Tentang Pertemuan dan Luka Setelah Bahagia Kita Berakhir

  • Whatsapp
Tentang Pertemuan dan Luka Setelah Bahagia Kita Berakhir

MESKI hujan, tidak ada janji yang kita batalkan malam ini. Sebab, kukira, semua janji kita, entah yang sudah atau yang belum diucapkan sama sekali, telah menemui ajalnya ketika kita memutuskan untuk tak lagi bertegur sapa.

Read More

Yang tidak kau ketahui, selepas kepergianmu itu, aku sering menanyakan hal-hal yang kurasa menjemukkan bahkan bagi diriku sendiri: kenapa kita bertemu? Mengapa kita lantas berpisah?

Pertanyaan-pertanyaan itu melontarkanku pada parasmu waktu kali pertama bertemu, warna baju, tatap mata, atau bahkan sepoi angin yang menerbangkan helai-helai rambutmu.

Setelah pertemuan itu, duniaku sepenuhnya berubah. Kamu menjadi kiblat untuk semua tawa dan keluh kesahku yang bahkan terlalu membosankan untuk didengarkan sebagai dongeng pengantar tidur.

Apa kamu mengingatnya?

Bahwa tidak pernah ada ikatan yang bisa kita pastikan di antara kita berdua barangkali bukan masalah besar untukmu hari itu. Tapi, apakah kau tahu, sesuatu yang bagimu tidak penting itu justru sangat berarti bagiku.

Apa kau pernah tahu perasaanku?

Di hari ketika aku mencecarmu dengan pertanyaan tentang ikatan itu. Kau berpaling. Mungkin terluka. Atau tak percaya. Entahlah.

“Tidak seharusnya kau punya perasaan itu,” jawabmu.

Aku termenung dan menyesal dalam waktu yang sama.

Hari-hari setelahnya lebih banyak kita habiskan dalam kebisuan. Aku canggung, kau berusaha menjauh dalam langkah mundur yang lamban.

Pada saat akhirnya kita sepenuhnya tak lagi saling berbagi tawa di penghujung hari, kau mengirimkan satu tanya padaku. Hanya satu tanya–pertanyaan yang bahkan sampai hari ini tak bisa kujawab.

“Tidak adakah yang lebih buruk dari mengungkapkan perasaan kepada temanmu sendiri?”

Kenapa kita bertemu? Mengapa kita lantas berpisah dengan cara seperti ini?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *