Tanggal Tua dalam Formalisme

  • Whatsapp
Puisi Tanggal Tua

Membicarakan puisi, tentu saja tidak dapat lepas dengan pembahasan mengenai larik dan bait yang ada di dalamnya. Setiap larik dan bait memiliki makna tersirat jika kita melakukan penelusuran lebih jauh melalui sebuah kritik sastra. Dalam kritik sastra tersebut, puisi akan dikaji dan ditafsirkan berdasarkan pendekatan tertentu. Pada kesempatan ini, saya tertarik untuk membaca puisi dari Rizky Burmin. Penyair yang satu ini sudah banyak menyebar karyanya ke berbagai media daring. Adapun puisi yang ingin saya baca dengan pendekatan formalisme berjudul Tanggal Tua

Ketika kita membaca judulnya saja, mungkin sudah terlintas di kepala kita tentang situasi ekonomi yang menipis di akhir bulan atau dapat juga berarti belum mendapatkan gaji bulanan. Namun pembahasan kita tidak hanya sampai di situ. Mari kita perhatikan isi puisinya.

Read More

 

angka-angka di kalender

meletakkan tanda tanya

di kedua bola matamu

pampers dan susu?

 

harta karun terakhir

selalu hadir ketika getir

 

koin receh dalam botol aqua

kau plester dan kubawa

kubelikan sarimi isi dua

 

corona dalam saku celana

terasa menusuk-nusuk

hei, apakah gaji sudah masuk?

 

Banjarbaru, 2020

 

Pada bait pertama, penulis dengan jelas memasukkan majas personifikasi dalam lariknya, majas yang menggambarkan benda mati dapat bertindak seperti manusia. Perhatikan larik “angka-angka di kalender/ meletakkan tanda tanya/ di kedua bola matamu/” yang membuat angka-angka di kalender itu seolah hidup dan bertindak.

Kemudian pada larik “di kedua bola matamu” penggunaan kata ganti –mu di sini bukan ditujukan kepada Tuhan atau pembaca, melainkan kepada mitra tutur aku lirik. Bait pertama juga memperlihatkan situasi rumah tangga di akhir bulan yang sedang kekurangan uang, hal tersebut ditegaskan dengan larik “pampers dan susu?” yang seringkali menjadi kebutuhan mendasar bagi pasangan yang baru punya anak.

Kecermatan penulis dalam menentukan diksi dan rima terlihat pada bait kedua ini. Coba perhatikan “harta karun terakhir/ selalu hadir ketika getir.” Penggunaan akhiran bunyi yang sama membuat daya tarik tersendiri ketika kita membacanya.

Maksud harta karun terakhir di sini barangkali uang simpanan atau uang sisa yang dimiliki. Hal tersebut didukung lagi dengan bait ketiga yang memiliki korelasi kuat dengan bait sebelumnya. Mari kita lihat “koin receh dalam botol aqua/ kau plester dan kubawa/ kubelikan sarimi isi dua.” Larik-larik tersebut membuat pembaca dapat membayangkan betapa kelamnya kehidupan aku lirik di akhir bulan.

Aku lirik harus memakai uang yang disimpannya di botol aqua untuk membeli makanan. Karena pecahan koin tersebut kecil, kau lirik harus mengumpulkan dan memplester pecahan koin tersebut agar memudahkan saat membeli. Bahkan yang dibeli pun sarimi isi dua, pemilihan produk mie tersebut barangkali karena favorit aku lirik ataupun isinya yang lebih banyak dari produk mie lainnya.

Pada bait terakhir, penulis menggunakan kata ‘corona’ untuk menggambarkan situasi yang sulit atau serba krisis. Bukan ‘corona’ dalam pengertian dunia medis. Bahkan di larik kedua pada bait ini, penulis menggunakan pengimajian taktil, imaji yang membuat pembaca seolah merasakan situasi yang terjadi dalam puisi. Corona dalam saku celana itu terasa menusuk-nusuk. Sampai-sampai di larik selanjutnya, aku lirik mempertanyakan lagi gaji yang sangat ia tunggu untuk mengakhiri kesuraman yang tergambar di bait-bait sebelumnya.

Setiap kata, larik, ataupun bait yang ada dalam puisi berjudul Tanggal Tua karya Rizky Burmin ini memiliki makna yang mendalam. Terlepas dari hubungannya dengan hal-hal yang ada di luar sana, kajian formalis lebih mementingkan pola-pola bunyi dan bentuk formal yang membangun puisi Tanggal Tua tersebut dalam versi Rizky Burmin.

Reza Syarief
Latest posts by Reza Syarief (see all)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *