dalam Kompas, 27 Agustus 1980.

Pak Kasur pun mempunyai proses kreatif serupa. Dia menimbang banyak hal sebelum mencipta lagu anak-anak: tema, irama, dan nilai estetisnya. “Nadanya disesuaikan dengan tenggorokan dan pernapasan anak sehingga anak akan dengan mudah menghafalnya,” catat Ismi Nur Solikhati dalam “Peranan Pak Kasur dalam Pendidikan di Indonesia (1950–1992)”, skripsi pada Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia.

Dari penelusuran ini, para pencipta lagu anak-anakyang andal dan berintegritas mustahil membuat lagu anak sebagai alat penebar benih kebenciandan pemecah belah umat beragama.

Sumber Asli: historia.id

Tanggapan NU Garis Lucu Soal Lagu Balonku Kapir

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *