Sinoman Hadrah; Seni Tari Bernapaskan Islam dari Banjar

  • Whatsapp
Sinoman Hadrah; Seni Tari Bernapaskan Islam dari Banjar
Sinoman Hadrah | Humaidi Murjani

SINOMAN HADRAH, tarian khas Banjar yang memadukan antara Budaya dan Agama, mulanya adalah produk budaya yang dibawa oleh pedagang dan pendakwah Islam dari Arab serta Parsi yang bercampur dengan budaya masyarakat Kalimantan.

Menurut Moh. Amin, dalam Anita, 2005, mengatakan: di dalam Zikir Hadrah hanya melantunkan pujian-pujian terhadap Allah swt dan Nabi Muhammad saw, seni hadrah berupa tarian rudat dengan iringan musik dan lantunan puji-pujian terhadap Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Gerakan yang digunakan juga sederhana, gerakan tari yang mencerminkan gerak keseharian seperti gerak azan, berwudu, shalat, dan bunga-bunga silat. Dalam perkembangan selanjutnya, sinoman hadrah mengalami banyak penyempurnaan dari segi tarian dan busana.

Read More

Dalam Depdikbud (1998) penamaan Sinoman Hadrah terdiri dari 2 kata yaitu “Sinoman” dan “Hadrah”. Sinoman artinya adalah kelompok qasidah, sedangkan Hadrah artinya hadir (diambil dari kosa kata Arab).

Seni tari yang sejak tahun 2017 masuk dalam warisan budaya tak benda dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini merupakan permainan musik terbang sederhana, baik pola pukulan dari masing-masing alat musik maupun lagunya. Syair lagu terbang hadrah biasanya berupa syair-syair sholawat atau nasihat berbahasa Arab dan Bahasa Indonesia.

ALAT MUSIK PENGGIRING DAN PERLENGKAPAN SINOMAN HADRAH

Seperti lazimnya tarian lain, sebuah tarian tak lengkap rasanya tanpa ada musik penggiring yang menggerakkan dan menghidupkan suasana para pelakunya. Dalam Sinoman Hadrah, alat musik yang digunakan adalah rebana, babun, ketipung, tamborin, dan beberapa alat musik lain yang sekiranya cocok disatukan dengan syair-syair shalawat.

Bersamaan dengan itu, para pelaku Sinoman Hadrah yang biasanya terdiri dari lima-enam orang penyair serta penabuh rebana juga memakai pakaian berwarna kuning dibalut dengan untaian bunga–warna khas Banjar. Selain itu, dalam Sinoman Hadrah juga terdapat payung besar berhias yang diputar-putar oleh satu orang dan bendera-bendera kecil yang dipegang oleh para penari lain yang berjumlah 10-30 orang (tergantung berapa jumlah penarinya).

PELAKSANAAN SINOMAN HADRAH DI ZAMAN SEKARANG

Kendati seni ini terbilang mulai tergerus zaman, tapi ia masih tetap dilaksanakan di berbagai wilayah di Kalimantan Selatan, terutama di Martapura dan sekitarnya. Kesadaran untuk melestarikan Sinoman Hadrah (dan tradisi-tradisi lain) yang belakangan ‘melanda’ berbagai kalangan baik dari instansi pemerintahan atau komunitas kesenian kampus/sekolah bahkan menjadi angin segar untuk tradisi Banjar baik sinoman hadrah atau kesenian lainnya.

Seni pertunjukan tari ini acapkali dilaksanakan di acara-acara instansi pemerintahan atau swasta, hajatan warga seperti resepsi pernikahan, atau bahkan lomba yang dikhususkan untuk para penggiat Sinoman Hadrah di Kalimantan Selatan.

Museum Lambung Mangkurat

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *